Pentingkah Dialog Jakarta-Papua?

Dalam era Otonomi Khusus ini dialog Jakarta-Papua amat tenar di bumi ini. Kita mesti mengakui bahwa dialog Jakarta-Papua memang sudah, sedang dan akan diperjuangkan oleh Pater Neles Tebay, Jaringan Damai Papua (JDP), rakyat Papua dan pemerintah Jakarta. Perjuangan dialog tentu mendapat dukungan juga dari negara-negara luar seperti Amerika Serikat, Belanda dan Jerman (kata tokoh-tokoh Gereja). Namun di sisi lain, dialog tidak diberi ruang dan waktu untuk menyelesaikan berbagai konflik di Papua.

Jika kita mengikuti esklasi politik pada akhir-akhir ini, maka kita hidup dalam dunia kebisuan dan kediaman. Ada berbagai peristiwa penembakkan dan konflik baik internal maupun eksternal yang terjadi di Papua.  Konflik  internal yang dimaksudkan adalah konflik antara kita baik sebagai pribadi, kelompok suku bangsa maupun antara rakyat Papua dengan pemerintah Indonesia serta dengan alam semesta. Sedangkan konflik eksternal adalah konflik antara Indonesia dengan orang asing seperti peristiwa penembakkan yang telah terjadi atas dua warga jerman pada pekan lalu dalam bulan menjalan ini di Jayapura. Berbagai konflik ini memperlihatkan ketidakdamaian di Papua. Semua persoalan ini belum pernah  dituntaskan melalui Dialog Jakarta-Papua.

Dalam waktu yang belum lama ini Menkopolhukam dan rombongannya datang mengunjungi bebebagai tempat di Papua. Kedatangannya tentu amat diharapakan oleh rakyat Papua untuk dapat berdialog atas berbagai konflik Papua. Rakyat Papua merindukan agar berbagai konflik Papua dapat didialogkan bersama secara intensif dengan pemerintah Jakarta. Tapi harapan itu pergi bersama Menkopolhukam dalam kasat mata. Berbagai konflik dikedok dalam kecapan kunjungannya. Intinya bahwa kunjungan beliau dan rombongannya itu berangkat tiba. Hal ini tentu memperparah berbagai konflik Papua demi kepentingan politik dan ekonomi sesaat di Papua.

Kondisi demikian ini dapat terjadi justru karena  dialog tidak dianggap sebagai kebutuhan dasar. Pentingnya dialog Jakarta-Papua selalu dikedok oleh sejuta penting yang lain. padahal kepetingan itu nampaknya mengabaikan kepentingan bersama. Bahkan menolak kebaikan bersama (bonum comune). Contoh konkretnya yakni dialog kekerasan, karena manusia lebih memiliki kecenderungan tinggi untuk menyelesaikan konflik Papua dengan kekerasan. Kecenderungan itu semakin membuat kita menjadi akhli kekerasan bukan ahli kedamaian. Maka kita tidak heran jika negara melalui TNI/Polri terus menembaki rakyat Papua yang tak bersalah ini.  Rakyat Papua terus dimandikan oleh berbagai tindakan represif. Bahkan pemerintah Indonesia sengaja membiarkan berbagai konflik yang terjadi di Papua seperti Timika berdarah dalam bulan ini.

Situasi inilah yang menuntut kita untuk masuk pertanyaan di atas. Pentingkah dialog Jakarta-Papua? Ini harus direnungkan, dijawab oleh kitorang. Karena kita yang mau bertanya dan berusaha menjawabnya adalah orang yang hidup bukan orang mati. Orang yang hidup itu tentu punya pikiran dan hati untuk berusaha mencari solusi atas konflik Papua. Dengan mengandalkan pada kekuatan akal dan hati, maka kita tentu menyelesaikan konflik Papua secara damai. Hal ini juga tentu menghantar kita pada dialog Jakarta-Papua yang melibatkan salah satu pemerintah luar negeri sebagai pihak netral. Dialog semacam ini harus segera dilakukan oleh kitorang semua karena memang dialog ini merupakan hal yang amat penting dan mendasar guna menciptakan Papua sebagai Tanah damai. Bahkan dialog merupakan jalan damai, adil, bermartabat dan demokratis untuk menyelesaikan konflik Papua secara menyeluruh. Tanpa dialog, kitorang dapat pulang tempo ke dunia seberang sanaaaaaaaa……ooooooo.

Scroll to Top