Penembakan di Areal PT Freeport Mencoreng Wajah Indonesia

JAYAPURA, Reportasepapua.com – Insiden  penembakan di areal  perkantoran  (Office Building)  PT Freeport Indonesia (PTFI) Kuala Kencana, Kabupaten Mimika, Papua pada Senin (31/3) setidaknya telah mencoreng wajah Bangsa dan Negara Republik Indonesia di pentas pergaulan masyarakat internasional.

Koordinator Jaringan Damai Papua (JDP), Pastor John Bunay,Pr  di Jayapura, Kamis melalui siaran pers pada media reportasepapua.com menyatakan bahwa pihaknya terpaksa harus berbicara lantang  di tengah publik lantaran tawasnya  karyawan PTFI asal Selandia baru, Graeme Thomas Wall (57) dan terlukanya karyawan Indonesia, Ucok Simanungkalit dan Jibral Bahar akibat terjangan peluru tajam dari moncong senjata orang tidak dikenal.

“Mengapa insiden kemanusiaan ini dikatakan sebagai mencoreng wajah Indonesia di pentas internasional lantaran  salah satu perusahaan tambang tembaga, perak dan emas terbesar di dunia ini selain merupakan sebuah perusahaan multi nasional juga karena  insiden penembakan tersebut telah menelan korban jiwa seorang warga negara asing berkebangsaan Selandia Baru,” kata John Bunay.

Patut diakui bahwa insiden penembakan ini merupakan tragedi kemanusiaan  yang memilukan hati,  karena di saat umat manusia di seluruh dunia termasuk Indonesia dan Papua terperangkap dalam jurang hantu penyakit Covid-19 yang mematikan, masih juga ada  sekelompok orang tak dikenal  yang begitu teganya menghabisi nyawa sesamanya di areal Freeport yang merupakan Obyek Vital Nasional (Obvitnas).

“Berdasarkan Keputusan Presiden Nomor 63 Tahun 2004 Tentang Pengamanan Obyek Vital Nasional  merupakan kewajiban Polri (pasal 4) dan Polri dapat meminta bantuan  kekuatan TNI (pasal 7) maka semua  aparat keamanan yang bertugas di areal operasi  PTFI saat  ini, baik di Tembagapura maupun Kuala kencana harus bertanggungjawab,” tegasnya.

John Bunay meminta aparat keamanan Polri dan TNI yang bertugas di wilayah kerja PTFI agar secara kstaria  meminta maaf karena terbukti telah lalai melaksanakan tugas menjaga dan memelihara keamanan sehingga menyebabkan tertembaknya tiga  karyawan PTFI.

“Pemerintah Indonesia harus secepatnya melakukan penataan ulang program keamanan di wilayah operasi PTFI agar tidak lagi jatuh korban yang sia-sia dari karyawan Freeport,” pintanya.

Menyadari bahwa wilayah operasi PTFI merupakan sebuah area tambang penuh konflik kekerasan bersenjata yang telah berulang kali menewaskan secara keji sejumlah  karyawan Freeport maka pihaknya meminta pemerintah, aparat keamanan dan pimpinan PTFI untuk memberikan kesempatan  yang seluas-luasnya kepada Jaringan Damai Papua memasuki wilayah konflik ini guna meretas dialog damai menuju terciptanya tatatan kehidupan bersama yang damai.

Kepada aparat keamanan TNI/Polri  dan Tentara Pembebasan Nasional – Organisasi  Papua Merdeka (TPN/OPM) yang sering bertikai di wilayah ini yang berdampak pada terbunuhnya karyawan Freeport yang tidak punya kepentingan politik, JDP menyerukan agar segera meletakkan senjata dan meninggalkan wilayah konflik tersebut sehingga JDP bersama tokoh masyarakat, kepala suku, dan pemuka agama setempat mulai  meretas dialog perdamaian untuk kebaikan semua orang tanpa membedakan suku,agama,ras, aliran politik apapun juga.

Bagi JDP, kekerasan demi kekerasan tidak akan menyelesaikan masalah, malahan sebaliknya akan memunculkan masalah baru yang lebih rumit lagi sekaligus akan menelan klebih banyak korban manusia dan harta benda.

John Bunay mengakui bahwa pihaknya selaku pembimbing rohani umat Kristiani  sudah sangat sering datang ke Tembagapura dan Kuala Kencana untuk memberikan pelayanan rohani dalam bentuk ibadah oikumene, seminar dan lokakarya kebangunan rohani. Dan patut diketahui bahwa pada masa lalu, Kota Kuala Kencana telah dikenal sebagai sebuah wilayah permukiman yang paling aman dan nyaman bagi semua orang dari segala bangsa dan negara.

Namun  pada saat ini ketika jumlah aparat keamanan TNI dan Polri semakin bertambah  banyak, wilayah dan penghuni Kota Kuala Kencana bukannya merasa semakin aman namun semakin tidak aman.

Insiden penembakan yang terjadi pada Senin (31/3) lalu sungguh menyedihkan. Kita sdemua prihatian dengan masa depan istri dan anak-anak dari almarhum Graeme Thomas Wall yang tewas diterjang peluru tajam. Padahal, Graeme telah 15 tahun bekerja di Freeport untuk kesejahteraan papua dan Indonesia.

“Keluarga Besar Jaringan Damai Papua memanjatkan doa kiranya arwah Graeme diterima di sisi Tuhan Sang Pencipta semesta   Alam  dan keluarga yang ditinggalkan diberikan kekuatan dalam menghadapi masa-masa yang amat sulit ini. JDP pun menyampaikan keprihatinan sangat dalam kepada keluarga besar PT Freeport Indonesia atas kehilangan Graeme  dan terlukanya Ucok dan Jibral dalam insiden penembakan tersebut,” kata John Bunay.

Jangan kiranya kita menjadikan areal kerja Freeport sebagai lautan darah manusia yang tidak berdosa dan janganlah pula menjadikan areal kerja perusahaan tambang tembaga,perak dan emas ini sebagai arena pertempuran berbagai kekuatan senjata.

“Freeport hadir untuk menghidupkan Papua, Indonesia dan dunia maka janganlah menjadikan Freport sebagai arena konflik. Apabila Freeport menjadi arena konflik  maka Papua dan  Indonesia pun akan konflik,” Tutupnya. (Redaksi Reportase)

Sumber berita: https://reportasepapua.com/penembakan-di-areal-pt-freeport-mencoreng-wajah-indonesia/

Scroll to Top