Akademisi-Universitas-Cenderawasih-Nomensen-Mambraku-236x250

Perlu Teori Komunikasi Dialog Jakarta Papua

Akademisi-Universitas-Cenderawasih-Nomensen-Mambraku-236x250Jayapura, 5/3 (Jubi) —Akademisi Universitas Cenderawasih, Nomensen Mambraku mengakatakan dialog Jakarta Papua yang belum dijadwalkan kepastiannya, mestinya menggunakan teori komunikasi, substansinya membentuk juru runding bagi kedua pihak yang ikut berdialog dan kemudian menyepakati pihak ketiga sebagai monitor.

 

“Ada kekhawatiran dialog Jakarta Papua berujung konflik. Mempertimbangkan keselamatan dalam dialog tersebut, diperlukan teori komunikasi yakni kedua pihak, juru runding Jakarta dan Papua menunjuk pihak ketiga yang netral untuk memantau dialog. Guna memastikan dialog ini, orang Papua harus mendesak karena orang Papua sebagai korban,” katanya, Selasa (5/3) di Jayapura.

 

Pihak ketiga yang disertakan dalam dilog Jakarta Papua adalah mereka yang memantau jalanya dialog, hasil dan keputusan dari dialog.

 

Menurutnya, dialog Jakarta Papua tidak bisa hanya dilakukan kedua pihak, Jakarta dan Papua. “Sebab bila dilakukan kedua pihak dapat menimbulkan konflik dan kekerasan, bahkan menimbulkan korban dan dikhwatirkan tidak berkahir dengan happy ending . Dialog ini mestinya kembali ke teori komunikasi, dimana juru runding Jakarta Papua memastikan pihak ketiga yang mengawasi dialog ” ujarnya.

 

Dikatakannya, dalam dialog Jakarta Papua menguraikan dua ideologi yang berbeda. Dialog dari dua sudut pandang menyangkut dua kepentingan yang berbeda. Hal ini dalam dialog Jakarta Papua membahas tentang sejarah yang kabur, pelurusan sejarah masa lalu bagaimana Pemerintah Indonesia menganeksasi bangsa Papua yang pernah mengalami kemerdekaan tahun 1961.

 

“Dialog Jakarta Papua tidak bisa diputuskan kedua pihak karena perlu dipertimbangkan dari segi wewenang dan kekuasaan (power). Jakarta bisa saja menarik ulur jika diputuskan kedua pihak. Olehnya harus ada ada kesepakatan juru runding dari kedua pihak untuk memastikan pihak ketiga yang netral. Termasuk membentuk pantia dialog dan waktu yang ditentukan berdasarkan kesepakatan,” katanya. (Carol/Jubi)

 

Sumber:http://tabloidjubi.com/?p=14468

Scroll to Top