Dialog Jakarta-Papua Tak Cukup Sekali

Peneliti Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Muridan S Widjojo, menilai, dialog Papua-Jakarta yang akan dilakukan membutuhkan waktu yang panjang. Selain itu, dialog tersebut tidak akan cukup dilakukan hanya sekali.“Memang perlu waktu dan tak cukup sekali. Kepentingan Papua-Jakarta juga belum jelas,” kata Muridan dalam diskusi dan peluncuran buku bertajuk Melawan Penindasan dan Diskriminasi di Papua di Tugu Proklamasi, Jakarta, Jumat, 29 Juni 2012. Hal yang sama diungkapkan peraih Yap Thiam Hien Award 2009, Pastor Yohanes Jonga. Menurut dia, untuk mencapai dialog seperti yang diharapkan, perlu ada persatuan dari elemen-elemen masyarakat Papua. Elemen-elemen ini adalah tokoh masyarakat Papua, pengusaha, TNI-Polri, pemda, pemprov, pemerintah pusat, paguyuban masyarakat pendatang di Papua, serta anggota OPM baik yang ada di dalam maupun luar negeri.  “Persatuannya kurang, karenanya orang Papua belum siap untuk dialog,” ujar Pastor Yohanes Jonga.

 

Belum Ada Tokoh Kuat di Papua
Sementara itu, Wakil Ketua SETARA Institute, Bonar Tigor Naipospos, menilai tak mudah merealisasikan dialog di Papua. Sebab, Papua belum memiliki tokoh yang dianggap bisa mewakili keinginan warga setempat. “Papua masih berproses, belum ada parpol dan orang yang dianggap mewakili rakyat Papua,” kata Bonar. Dia memaparkan, untuk merealisasikan dialog tersebut, harus ada pra kondisi yang disiapkan agar dialog berjalan sesuai apa yang diharapkan. Menurut dia, kekerasan yang terjadi di Papua harus dikondisikan agar tidak kembali terjadi. “Badan semacam UP4B harus diberikan mandat yang kuat, dan figurnya harus punya keeksentrikan yang kuat,” katanya. Selain itu, perlu ada keterlibatan lembaga mediasi yang benar-benar independen. Kelompok perlawanan di Papua, lanjut Bonar, juga harus menanggalkan senjata. “Dialog harus tanpa syarat, setara, jangan sebelum dialog sudah ada syarat misalnya, jangan merdeka atau semacamnya,” ucapnya. (art)

 

Sumber: http://nasional.news.viva.co.id/news/read/331252-dialog-jakarta-papua-tak-cukup-sekali

 

Scroll to Top