Simpeda

Simpeda Dukung Dialog Jakarta-Papua

SimpedaSimpeda Saat Menggelar Konferensi Pers, Senin siang (Jubi/Timo)Jayapura, (28/1) — Simpul Mahasiswa Peduli Damai (Simpeda) Papua menyatakan dukungannya terhadap dialog antara pemerintah pusat dengan orang Papua. Dialog  yang digagas Jaringan Damai Papua (JDP) untuk menemukan situasi yang damai di Papua juga didukung Simpeda.

 

Dalam konferensi pers di kantor Majelis Muslim Papua (MMP) di Padang Bulan, Kota Jayapura, Papua, Senin (28/1), setidaknya beberapa indikator akar konflik yang ditemukan Simpeda sesuai catatan ilmiah LIPI (Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia), yaitu, status politik dan konstruksi sejarah, kegagalan pembangunan, kekerasan negara dan pelanggaran HAM, serta marjinalisasi dan diskriminasi di Tanah Papua.

 

“Inilah sumbangan postiif kami untuk JDP dalam mensukseskan dialog Jakarta-Papua. Langkah JDP adalah langkah konstruktif yang harus direspons oleh seluruh komponen,” kata Ardon Etus Nauw, Koordinator Simpeda Papua, Senin(28/1) siang.

 

Untuk menyelesaikan pelanggaran HAM di Papua, menurut Simpeda, perlu adanya pendekatan kekeluargaan dan budaya sesuai kearifan lokal di Papua. Bukan pendekatan politik.

 

“Dalam dialog, tidak ada unsur kekerasan. Kami dukung dialog itu,” kata Fajar anggota Simpeda. Menurut Simpeda Papua, dalam dialog yang dimaksud, sedianya semua komponen harus dilibatkan agar menemukan solusi yang terbaik untuk orang Papua dan pemerintah Indonesia.

 

“Sebelum dialog, kumpulkan semua komponen di Papua,” ujar Soepati, dari Simpeda. Namun, kecuali itu, menurut Simpeda, indikator Papua tanah damai bukan sekadar kajian ilmiah, tetapi lahir dari pemikiran kritis atas pengalaman yang terjadi di Papua selama ini.

 

Selanjutnya, Simpeda Papua mendesak pemerintah daerah untuk konsisten terhadap penegakan hukum yang bermartabat, memberantas minuman keras, narkoba, tata kelola pemerintahan yang baik, dan mewujudkan kesejahteraan dan ekonomi yang menyeluruh.

 

Kepada masyarakat, Simpeda mendesak untuk meningkatkan pemahaman terhadap nilai agama dan budaya, menjaga komunikasi dan interaksi antarbudaya dan agama.

 

“Serta mewujudkan penghormatan terhadap nilai-nilai budaya dan kearifan lokal yang ada, menunjukkan sikap dan kepribadian yang baik. Membangun hubungan organisasi sosial dan keagamaan yang partisipatif,” lanjut Ardon membacakan pres rilisnya.

 

Dengan adanya dukungan dan desakan tersebut, Simpeda menyatakan, mahasiswa Papua masih ada dan kritis menyikapi setiap fakta sosial yang terjadi. (Jubi/Timoteus Marten)

 

Sumber: http://tabloidjubi.com/?p=10842

Scroll to Top