Penggagas Dialog Jakarta-Papua, Amati Soal UU Terorisme di Papua

JAYAPURA, KP– Statement Kabareskrim Polri Komjen Sutarman terkait para tersangka penyerang Mapolsek Pirime, Lany Jaya, Papua, pada 27 November lalu bakal  dijerat dengan UU Anti Terorisme dengan alasan dianggap telah menebar teror, masih  ditanggapi dingin oleh salah satu tokoh gereja dan pemerhati HAM di Papua, Pater Neles Tebay.

Penggagas dan penulis buku  “Dialog Jakarta Papua dalam persepektif”  itu mengaku, ia akan lantang memberitahukan sikapnya terkait penerapan UU terorisme di Papua, jika hal itu sudah benar-benar diterapkan.

“Saat ini hal itu masih wacana saja. Saya masih enggan berkomentar dulu, jika nantinya pasti diterapkan,  maka tentu pandangan kami soal itu akan diberitahukan,” katanya melalui ponselnya, Kamis (20/12)

Menurut dia, pihaknya masih dalam posisi terus mengamati perkembangan yang terjadi sebelum mengambil sikap tegasnya.

Sementara Wakapolda Papua Brigjen Pol Paulus Waterpauw sebagaimana dikutip salah satu media online,  justru dengan tegas mengatakan UU Anti Terorisme tidak diizinkan diterapkan di Papua.

“Kasus Papua tidak seperti kasus pelaku teror di tempat lain. Jadi, tidak diizinkan,” kata Paulus, tanpa menjelaskan siapa yang tidak mengizinkan penerapan pasal-pasal tersebut.

Meski demikian terlihat jelas jika pernyataan Paulus Waterpauw itu secara tegas dibantah oleh Sutarman dengan dalih Papua tetap wilayah kesatuan Negara Indonesia meski punya otonomi khusus.. Sehingga, penerapan aturan UU itu adalah berdasarkan pasal yang dilanggar dan bukti yang kita temukan.

Sebelumnya Kabareskrim Polri Komjen Sutarman terkait para tersangka penyerang Mapolsek Pirime, Lany Jaya, Papua, pada 27 November lalu bakal dikenai UU Anti Terorisme dengan alasan dianggap telah menebar teror.

“Saya kira pasal-pasal yang kita terapkan, kalau dia (pelaku) membawa senjata dan membuat ketakutan, maka itu termasuk terorisme. Dan kita juga tidak akan ragu-ragu menerapkan pasal itu, kalau dia sudah membunuh orang yang tidak berdosa,” katanya.

Seperti diketahui Kelompok bersenjata penyerang Mapolsek Pirime tak sekadar meneror tapi juga membunuh tiga anggota Mapolsek.

Tiga polisi yang bernasib malang itu adalah Kapolsek Ipda Rolfi Takubesi, serta dua anggotanya bernama Brigadir Jefrey Rumkorem dan Briptu Daniel Makuker.

Menurut Kabareskrim, kasus penyerangan Mapolsek Pirime hampir sama dengan kelompok Ayah Banta (eks-Gerakan Aceh Merdeka/GAM) yang dikenakan UU Anti Terorisme saat mereka melakukan kekerasan di Aceh jelang Pilkada beberapa waktu lalu

Hanya saja, kenyataan menunjukan lima orang tersangka yang telah ditangkap dalam kasus tersebut, yaitu YW, KJ, SD, AT dan S, hanya dikenai pasal 170, 351 junto 338, dan 340 KUHP. (march)

Sumber:http://hariankoranpapua.com/?p=1359

Scroll to Top