NT

Papua tanah damai tak ada kaitan dengan “M”

NTImage: Dr. Neles TebayJayapura  Koordinator Jaringan Damai Papua (JDP)  Pater DR.Neles Tebay .Pr, mengatatakan konsep Papua Tanah Damai tidak ada kaitan dengan ideologi Papua merdeka, artinya semua orang yang bicara soal Papua Panah Damai, Janganlah di identikan sebagai jaringan yang mendukung  jaringan Papua merdeka.

 

“Biasanya orang bicara agar Papua damai malah di tuding mendukunh Papua merdeka,pada hal Papua Damai merupakan pergumulan dari semua orang yang hidup di Tanah Papua” ujarnya. Ketika membawa makalah soal Papua Tanah Damai, dalam rangka memperingati HUT PI di Tanah Papua, yang ke 158 di sasana krida kantor Gubernur dok II jayapura, senin (4/2, kemarin.

 

Di katakannya, konsep Papua  Tanah Damai mengandung makna lebih dari tidak ada kekerasan dan perang, serta mencakup keutuhan diri seseorang dan relasinya yang harmonis dengan Allh, sesama dan alam semesta. “ Damai mencakup semua bidang kehidupan di Tanah Papua ungkap pria yang juga menjabat sebagai ketua STFT Fajar Timur ini.

 

Pihaknya juga menjelaskan mengapa sampai Papua Tanah Damai  perlu di kampanyekan di Papua  dan seluruh Indonesia  bahkan Dunia? Karena masyarakat Papua yang  majemuk, artinya kekayaan dan sekaligus  menyimpang potensi konflik yang besar, serta kekerasan sebagai cara penyelesaian konflik horizontal, dampaknya adalah akan mengorbankan banyak pihak, serta adanya konflik vertikal antara pihak yang membawa bendera merah putih di pimpin oleh Pemerintah Pusat dan orang Papua yang memperjuangkan kemerdekaan Papua Barat membawa bendera Bintang Kejora.

 

“Harus di akui konflik ini telah berlangsung  50 tahun, dan akibatnya mengganggu pelaksanaan pembangunan, mengorbankan banyak orang sipil,TNI/POLRI,TPN/OPM, serta menghambat tercapainya perdamaian sejati di Tanah Papua, sebab menciptakan kecurigaan dan ketidak percayaan baik antar warga masyarakat maupun antara pemerintah dan orang asli Papua” lanjutnya.

 

Lanjut Neles, Papua bisa di sebut damai, jika mengandung sembilan nilai dasar, di antaranya keadilan dan kebenaran, partisipasi, rasa aman dan nyaman, harmoni, keutuhan, kebersamaan dan penghargaan, pengakuan dan harga diri,komunikasi dan informasi, serta kesejahteraan dan kemandirian.

 

“ Untuk mewujudkan Papua Tanah  Damai, maka ada sembilan kelompok pemangku kepentingan yang perlu melibatkan diri demi mewujudkan Papua Tanah Damai di antaranya orang asli Papua,semua penduduk Papua termasuk paguyuban-paguyuban, pemerintah lokal provinsi dan kabupaten/kota, pemerintah pusat, Tentara Nasional Indinesia (TNI), Kepolisian Republik Indonesia (POLRI), dan perusahaan-perusahaan yang mengeksploitasi sumber daya alam (SDA) di tanah papua.

 

“ termasuk Tentara Pembebasan Nasional/ Organisasi Papua Merdeka (TPN/OPM) dan orang Papua yang berada di luar negeri seperti di PNG,Australia,Belanda,Inggris, dan Amerika serikat. Mereka harus di libatkan dalam konsep Papua Tanah Damai. Selama ini belum di laksanakan, maka konsep  Papua Tanah Damai akan terus kita kejar,” tutrnya.

 

 Sementara itu di tempat yang sama ketua Persekutuan Gereja-Gereja Papua (PGGP) Pdt.Lipius Biniluk,S.Th mengatatan bahwa indikator Papua Tanah damai bukan hanya kata-kata, haruslah lebih pada kesejahteraan yang merata, maka konsep sebagai Papua Tanah Damai hanya sebagai kata-kata semata, dan akan terus di perjuangkan.

 

Sampai saat ini kedamaian masih hanya  terbatas kata-kata, memang kita hidup baik, hanya saja orang asli Papua masih hidup bagaikan tamu di tanahnya sendiri, karena ekonominya bukan di kuasai oleh orang asli Papua, apalagi di banding ketenagakerjaan,” tukasnya.

 

“Lihat saja di toko-toko, di mana nusantara yang lebih menguasai, sementara kita punya orang asli hanya penonton,  dan ruang ini selama masih ada maka implementasi tanah damai, tidak akan tercapai, dan ketika orang asli Papua mau angkat bicara maka bisa di tuduh macam-macam, dan selama ini kondisi tidak di ubah, maka sangat sulit mendapatkan Papua Tanah Damai,” tambahnya.(cak/fud).

 

Sumber: (Cepos edisi selasa 05 februari 2013 hal 1 sambung hal 7) di tulis oleh Kilion wenda

Scroll to Top