Diskusi-Buku-Dialog-Papua

Pemerintah Tak Serius Tuntaskan Konflik Papua

Diskusi-Buku-Dialog-PapuaDiskusi-Buku-Dialog-PapuaYogyakarta, 12/12 (Jubi) – Masalah Papua hingga hari ini belum diseriusi. Pemerintah terkesan membiarkan konflik terus berlanjut di Tanah Papua. Sementara, wacana mengenai dialog Jakarta-Papua yang digagas Jaringan Damai Papua (JDP), belum juga direspon, meski pemerintah sempat mengungkapkan niatnya menyelesaikan persoalan Papua.

 

Anggota Komisi III DPR RI, Eva Kusuma Sundari mengemukakan hal ini dalam diskusi buku “100 Orang Indonesia Angkat Pena Demi Dialog Papua”, Kamis (12/12) siang di ruang teatrikal Perpustakaan Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta.

 

Hadir dua narasumber lain, Direktur Pusat Studi Keamanan dan Perdamaian (PSKP) Universitas Gajah Mada Yogyakarta, Prof. Dr. Mohtar Mas’oed, dan aktivis JDP, Oktovianus Pekei, S.Si dengan moderator, Dr. Lukas Suryanto Ispandriarno, Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Atma Jaya Yogyakarta.

 

“Harus diakui bahwa memang Papua berada dalam situasi yang memprihatinkan. Ada berbagai persoalan, konflik, dan kebijakan yang timpang, yang belum mampu menjawab kerinduan saudara-saudari kita di Papua. Seharusnya semua ini perlu segera ditangani dengan serius,” tuturnya.

 

Mochtar Mas’oed menyatakan sangat mendukung adanya dialog Jakarta-Papua. Hanya saja, ia juga menyebut beberapa hal yang menjadi kendala maupun cacatan penting dalam rangka mewujudkan wacana tersebut.

 

“Orang duduk bersama, bicarakan, pasti ada solusi-solusinya. Dan, ini yang perlu ada untuk melihat persoalan Papua,” kata Peneliti PSKP yang juga Guru Besar Hubungan Internasional UGM ini.

 

Oktovianus Pekei membeberkan pentingnya dialog Jakarta-Papua sebagai upaya bermartabat menyelesaikan konflik berkepanjangan di Tanah Papua. Disebutkan dalam paper, wacana dialog digemakan sejak beberapa tahun lalu dengan diadakan konsultasi publik di 7 wilayah adat, kemudian bedah persoalan di beberapa kesempatan, termasuk diskusi buku karya Pater Neles Tebay, penggagas dialog Jakarta-Papua melalui JDP.

 

Jauh sebelum itu, kata Okto, wacna dialog sebenarnya mengemuka pada beberapa kesempatan penting. Oleh masyarakat Papua maupun pemerintah, sama-sama menginginkan penyelesaian konflik melalui dialog. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, kata dia, pernah singgung hal itu. Namun hingga penghujung tahun 2013, belum juga terlaksana.

 

“Seringkali ada ungkapan dan penilaian berlebihan dari para pihak, bahwa kalau dialog berarti Papua akan merdeka. Atau Indonesia bertahan dengan konsepnya NKRI harga mati, lalu kadang ada slogan Papua harga mati. Ini mesti dibuang jauh, karena ini juga yang bikin upaya dialog belum terwujud. Ini kendala yang JDP alami,” tutur Oktovianus Pekei, mahasiswa Magister Perdamaian dan Resolusi Konflik (MPRK) UGM Yogyakarta..

 

Papua dengan segala persoalan mendapat kritikan dari satu peserta diskusi, Dhieng. Ia berpendapat, pemerintah gagal menyelesaikan masalah Papua. Peserta lain juga mengemukakan keprihatinan, sorotan dan usulan tentang masa depan Papua.

 

Direktur Institut Dialog Antariman di Indonesia (Institut DIAN/Interfidei), Elga Joan Sarapung kepadatabloidjubi.com menjelaskan, kegiatan diskusi buku dilaksanakan untuk menyebarluaskan pikiran atau gagasan tentang Dialog Jakarta-Papua yang ada dalam buku karya 100 orang Indonesia. “Kami mau semakin banyak orang di seluruh Indonesia memahami tentang pentingnya dialog sebagai upaya penyelesaian masalah Papua,” ujarnya.

 

Dialog Jakarta-Papua, kata dia, perlu terus didorong hingga benar-benar terwujud. “Gagasan Pater Neles Tebay, Muridan Widjojo dan teman-teman lain, kami juga sangat mendukung.”

 

Buku “100 Orang Indonesia Angkat Pena demi Dialog Papua” pertama kali diluncurkan di Jakarta, 24 Oktober 2013. Kini giliran Yogyakarta menjadi tuan rumah, yang dilaksanakan atas kerjasama PSKP UGM, Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, FISIP Universitas Atma Jaya Yogyakarta, dan Interfidei. (Jubi/Markus You)

 

Sumber:http://tabloidjubi.com/2013/12/12/pemerintah-tak-serius-tuntaskan-konflik-papua/

Scroll to Top