Perjuangan Damai di Tanah Papua Mendapati Simpati Internasional

PAPUAN, Manokwari — Pilihan rakyat Papua, khususnya orang asli Papua untuk melakukan perjuangan damai, guna menegakkan hukum, dalam upaya melindungi hak-hak asasi dan atau hak-hak dasar, sejak dahulu hingga kini kian mendapat simpati dan dukungan di dunia internasional.

 

“Diberikannya penghargaan internasional di bidang Keadilan dan Perdamaian kepada Pater DR. Neles Tebay, semakin menunjukkan bagi kita bahwa perjuangan damai yang telah, sedang dan terus diperjuangkan oleh orang-orang asli Papua adalah suatu pilihan yang benar,” ujar Direktur Eksekutif LP3BH Manokwari, Yan Christian Warinussy, dalam siaran pers yang dikirim ke redaksi suarapapua.com, Selasa (19/3/2013) siang tadi.

 

Menurutnya, konflik berdimensi sosial-politik yang telah berlangsung hampir 50 tahun di Tanah Papua dan telah banyak menelan korban nyawa orang asli Papua, termasuk aparat TNI/Polri harus segera diakhiri dan dicari bentuk penyelesaiaanya.

 

“Kesemuanya itu hanya bisa dicari penyelesaiannya dengan jalan damai, bukan jalan konflik atau angkat senjata diantara para aktivis, maupun kelompok perlawanan dan aparat negara Republik Indonesia,” ujar Warinussy.

 

Ia juga melihat, pendekatan keamanan yang selama ini terus dikedepankan oleh pemerintah, dengan mengerahkan kekuatan militer dengan penempatan begitu banyak persoanilnya di Tanah Papua, utamanya di wilayah pegunungan tengah, dan daerah perbatasan negara dengan negara tetangga Papua New Guinea serta sejumlah wilayah di Tanah Papua terbukti sama sekali tidak membantu upaya-upaya membangun perdamaian di Tanah Papua.

 

Hal ini, lanjut Warinussy, justru semakin membuat simpati dan dukungan dunia terhadap penyelesaian masalah di Tanah Papua kian tinggi di fora internasional, khususnya di wilayah Pasifik yang mayoritas rakyat dan pemerintahnya adalah serumpun dan memiliki ikatan solidaritas etnis Melanesia yang cukup kuat dengan orang asli Papua.

 

Terbukti,  pada Sidang Majelis ke-10 Konperensi Gereja-gereja Pasifik pada tanggal 3-10 Maret 2013 di Honiara, Solomon, telah disepakati bahwa isu-isu tentang berbagai kasus pelanggaran hak asasi manusia di Tanah Papua dan perjuangan rakyat Papua untuk memperoleh hak dan kesempatan menentukan nasib sendiri dituangkan ke dalam resolusi dari Dewan gereja-gereja se-Pasifik yang akan menjadi agenda perjuangannya di dunia internasional.

 

Dikatakan, konflik berkepanjangan yang dilatarbelakangi oleh perbedaan pandangan terhadap sejarah dan latar belakang sosial-politik, mengenai integrasi Papua ke dalam NKRI sejak 1 Mei 1963, yang hingga kini telah menelan banyak korban jiwa dan harta benda.

 

“Berkenaan dengan itu, sebagai Pekerja HAM di Tanah Papua saya ingin mendesak Presiden Susilo Bambang Yudhoyono untuk segera menetapkan langkah penyelenggaraan Dialog Papua-Indonesia diantara pemerintah, TNI/POLRI dan pemerintah daerah di tanah Papua dengan seluruh komponen rakyat Papua yang ada di dalam maupun di luar negeri serta semua kelompok perlawanan yang ada demi memulai upaya membangun perdamaian di Tanah Papua,” tutup Warinussy.

 

Sumber:http://suarapapua.com/2013/03/perjuangan-damai-di-tanah-papua-mendapati-simpati-internasional/

Scroll to Top