octovianus

Octovianus Mote: Dialog Papua Menjadi Perhatian Dunia Kecuali Pemerintah Australia

octovianusFoto: Octovianus Mote (http://www.socialchangenow.ca)Jayapura, (8/11)RadioABC  Australia edisi Indonesia, 7 November memberitakan Octovianus Mote, Negosiator Perdamaian Papua keliling dunia, telah berbicara untuk meningkatkan pengetahuan masyarakat di berbagai negara tentang apa yang terjadi di Papua. Mantan wartawan  Harian Pagi Kompas di Papua dan Litbang Kompas ini berada di Australia untuk melakukan dialog dengan masyarakat di Australia di Universitas Victoria.

 

Menurut Ocotvianus Mote dalam wawancara di Radio Australia belum lama ini, perjalanannya ke berbagai negara kemudian ke Australia guna mencari dukungan dunia mengenai dialog soal Papua. “Saya lakukan perjalanan ini mencari dukungan dari berbagai pihak di luar negeri untuk memberikan suatu penguatan kepada Presiden Susilo Bambang Yudhoyono bahwa dialog itu amat penting, dan ini kepentingannya bukan untuk rakyat Papua saja, tapi untuk menunjukkan bangsa kita adalah negara yang demokratis, karena Indonesia terkenal di Asia Tenggara dalam perannya mediasi dalam masalah konflik, seperti di Bangsa Moro, Malaysia, Thailand. Jadi saya kira alasan-alasan ini yang saya sampaikan bahwa kenapa saya keliling di sini, kemudian di Canberra, di Sydney, untuk mencari dukungan, bahwa it is alright, tidak takut berdialog,”kata Motte alumni SMA Gabungan Dok V Jayapura.

 

Dalam perjalanannya, lanjut alumnus FISIP Universitas Katolik Parahiyangan Bandung ini, masyarakat Australia teheran-heran orang-orang Papua sangat konsisten menyuarakan dialog. Sementara militer mengejar orang-orang Papua dengan kekerasan. Saat ini pemerintah Indonesia mengejar anak-anak Komite Nasional Papua Barat (KNPB) seperti kriminal. “Jadi ada kotradiksi dalam penyelesaian masalah Papua. Maka perlu dialog. Dialog menjadi penting,”katanya.

 

Mengenai target dialog Papua, menurut Motte, banyak negara yang sudah mendukung proses dialog kecuali pemerintah Australia. Sikap pemerintah Australia yang tidak mengakui fakta ini mendapat kritikan dari negera-negara yang mendukung dialog Papua. “Target kami minimal mendapatkan dukungan dari berbagai negara di dunia yang menekan pemerintah Indonesia bahwa masalah Papua tidak akan bisa dibiarkan, dan akan berlarut, tapi perlu dialog. Saat ini pemerintah Amerika Serikat itu soal dialog merupakan suatu keputusan Departemen Luar Negeri,”katanya.

 

Oleh karena itu siapa pun yang akan menjadi Menlu berikut, tetap akan menyuarakan itu. Uni Eropa sudah menyuarakan itu. Negara-negara Pasifik Selatan menyuarakan itu, kecuali Australia yang tidak mau mengakui fakta di belahan bumi lain. “Jadi kami rally untuk mencari dukungan dari masyarakat, membangun awareness, lalu mengharapkan mereka memaksa pemerintahnya untuk menekan Jakarta supaya di dalam tahun ini paling tidak agenda Papua bisa menjadi salah satu agenda internasional. Jadi, minimal target kami kalau belum bisa dialog, bagaimana diamasalah Papua  bisa menjadi perhatian dunia,”katanya

 

Selain itu, menurut Octovianus Mote, proses dialog harus dimulai dengan strategis, di mana kedua belah pihak tidak memulai dengan keinginan politik, tapi berfokus kepada penciptaan kedamaian di Papua. “Aspirasi rakyat Papua yang menuntut merdeka sebagai the end, satu-satunya jalan, bisa juga oleh orang yang mempromosikan dialog barangkali: ‘Ini kenapa kalian dialog kok menuntut merdeka lagi?’ Dialog yang kami perjuangkan adalah kedua belah pihak, baik Indonesia maupun Papua, dua-duanya tidak bicara tentang keputusan politiknya. Orang Papua tidak bicara merdeka, Indonesia juga tidak bicara NKRI, tapi dua-duanya sepakat untuk bicara bagaimana kita bisa menciptakan Papua sebagai tanah damai…Jadi, dialog harus dilihat bukan bicara merdeka atau tidak merdeka. Tapi dialog yang kami minta adalah menyelesaikan masalah yang terutama adalah menciptakan Papua sebagai tanah damai, di mana rakyat bangun pagi, ke kebun, tahu pasti dia bisa pulang, tidak takut dibunuh, karena itu adalah fakta. Dan saya lihat itu ketika saya bertugas sebagai kepala Biro Kompas di Papua,”katanya.

 

Mote yakin bahwa dialog untuk kedamaian akan bisa terjadi. “Saya melihat, tetap, akan ada proses menuju perdamaian. Ketika saya wartawan, saya melihat rakyat Indonesia adalah bangsa yang cinta damai, bahwa ada elit politik di Jakarta dan militer serta polisi yang serakah akan kekuasaan. Tetapi kalau rakyat itu bangkit dan menekan pemerintahnya, suatu saat dialog akan dilakukan. Yang kedua, dari sisi internasional, masalah Papua tidak akan begitu saja berlalu kepetingan dunia internasional…jadi saya yakin akan ada dialog,”kata Mote mengahiri wawancaranya bersama Lily Yulianti Farid (Jubi/Mawel)

 

Sumber: http://tabloidjubi.com/?p=2176

Scroll to Top