tarian-papua

Papua Butuh Tim Dialog untuk Akhiri Penembakan

 

tarian-papua

Koordinator Jaringan Damai Papua (JDP) mendesak Presiden Susilo Bambang Yudhoyono untuk segera membentuk sebuah tim dialog untuk membantu menghentikan kasus penembakan yang terus terjadi di Papua.

 

Menurut Pastor Neles Kebadabi Tebay, sebanyak 19 kasus penembakan terjadi di Papua sejak Januari hingga awal Juni ini. Dua kasus penembakan terakhir terjadi kemarin dengan korban seorang pendatang dan seorang warga Papua. Keduanya saat ini masih menjalani perawatan medis.

 

Imam itu menambahkan bahwa satu kasus penembakan melibatkan anggota kepolisian. Pada pertengahan Mei, tiga oknum anggota Brimob menembak lima warga Papua yang bekerja sebagai petambang emas di Kabupaten Paniai setelah mereka terlibat percekcokan di sebuah tempat biliar. Penembakan itu menewaskan satu orang.

 

Namun, lanjutnya, para pelaku penembakan lainnya masih misterius. Polisi sudah melakukan investigasi terhadap kasus-kasus ini.

 

“Penembakan ini dapat saja menghilangkan harapan akan terwujudnya Papua yang damai. Rakyat Papua juga dapat meragukan niat dan komitmen pemerintah di bawah kepemimpinan Presiden Yudhoyono yang ingin menyelesaikan masalah Papua melalui dialog terbuka,” tegasnya.

 

Untuk tim tersebut, katanya, presiden hendaknya memilih orang-orang yang integritas kepribadiannya diakui secara nasional dan dipercayai oleh baik komunitas internasional maupun orang asli Papua.

 

“Orang Papua tidak perlu dilibatkan dalam tim tersebut. Jika orang Papua dilibatkan, mereka mungkin berpikir bahwa pemerintah tidak serius dan akan mengadudomba,” lanjutnya.

 

Ia mengatakan, tim itu hendaknya mengidentifikasi semua masalah yang muncul di Papua, termasuk sejumlah kasus penembakan, dan mencari solusi strategis terhadap masalah-masalah tersebut.

 

Beberapa penyebabnya, katanya, “antara lain kegagalan pembangunan di bidang pendidikan, kesehatan, ekonomi dan infrastruktur, diskriminasi dan marginalisasi terhadap orang Papua, dan kekerasan negara terhadap orang Papua termasuk pelanggaran hak asasi manusia.”

 

Pastor Neles, yang juga rektor Sekolah Tinggi Filsafat-Teologi Fajar Timur di Abepura, menekankan bahwa tim tersebut harus dibentuk untuk membantu para korban penembakan dan keluarganya mendapatkan rasa keadilan.

 

“Kalau tim ini tidak dibentuk, saya khawatir penembakan akan berlangsung terus. Akibatnya korban berjatuhan,” katanya.

 

Sementara itu, Olga H. Hamadi, koordinator KontraS Papua, setuju bahwa pembentukan tim semacam itu baik.

 

Namun ia mengingatkan bahwa tim itu “harus memiliki tujuan yang jelas dan tidak dijadikan proyek untuk mencari uang.” (Katharina R. Lestari, Jakarta)


Sumber: http://indonesia.ucanews.com/2012/06/05/papua-butuh-tim-dialog-untuk-akhiri-penembakan/

 

Scroll to Top