oooooooooo

Papua, Jangan Bersedih

ooooooooooSumber:http://news.detik.comJakarta – “Perlu sedikit mengalah, merendah, dengan tujuan untuk menang”

 

Tanah Papua tanah yang kaya surga kecil jatuh ke bumi/Seluas tanah sebanyak batu adalah harta harapan.

 

Sepenggal lirik lagu ciptaan Franky Sahilatua berjudul Aku Papua itu cukup menggambarkan kekayaan bumi Papua. Kekayaan alam pulau itu seolah tak ada habisnya. Begitu juga eksotisme alamnya.

 

Tapi inilah pulau yang masih terus dipanasi dengan aksi-aksi separatisme, yang ujung-ujungnya adalah berbagai insiden berdarah dan mematikan. Contohnya saja, menjelang peringatan 50 tahun integrasi Irian Barat ke Indonesia pada 1 Mei lalu, tiga orang tewas.

 

Korban jatuh di Distrik Aimas, Kabupaten Sorong, Papua Barat. Mereka adalah Abner Malagawak dan Thomas Blesia, yang tewas di tempat, serta seorang perempuan bernama Salomina Kalaibin, yang meninggal lima hari kemudian karena luka tembakan di perut dan pundaknya. Ketiga orang ini diduga akan mengibarkan bendera Bintang Kejora. Tapi aksi itu batal di ujung moncong senjata aparat.

 

Tak aneh kalau Wakil Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Papua Barat Jimmy Demianus Ijie menyatakan apa yang dirasakan orang Papua saat ini adalah kekecewaan yang terus bertumpuk-tumpuk. Dia minta kekecewaan itu tak dianggap angin lalu.

 

“Harus ada keseriusan pemerintah membangun kembali rasa percaya orang Papua,” ujar Jimmy saat perayaan 50 tahun integrasi Irian Barat ke Indonesia di Sorong, Papua Barat, pada 1 Mei lalu.

 

Apalagi, kata Jimmy, sebagian besar orang Papua merasa pemerintah selama ini gagal mengindonesiakan Papua. Jimmy menilai pemimpin Indonesia yang gencar menyuarakan bahwa Papua adalah bagian penting dari Negara Kesatuan Republik Indonesia hanyalah Sukarno.

 

“Setelah Sukarno, nyaris tidak ada yang memperdengarkan peristiwa penting seputar bergabungnya Papua untuk menanamkan rasa memiliki Indonesia di tanah ini,” katanya.

 

Pemerintah, menurut Jimmy, sebaiknya tidak berlindung di balik alokasi anggaran puluhan triliun rupiah dalam implementasi otonomi khusus. “Terlebih jika penggunaan anggaran tersebut tidak jelas verifikasinya dan ditujukan buat siapa,” ujar Jimmy.

 

Bagaimana membangun kembali rasa percaya itu? Jimmy menekankan harus dilakukan dengan dialog intensif dan aksi nirkekerasan.

 

Dia mengatakan sudah cukup 50 tahun anak Papua menangis karena ketidakadilan. Tapi jangan menangis lagi untuk 50 tahun mendatang. “Kita perlu sedikit mengalah, merendah, dengan tujuan untuk menang.”

 

***

Sejarawan Anhar Gonggong mengingatkan, Indonesia dibangun tidak hanya dengan perjuangan bersenjata, tapi juga dengan dialog. Melalui dialog, akar permasalahan bisa diidentifikasi bersama.

 

“Karena itu, bangunlah Papua dengan hati. Jangan ada pandangan bahwa kita membangun Papua yang primitif,” kata Anhar.

 

Tapi utusan khusus Presiden Susilo Bambang Yudhoyono untuk Papua Damai, Farid Husain, mengatakan upaya dialog bukannya tidak dilakukan. Farid, yang ditunjuk sebagai negosiator untuk konflik Papua, mengaku telah empat kali menemui pemimpin Organisasi Papua Merdeka di hutan pedalaman Papua.

 

“Pemimpinnya berbeda-beda. Inilah kesulitan untuk menengahi konflik Papua karena tidak ada pimpinan,” katanya.

 

Belum lagi saat ini masih banyak kecurigaan yang timbul antara pemerintah pusat dan orang Papua. Kecurigaan inilah yang, menurut Farid, harus segera dihilangkan agar perdamaian di Papua bisa diwujudkan.

 

Adapun sekretaris tim negosiasi Papua Damai, Octovianus Mote, menyatakan aneka kekerasan yang terjadi begitu Indonesia menguasai Papua menunjukkan ketidakmampuan Indonesia merumuskan kebijaksanaan yang utuh dan menyeluruh tentang Papua.

 

“Perlu ada dialog. Dialog itu adalah perundingan politik, untuk merundingkan pola hubungan kerja antara Papua dan Jakarta,” ujar mantan wartawan yang kini menjadi warga negara Amerika Serikat itu melalui surat elektronik pada pekan lalu.

 

Octovianus menuturkan, dalam Konferensi Perdamaian Papua pada 5-7 Juli 2011, perwakilan masyarakat asli Papua mendeklarasikan dialog sebagai sarana untuk membangun perdamaian di tanah Papua. Mereka pun mengusulkan lima juru runding, yaitu Benny Wenda, Octovianus Mote, Rex Rumakiek, John Otto Ondawame, dan Leoni Tanggahma.

 

“Kami siap berunding dengan pemerintah kapan saja,” ujar Octo.

 

Tulisan ini sudah dimuat di Harian Detik edisi Senin, 13 Mei 2013.

 

Sumber:http://news.detik.com/read/2013/05/14/123543/2245274/10/papua-jangan-bersedih?9922022

Scroll to Top