DFA

Wawancara Soal Papua dengan Dewi Fortuna Anwar

“Persoalan Papua Kompleks”

 

Jakarta, MAJALAH SELANGKAH — Persoalan tanah Papua (Provinsi Papua dan Papua Barat) banyak dan kompleks. Salah satu masalah utama adalah keinginan rakyat Papua untuk merdeka di luar Republik Indonesia. Keinginan rakyat Papua untuk merdeka didorong oleh empat hal utama.

 

Ada yang memandang merdeka itu hak, ada yang mengatakan latar belakang sejarah yang berbeda, ada juga yang bilang karena ada pelanggaran HAM, lain lagi mengatakan tidak ada keadilan pembangunan selama 50 tahun lebih bergabung dengan Indonesia.

 

DFAFoto: Prof. Dr. Dewi Fortuna AnwarSejak tahun 1969, pemerintah Indonesia tidak tinggal diam. Ia melakukan pendekatan keamanan dan pendekatan pembangunan untuk mengatasi kompleksitas masalah di Papua, termasuk keinginan merdeka. Tentu, banyak kemajuan telah dicapai. Namun demikian, kompleksitas masalah seakan tak kunjung berakhir, termasuk tuntutan Papua merdeka.

 

Pada tahun 2001, pemerintah Indonesia memberikan Otonomi Khusus bagi Provinsi Papua sebagai kebijakan win-win solution. Otonomi Khusus  mengamanatkan peninjauan sejarah, penyelesaian pelanggaran HAM masa lalu, dan keadilan pembangunan (pendidikan, kesehatan, ekonomi, infrastruktur, sosial budaya dan lainnya. Secara spesifik pemerintah di Papua diamanatkan melakukan keberpihakan, pemberdayaan, dan perlindungan bagi orang asli Papua.

 

Namun, selama 10 tahun implementasi Otonomi Khusus, pemerintah Indonesia, oleh rakyat Papua dianggap belum sepenuhnya melakukan tiga amanat penting itu dengan konsisten dan konsekuen.

 

Peninjauan sejarah dan penyelesaian pelanggaran HAM masa lalu belum disentuh selama 10 tahun. Bahkan, aspek keadilan pembangunan pun sebagian masyarakat Papua merasa pemerintah di Papua tidak berpihak, tidak memberdayakan dan proteksi  lemah.

 

Lalu, muncul wacana dialog Jakarta-Papua. Jaringan Damai Papua (JDP) melalukan sosialisasi di hampir seluruh kabupaten di tanah Papua dan akhirnya menetapkan lima orang juru runding.

 

Sementara itu, para tokoh agama di Papua bertemu Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) untuk bicara soal kemungkinan dialog. SBY menjanjikan akan dilakukan komunikasi konstruktif.

 

Di sisi lain, secara resmi SBY membuat Unit Percepatan Pembangunan Papua dan Papua Barat (UP4B) untuk mendorong percepatan pembangunan di tanah Papua. UP4B dipimpin Bambang Darmono.

 

Selanjutnya, Bambang Darmono melakukan koordinasi dengan antarpihak untuk percepatan pembangunan di tanah Papua. Namun, penolakan  atas UP4B tidak bisa dihindarkan, juga sebagian bupati menganggap UP4B mengintervensi kebijakan mereka. Saat yang bersamaan, teriakan dialog terus terdengar setiap saat. Gerakan-gerakan yang meminta referendum terus meningkat di Papua, dari Komite Nasional Papua Barat (KNPB) misalnya.

 

Kompleksitas masalah di Papua, terutama intensitas politik selama tahun 2012 meningkat. Operasi penembakan oleh Orang Tak Kenal (OTK) meningkat hingga menewaskan masyarakat  sipil yang tak berdosa. Sementara, sekitar 15 polisi tewas dan lebih 22 anggota KNPB dilaporkan terbunuh selama 2012.  

 

Dalam kondisi ini, Papua terisolasi dari orang asing. Sejak tahun 1969, jurnalis asing dibatasi dengan alasan keamanan. Belum lama ini, jurnalis Aljazzera merilis kondisi Papua.

 

Indonesia  bereaksi keras atas penayangan film dokumenter Papua berjudul Goodbye Indonesia di TV Aljazeera itu. Dinilai, berita tersebut tidak berimbang dan tidak objektif. Dewi Fortuna Anwar, Deputi Sekretaris Wakil Presiden Indonesia Bidang Politik mengklarifikasi pemberitaan tersebut.

 

Apa pandangan Ibu Dewi tentang persoalan Papua?

Dewi Fortuna Anwar lahir pada tahun 1958. Dia menyelesaikan studinya di School of and African Studies (SOAS), the University of London dan meraih PhD dari Monash University, Melbourne, Australia.

 

Majalahselangkah.com melakukan wawancara melalui telepon seluler dengan Ibu Dewi Fortuna Anwar, Minggu, (3/2) malam. Ada enam pertanyaan utama  yang diajukan majalahselangkah.com.

 

Sumber: http://majalahselangkah.com/content/wawancara-soal-papua-dengan-dewi-fortuna-anwar

Scroll to Top