yanwarinusi

Semakin Banyak Orang Papua Bicara Pentingnya Dialog

yanwarinusiFoto: Yan Christian Warinussy, SHPerkembangan menarik terjadi dalam 1 [satu] tahun terakhir ini, mulai banyak orang Papua, baik kalangan akademisi, praktisi, ilmuwan, bahkan anggota Dewan Perwakilan Daerah [DPD] dan Dewan Perwakilan Rakyat [DPR] asal Papua dan Papua Barat maupun beberapa tokoh masyarakat berbicara tentang pentinya Dialog Papua-Indoensia sebagai cara untuk menyelesaikan masalah di Tanah ini, semisal Saudara saya Agustinus isir [Tokoh Pemuda Papua] dalam Surat Kabar Harian Radar Sorong, Sabtu [01/12] halaman 1-2.
 
Dalam pernyataannya, Isir mengatakan bahwa solusi yang tepat untuk menyelesaikan permasalahan di tanah Papua adalah dengan menggelar dialog nasional dan internasional, sebaba menurutnya jika dialog tidak dilakukan , maka masalah di tanah ini tidak akan pernah selesai. Menurut saya sebagai salah satu Advokat senior dan aktivis Hak Asasi  Manusia bahwa bagaimanapun juga pemerintah Indonesia di baah kepemimpinan Presiden DR.H.Susilo Bambang Yudhoyono semestinya segera mengambil langkah-langkah penting dalam mendorong digerlarnya Dialog Papua-Indonesia tersebut.
 
DPR dan DPD, khususnya para utusan dari Papua dan Papua Barat yang bergabung di dalam kaukus Papua sudah saatnya menyadari sungguh bahwa ide digelarnya dialog sebagai alternatif cara dalam upaya mencari penyelesaian atas berbagai masalah di Tanah Papua, utamanya kekerasan yang terus meningkat hingga jelang akhir tahun 2012 ini adalah Dialog Papua-Indonesia. Sehingga saya mendesak para anggota Kaukus Papua untuk segera melakukan komunikasi intensif dan terbatas dengan Jaringan Damai Papua [JDP] di bawah pimpinan Pater DR.Neles Tebay, guna merumuskan agenda dan format dari Dialog yang dimaksud.
 
Saya ingin menegaskan bahwa Dialog adalah media atau cara untuk menyelesaikan berbagai masalah yangs edang dihadapi oleh rakyat dan pemerintah serta semua pihak yang berkepentingan di Tanah Papua, jadi dialog sbeenarnya bukan merupakan tujuan, ini perlu dipahamid an disadari sungguh sejak awal oleh semua pihak yang hendak terlibat dan dilibatkan di dalam penyelenggaraan dialog itu sendiri. Dialog sebagaimana diketahui adalah merupakan langkah awal dari sebuah proses mencari cara untuk menyelesaikan sebuah masalah. Jadi Dialog bukan akhir dari perjalanan.  Dialog juga merupakan tempat bertemunya para pihak yang bertikai, seperti TPN/OPM dan TNI-POLRI serta pemerintah Indonesia dan berbagai kelompok resisten di Tanah Papua. Pertemuan antar berbagai kelompok yang bertikai tersebut dapat terjadi melalui perwakilan-perwakilan yang ditunjuk oleh para pihak tersebut. Perlu diketahui pula bahwa karena dialog merupakan tempat bertemunya para pihak yang bertikai, maka sudah pasti akan ada fasilitator, mediator atau peninjau, yang akan sangat tergantung pada kesepakatan para pihak tersebut.
 
Mengenai apa yang menjadi agenda dan materi yang mesti dibicarakan di dalam dialog itu nantinya, saya berpendapat bahwa ini sangat ditentukan oleh para pihak yang bertikai selama ini di Tanah Papua, tentu ada tawaran paling tinggi dan tawaran paling rendah serta tawaran tengah-tengah yang bersifat mengakomodir kepentingan dan pandangan serta ideoligi dari para pihak tersebut yang membutuhkan diskusi yang sangat mendalam dan saling menerima serta saling memahami dan saling percaya.
 
Yan Christian Warinussy, SH
Direktur Eksekutif LP3BH Manokwari/Penerima Penghargaan Internasional di Bidang Hak Asasi Manusia [John Humphrey Freedom Award] Tahun 2005 dari Canada/Pekerja HAM di Tanah Papua/Anggota Steering Committee Forum Kerjasama [Foker] LSM se Tanah Papua….(kw/via email)

 

Sumber:http://papuaone.blogspot.com/2012/12/semakin-banyak-orang-papua-bicara.html

 

 
Scroll to Top