muridan widjojo

Rumuskan Dialog Jakarta-Papua

muridan widjojoKasus Penembakan Kembali Terjadi

Merauke, Kompas – Untuk mewujudkan dialog antara pemerintah pusat dengan seluruh elemen masyarakat di Papua perlu segera dirumuskan bersama isi dan format dialog. Dialog merupakan jalan damai dan bermartabat untuk mengakhiri kekerasan dan menyelesaikan berbagai masalah di Papua.

 

Koordinator Jaringan Damai Papua di Jakarta yang juga Koordinator Tim Kajian Papua Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, Muridan S Widjojo, di Merauke, Papua, Rabu (29/8), mengatakan, dialog telah disepakati sebagai jalan damai untuk menyelesaikan berbagai masalah di Papua meskipun masih ada pihak-pihak yang berkeberatan.

”Sekarang yang menjadi agenda berikutnya adalah dialog itu isinya apa? Itu harus dibicarakan bersama,” tuturnya.

 

Muridan mengatakan, selain isi dan format dialog, yang masih menjadi pekerjaan rumah mewujudkan dialog adalah siapa yang akan mewakili orang Papua maupun faksi-faksi politik apa yang akan terlibat dalam dialog. Jaringan Damai Papua telah bertemu tokoh-tokoh Papua dan berbagai elemen masyarakat asli Papua maupun pendatang guna meyakinkan dialog adalah jalan keluar masalah.

”Hakikat dialog adalah menyelesaikan masalah Papua secara legitimate. Keputusan-keputusan itu merupakan keputusan bersama bukan sepihak. Ini penting karena selama ini keputusan yang terkait masa depan Papua selalu diputuskan secara sepihak,” kata Muridan dalam Forum Kajian Indikator Papua Tanah Damai.

Menurut Muridan, ada persoalan mendasar di Papua, yakni tidak adanya kepercayaan antara pemerintah pusat dengan masyarakat Papua. Kedua pihak saling mencurigai. Sejak integrasi telah terjadi siklus kekerasan yang tidak pernah kunjung selesai. Kekerasan itu dilakukan oleh militer, polisi, maupun OPM. Akibatnya, pembangunan di Papua tidak berjalan. ”Ada kebuntuan politik. Ketidakpercayaan antara pemerintah pusat dengan rakyat Papua sangat tinggi,” ujarnya.

Muridan mengatakan, melalui jalan dialog konflik di Aceh bisa diselesaikan. Maka penyelesaian persoalan di Papua pun bisa diselesaikan dengan dialog. Untuk itu dibutuhkan sikap negarawan dari para pemimpin di pemerintah pusat.

 

Diungkapkan dia, masih ada keraguan beberapa pihak, jalan dialog mampu menyelesaikan persoalan. Ada kekhawatiran apabila dialog digelar maka yang disampaikan adalah aspirasi Papua merdeka.

”Kalau memang ada aspirasi merdeka, kita bicarakan. Mengapa merdeka? Aceh juga minta merdeka. Kita belajar dari Aceh. Bangsa yang besar ini bisa menyelesaikan masalah yang paling berat di Aceh itu dengan dialog dan itu berhasil,” ungkapnya.

Direktur Aliansi Demokrasi untuk Papua Anum Siregar mengatakan, tidak ada contoh di manapun dialog akan membawa hasil akhir merdeka. Karena itu, tidak perlu resisten dengan dialog sebagai jalan untuk mencari solusi persoalan di Papua. ”Dialog adalah salah satu solusi. Banyak solusi yang ditawarkan. Tetapi dialog adalah solusi yang antikekerasan,” ujarnya.

Penembakan

Di tengah upaya mewujudkan dialog Jakarta-Papua, terjadi kasus penembakan di Kabupaten Puncak Jaya, kemarin. Orang tak dikenal menembaki iring-iringan kendaraan pengangkut bahan pokok yang melintas dari Wamena menuju Mulia, Kabupaten Puncak Jaya.

 

Menurut keterangan Kepala Penerangan Kodam XVII Cendrawasih Letkol Jansen Simanjuntak, penembakan terjadi sekitar pukul 17.15 WIT, tak jauh dari jembatan besi di Kampung Tingginambut, Kabupaten Puncak Jaya.

Penembak melepaskan tiga kali tembakan ke arah iring-iringan kendaraan itu. Dalam penembakan itu, seorang pengendara mobil, Kasera (30), luka tembak pada leher kiri tembus ke kanan dan dada. ”Korban dievakuasi ke Rumah Sakit Umum Mulia. Kondisinya kritis,” kata Jansen.

 

Akibat penembakan itu, pengangkutan bahan pokok ke Mulia untuk sementara terhenti. ”Para sopir menunggu situasi kembali aman,” kata Hadi, sopir di Wamena.

Dalam situasi aman, para pemilik kios di Mulia menggunakan jasa sopir angkutan untuk mengirim pasokan dari Wamena menuju Mulia. Para sopir itu berjalan beriringan dalam kelompok kecil dari Wamena menuju Ilu, yang berjarak kurang lebih dua jam perjalanan dari Mulia. (rwn/jos)

 

Sumber tulisan Kompas, Jumat, 31 Agustus 2012

 

Scroll to Top