Latifa-Anum-Siregar

Pendatang di Papua inginkan dialog damai akhiri konflik

Aliansi Demokrasi untuk Papua (ALDP) merilis buku berjudul “Menuju Papua Tanah Damai: Perspektif non Papua” merangkum suara penduduk pendatang yang menetap menjadi warga di sebagian kota di Papua dan merindukan perdamaian melalui jalan dialog.

 

Latifa-Anum-SiregarLatifah Anum Siregar (Direktur ALDP)Latifah Anum Siregar kepada Radio Australia mengungkapkan buku ini dirangkum dari berbagai pertemuan dan diskusi disejumlah kota besar di Papua yang digelar oleh ALDP dengan melibatkan paguyuban warga Papua yang berasal dari daerah lain di Indonesia.

 

“Kami mengumpulkan indikator Papua menjadi tanah damai dan suara dari perwakilan orang Makassar, Jawa dan lain lain,” ujar Anum.

 

Dari rangkaian pertemuan merujuk pada sebuah kesimpulan dari pandangan beragam, bahwa para warga yang kini telah menetap dan menjadi warga Papua itu menginginkan adanya upaya mengakhiri konflik dengan jalan damai dan dialog.

 

“Mereka ingin hidup yang damai dan aman di Papua, mereka juga buka cuma mendefinisikan, tapi juga memahami eksistensi orang Papua dan konflik yang muncul seperti soal Otonomi Khusus, tanah hak ulayat dan berbagai masalah lain,” jelasnya.

 

“Fakta lain juga menunjukan korban konflik bukan cuma orang Papua asli, tapi juga non papua,sebagai masyarakat sipil tidak ada beda antara Papua dan non Papua,” masih sambung Anum. Mereka yang dilibatkan dan dimintai pendapat dalam diskusi hingga terangkum menjadi sebuah buku mencapai 350 orang. “Ada sembilan kabupaten yang menjadi sasaran, termasuk Sorong dan Manokwari di propinsi Papua Barat,” kata Anum.

 

Sementara latar belakang warga non Papua yang diikutsertakan dari tokoh agama, guru dan perkeja formal. Anum juga menolak kritik buku ini membuat segregasi atau pemilahan antara Papua dan non Papua. “Faktanya populasinya makin meningkat, bahwa faktanya mereka adalah korban sipil yang juga jadi korban konflik, jadi eksistensi mereka perlu didengar untuk membangun Papua menjadi tanah damai,” sergahnya. “Kita harus masuk ke level berikutnya ke indicator Papua tanah damai,” lanjutnya.

 

Menurut Anum, warga asli Papua juga merasa kaget karena mereka para pendatang juga bisa mengerti keresahan penduduk asli dan Papua dan mengiginkan dialog damai. “Mereka sudah bosan berkonflik dan dengan jalan kekerasan. Mereka ingin damai,” tegasnya. Ini adalah buku kedua yang bebicara dan mengusulkan gagasan dialog damai di Papua. Sebelumnya Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, LIPI, juga pernah merilis buku “Papua Road Map” atau Peta Jalan Damai Papua. Namun upaya dialog belum juga terjadi hingga kini. Pemerintah Indonesia mengedepankan pendekatan ekonomi untuk mendekati dan menekan kelompok warga yang menginginkan kemerdekaan. “Masalahnya pemerintah tidak mengikutsertakan dan mendengar suara untuk mengambil keputusan,” ungkap Anum.

 

 Papua masih menjadi kawasan yang kerap terjadi baku tembak antara pasukan keamanan dengan kelompok bersenjata menamakan diri Organisasi Papua Merdeka yang terbentuk sejak 1965 hingga kini.

 

Sumber:http://www.radioaustralia.net.au/indonesian/radio/onairhighlights/pendatang-di-papua-inginkan-dialog-damai-akhiri-konflik/1187221

Scroll to Top