Peluncuran dan Diskusi Buku “Angkat Pena Demi Dialog Papua”

Penulis: Neles Kebadabi Tebay

Kata Pengantar: Frans Mjagnis Suseno,A.A. Yawanggoe, Azyumardi Azra

Penerbit:Institut Dialog Antar Iman Di Indonesia(Institut DIAN/Interfidei)

Papua mesih bergolak hingga kini.kemerdekaan yang intinya jaminan rasa nyaman dari negara yang menjalankan aktifitas hidup sehari-hari masih menjadi impian bagi masyarakat papua.memang sekarang tidak ada pendekatan militer secaras turuktural di daerah itu seperti di erah rejim orde Baru. Tetapi  buka berarti rakyat Papua telah damai, yang di sayangkan pemerintah masih saja menggunakan kacamata pusat dalam penyelesaian permasalahan papua hingga sekarang. Para elit politik sering mengabaikan suara-suara rakyat papua dalam menyelesaikan konflik yang hinggan sekarang telah menelan banyak korban  serta meninggalkan trauma. Kepentingan politik tertentu masih mendominasi dalam mengambil keputusan. Karena itu perlu adanya pendekatan yang lebih humanistik dalam menyelesaikan konflik di Papua.

Adalah pater Neles tebay yang mencoba menawarkan dan menguatkan opsi kepada pemerintah untuk menyelesaikan masalah papua dengan dialog damai. Interfidei memfasilitasi gagasan pater neles dengan menerbitkannya dalam sebuah buku yang telah kami bedah dan diskusikan pada publik.

Diskusi publik mengenai buku ini telah kami laksanakan,  bekerja sama dengan pusat studi keamanan dan perdamaian (PSKP-UGM),Pusat Studi HAM-Universitas Islam indonesia (UII),Pusat studi HAM dan Demokrasi Universitas Atma Jaya (UAJ), Pusat Studi dan Pengembangan Perdamaian (PSPP-UKDW), Fakultas Dakwah sunan kalijaga pada tanggal20 juni 2012 di UIN Sunan Kalijaga YogJakarta. Diskusi buku ini Menghadirkan 3 pembicara: Ahmat Syafi’i Ma’arif (sejarawan),M.Imam Aziz (PBNU),PM Laksono (Antropolog) dan Adriana Elizabeth (LIPI)

Menurut Sultan HB X, Keynote speaker dalam diskusi kali ini: “ dialog bukan solusi, melainkan media atau forum yang di sediakan untuk memulai kebutuhan kimunikasi politik antara jakarta dan papua. Komunikasi yang lebih intens dan reguler menjadi penting dalam rangka menjadi ketegangan, saling curiga,dan saling tidak percaya antara Jakarta dan papua selama ini. Dialog damai bukan sesuatu yang instan, melainkan proses panjang yang harus di persiakan secara matang. Meskipun rumit dialog sangat mungkin di lakuakan terlebih dulu menciptakan kondisi-kondisi yang membuat para pihak semakin yakin untuk berdialog. Sebelumnya buku ini juga sudah diluncurkan dan di bedah di ball Room Hotel Akmani, Jakarta, pada selasa 29 Mei 2012 peluncuran buku ini menghadirkan pembicara dari berbagai kalangan dari kalangan pemerintah,Farid Husein (Tokoh dan penggiat perdamaian Indonesia), Albert Hasibuan ( Dewan Pertimbangan presiden bidang politik, hukum dan HAM), TB. Hasanudin (Anggota Komisi I DPR RI) para akademisi, jurnalis, aktifis pluralism: Ahmat Suaedy (Peneliti senior wahit Institute) Tri Agung Kris Tanto (Editor Bidang politik Kompas) dan para tokoh agama Franz Magnis Suseno (STF Drijakarta) Djohan Efendi(Aktifis gerakan pluralism indonesia) dan A.A Yewanggoe (Ketua PGI) peluncuran buku ini terlaksana atas kerja sama Interfidei dengan beberapa lembaga yaitu Wahit institute, Ma’arif Institute, Demos, jaringan antariman indonesia dan ANBTI …KW (newslater interfidei hal 24)

Scroll to Top