20131018 215803 2035 l

Octovianus Mote: AS Tidak Dukung Pendekatan Lain di Luar Dialog

20131018 215803 2035 lOCTOVIANUS MOTTE: Salah satu juru runding orang asli Papua yang di tunjuk pada konferensi perdamaian Papua, tgl 5-7 Juli 2011 di Jayapura (Foto: vimeo.com)

Amerika, MAJALAH SELANGKAH — “Amerika selalu akan dorong agar Indonesia dan Papua harus selesaikan masalah Papua melalui dialog. Dengan kata lain, Amerika tidak dukung pendekatan lain di luar dialog. Itu sudah merupakan keputusan luar negeri Amerika.”

 

Demikian dikatakan Octovianus Mote, penerima Tom and Andy Berstein Senior Human Rights Fellow di Yale Law School dalam wawancara khusus dengan majalahselangkah.com, Sabtu, (19/10/13).

 

Sambungnya, “Itulah sebabnya barusan ini (2 Mei 2013) Duta Besar kami (Amerika Serikat) di Jakarta, Scot Marciel mengambil foto resmi bersama Pater Dr. Neles Tebay, Pr selaku koordinator Jaringan Damai Papua (JDP) yang mendorong Dialog Jakarta-Papua. Foto tersebut dipasang di website milik kedutaan negara kami, Amerika di Jakarta.”

 

Hal ini, kata Mote, merupakan satu bukti untuk memberitahu pemerintah Indonesia tanpa keliling bicara bahwa Amerika Serikat mendukung Dialog sebagai satu-satunya jalan selesaikan masalah Papua.

 

“Pertanyaan berikutnya apa masalah itu menurut pemerintah Amerika? Selama bertahun-tahun pemerintah melihat dan menegaskan bahwa masalah itu adalah kesejahteraan dan pembangunan. Posisi ini berubah di era Hillary Clinton menjadi Menteri Luar Negeri. Beliau katakan dalam pidato di Universitas Hawaii menjelang kunjungan Presiden Barack Obama ke Indonesia bahwa masalah Papua lebih dari masalah kesejahteraan dan pembangunan,” tuturnya.

 

“Karena itu, beliau meminta Indonesia dan Papua selesaikan masalah tersebut melalui diolog.”

 

Sayangnya, kata mantan kepala biro Papua Kompas, Harian terbesar di Indonesia ini, pemerintah Indonesia tidak merespon permintaan atau desakkan itu dengan membuka ruang dialog.

 

“Presiden Indonesia Susilo Bambang Yudhoyono dan pembantunya coba melakukan konsultasi dengan berbagai pihak di Papua misalnya dua kali dengan para pimpinan agama. Para pembantunya yang ditugaskan mengurusi masalah Papua melakukan pertemuan dengan berbagai pihak secara terpisah dan kebanyakan tertutup,” tuturnya.

 

Tetapi, kata Mote yang telah menjadi warga negara Amerika Serikat ini, “Tentu saja ini bukan sebuah dialog dalam pengertian umum sebagaimana didorong pemerintah kami di sini. Dialog yang dimaksud adalah perwakilan Indonesia dan perwakilan Papua duduk setara membicarakan apa yang menjadi masalah menurut masing-masing pihak dan mencari jalan keluar secara damai di meja perundingan tersebut”.

 

Ia menjelaskan, pertemuan itu tentu saja terbuka, sehingga rakyat Papua dan Indonesia bisa terlibat mengikuti agar keputusannya bisa diterima secara nasional. Hanya melalui cara itu Indonesia dan Papua bisa selesaikan masalah Papua sekali untuk selamanya.

 

Kini Indonesia mencoba atasi masalah Papua dengan ajukan satu kebijaksanaan kepada kebijaksanaan lain. Pertanyaannya, apakah Amerika dukung kebijaksanaan tambal sulam ini?

 

“Tentu bukan pada posisinya pemerintah Amerika mencampuri secara detail kebijaksanaan pemerintah Indonesia. Namun, bagi Amerika, pertanyaannya apakah semua kebijaksanaan itu hasil dialog atau keputusan satu pihak? Kalau dilihat prosesnya, semua ini sepihak tanpa melibatkan perwakilan rakyat Papua. Ini hanya kerja sejumlah intelektual Papua dan Indonesia yang dipaksakan kepada rakyat Papua,” tutur Mote yang hingga kini tanpa lelah melobi Kongres AS dan pemerintah AS untuk isu HAM di Papua dan Indonesia secara lebih luas.

 

Maka tentu saja, jelas Mote, kebijaksanaan ini bukan merupakan jawaban atas desakan Amerika yakni apa pun jalan keluarnya mesti diambil melalui sebuah proses dialog yang damai.

 

“Pemerintah Amerika dan banyak negara di dunia yang memiliki kepentingan di Papua dan Indonesia mengikuti secara serius masalah Papua, tahu betul bahwa kebijaksanaan Otonomi Khusus dan Otonomi Plus apalagi UP4B tidak selesaikan masalah dan sebaliknya menambah masalah. Mereka ikuti akan posisi rakyat Papua melalui Majelis Rakyat Papua (MRP) yang menolak Otonomi dan Otonomi Khusus dan menuntut adanya dialog. Hal ini sejalan dengan kebijaksanaan pemerintah Amerika,” kata Mote.

 

Salah satu dari antara lima orang Negosiator Papua Damai yang ditunjuk rakyat Papua melalui konferensi di Jayapura dalam bulan Juli 2011 ini tidak melihat bahwa Indonesia akan bersedia melakukan dialog sebagaimana yang diharapkan. “Pemerintah akan selalu memaksakan kehendaknya dengan aneka kebijaksanaan yang tumpang tindih dan pendekataan keamanan walau bentuknya berubah.”

 

Satu contoh konkret, kata dia, UP4B. “Unit ini katanya untuk mempercepat pembangunan, namun yang terjadi adalah melalui proyek ini jumlah pasukan ditingkatkan dengan dalih membangun belasan jalur jalan baru di seluruh Papua.”

 

“Melihat fakta ini jalan satu-satunya adalah membawa masalah Papua ke PBB melalui berbagai mekanisme yang tersedia. Salah satu mekanismenya adalah hak asasi manusia di mana ketika Indonesia dievaluasi tahun 2012 lebih dari 12 negara dan 40 negara anggota menyoroti secara tajam masalah Papua,” kata Mote memberi solusi.

 

Dikatakan, di mata dunia sekarang ini ketika bicara HAM di Indonesia hanya ada dua masalah yakni masalah kelompok minoritas dan masalah Papua. “Yang kita akan terus perjuangkan adalah bagaimana masalah HAM ini bisa dipakai sebagai jalur untuk menyelesaikan masalah Papua secara tuntas. Dalam konteks ini, buah dari diplomasi orang Papua di luar negeri sudah nampak dari pidato Perdana Menteri Vanuatu dalam sidang umum PBB tahun ini.”

 

Menurut Mote, pidato bersejarah Perdana Menteri Vanuatu perlu dilanjutkan dengan lobby intensif agar permintaannya itu bisa dicapai. “Satu kali pidato tidak akan selesaikan masalah, apalagi kalau tidak ada lobby lebih lanjut. Namun, pidato bersejarah itu amat sangat penting sebagai upaya membawa masuk masalah Papua dalam pembicaraan di PBB.”

 

“Yang kita akan tingkatkan dalam beberapa saat ke depan ini bagaimana memperjuangkan Papua masuk menjadi agenda pembicaraan di PBB. Ini bukan mimpi karena dunia tahu bahwa masalah Papua belum selesai. Bangsa-bangsa Melanesia akui bahwa bangsa Papua masih perlu wujudkan hak paling asasi dalam menentukan nasib sendiri,” tutur Mote.

 

Orang Papua dengan dibantu negara Melanesia dan negara lain yang peduli Papua, Mote yakin orang Papua akan mencapai target. “Diplomasi ala proyek yang dikembangkan selama ini di mana sejumlah kelompok klaim jalur dan wilayah tertentu sebagai milik mereka, kita sedang hapus dan ganti dengan kerjasama saling menunjang dalam agenda perjuangan yang didorong masing-masing diplomat.”

 

Tentu saja, Mote akui, ada satu dua orang yang masih terjebak dalam pemikiran sempit dan menolak orang lain dari luar kelompoknya padahal kemampuannya terbatas. Orang macam ini tidak sadar bahwa dirinya sedang membunuh perjuangan Papua di luar negeri karena dengan menutup tawaran pejuang Papua lain untuk membantu dia melewatkan peluang emas yang tersedia di depan mata. “Kemajuan politik akan ditentukan oleh kemampuan melihat dan menciptakan serta memanfaatkan peluang yang ada.”

 

Mote lebih lanjut menjelaskan, jumlah orang-orang yang pikirannya kerdil ini tidak banyak, kurang dari 5 orang. “Mereka ini hanya pikir diri sendiri dan bukan kepentingan bangsa Papua. Mereka ini akan selalu klaim bahwa kemajuan politik tertentu di suatu tempat tertentu dan dalam issue tertentu terjadi karena mereka. Mereka tidak akan akui orang lain yang keras sebelum mereka, mereka juga tidak akui orang lain yang membantu mereka dalam mendorong agenda yang mereka perjuangkan. Mereka akan lihat orang Papua lain sebagai musuh. Orang Papua lain sebagai orang-orang yang mau curi kredit.”

 

“Tetapi sekali lagi periode itu lewat, mereka yang pikiran kerdil ngotot eksklusif dalam kelompoknya ini semakin tidak didukung anak-anak muda yang kini mulai masuk dalam diplomasi Papua di luar negeri. Mereka yang meneruskan persaingan antara kelompok dari dalam negeri akhirnya akan tertapis keluar dan dalam tahun 2013 diplomasi Papua akan maju bersama.” (MS)

 

Baca selengkapnya:http://majalahselangkah.com/content/octovianus-mote-america-tidak-dukung-pendekatan-lain-di-luar-dialog

Scroll to Top