bu Adri dan Pater Neles

“Neles Tebay in Memoriam: Jalan Panjang & Berliku Menuju Rekonsiliasi di Tanah Papua”

Pater Neles, demikian para sobat memanggilnya, telah pergi selamanya. Kepergian Pater terasa sangat mendadak meskipun kabar sakitnya sudah terdengar sejak sekitar tiga tahun terakhir. Ketika sosoknya tidak ada lagi, satu per satu ingatan pun bermunculan. Meskipun perkenalan saya dengan Pater Neles baru terjadi pada 2009, tulisan ini tidak mampu mengulas seluruh pengalaman perjumpaan dan pembicaraan saya dengan Pater. Sejak mendapatkan gelar S3 dari Roma sebagai pakar rekonsiliasi, pergulatan dan komitmen hidup Pater Neles seolah hanya tertuju pada upaya mewujudkan dialog damai bagi Papua.

Saya dan (alm.) Muridan Widjojo mengundang Pater Neles dalam pertemuan terbatas di kantor Pusat Penelitian Politik (P2P) LIPI beberapa bulan setelah peluncuran buku Papua Road Map (PRM) pada awal tahun 2009. Kami ingin mendapatkan masukan dari Pater mengenai rencana kegiatan Tim LIPI di Papua sebagai tindak lanjut dari hasil penelitian yang dituliskan dalam buku PRM, terutama mengenai dialog sebagai sebuah pendekatan baru untuk Papua. Setelah pertemuan itu, Pater Neles menjadi orang pertama yang merespons ide dialog dan menuliskannya dalam buku “dialog Jakarta-Papua” sebagai perspektif seorang Papua.

Sebagai home ground initiative, hasil penelitian analisis Tim LIPI mendapat tanggapan dari Menteri Pertahanan, Prof. Dr. Juwono Sudarsono sebagai pembicara kunci dalam acara peluncuran buku PRM, dimana Menhan menyatakan “NKRI bukan harga mati, tapi harga hidup”. Dalam pemahaman saya, maksudnya adalah bahwa NKRI harus terus diperjuangkan karena Papua masih bermasalah. Selanjutnya, Menhan menyarankan (tepatnya menanyakan) analisis Tim LIPI mengenai geopolitik dan geoekonomi Papua dalam memperkuat konsep NKRI. Tampaknya hal ini masih menjadi “pekerjaan rumah” bagi Tim LIPI sampai sekarang.

Singkat kata, setelah mendengarkan dan mempertimbangkan pandangan Pater Neles, kami pun memulai kegiatan di Papua mulai 2010 sampai 2017 dalam berbagai bentuk, seperti pertemuan dengan key persons dari Papua, merumuskan konsep dialog, konsultasi publik mengenai dialog, pertemuan eksploratif (sebanyak sembilan pertemuan di berbagai kota), serap aspirasi rakyat, lobby, diplomatic briefing, strategic meeting, merumuskan policy brief, media briefing dan kampanye media.

Meskipun rutin bertemu di LIPI, secara personal, saya terus berkomunikasi dengan Pater Neles melalui telpon, pesan singkat (SMS) dan WA. Tidak jarang kami sempatkan untuk “ngobrol santai sambil ngopi” di Jakarta dan Jayapura. Dalam ingatan saya, Pater selalu antusias mendengar setiap perkembangan yang saya sampaikan terkait Papua. Pater bukan hanya seorang pendengar yang baik, namun juga senantiasa berpikir positif, meskipun terkadang kami sama-sama menyadari betapa tidak mudahnya mendorong pendekatan dialogis untuk membangun Tanah Papua yang aman dan damai.

Pater Neles gemar membaca dan kerap menandai dan membuat catatan pada halaman buku yang dibacanya. Kegemarannya membaca membuat Pater memiliki banyak gagasan yang dituangkan dalam tulisan dan artikel koran. Dalam berbicara, pemikiran dan pandangannya disampaikan dalam kalimat-kalimat yang sangat runtun. Kalau sudah benar-benar yakin, Pater tidak ragu dalam mengambil keputusan sambil tetap bersabar menunggu setiap kemajuan proses dialog. Pater bahkan selalu berharap yang terbaik di tengah ketidakpastian atas setiap perkembangan. Untuk mewujudkan dialog damai, Pater siap meninggalkan agenda yang tidak relevan dengan dialog, “Say No to Yes”. Inilah ungkapan untuk menggambarkan tekad Pater dalam mendorong dialog damai bagi Papua.

Benarkah Pater Neles selalu optimis? Di dalam ekspresi ketegarannya, ternyata Pater pernah berada dalam kondisi sulit. Seseorang di Abepura menyampaikan kepada saya perbincangannya dengan Pater pada sekitar akhir tahun 2018. Menurutnya, sejak kematian sobat Muridan (pada 7 Maret 2014), Pater ibarat “kehilangan sebelah sayapnya”. Mengapa? Secara konsensus, sejak JDP didirikan pada awal 2010, para anggotanya bersepakat menetapkan kedua sobat sebagai koordinator JDP, Pater Neles sebagai koordinator Jaringan Damai Papua (JDP) di Papua. Sedangkan Muridan menjadi koordinator JDP di Jakarta. Bagi Pater Neles, kepergian sobat Muridan menggambarkan tugas dan beban berat yang harus dipikulnya sendiri dalam mewujudkan dialog damai. Apalagi Pater juga dicurigai “terlalu dekat” dengan Jakarta. Kesimpulannya, sebagai pembuka jalan (Kebadabi), Pater pernah berada “di persimpangan jalan”, namun demikian Pater terus berupaya dengan sepenuh hati untuk menjadi fasilitator dialog yang objektif bagi siapa pun.

Keteguhan hatinya untuk terus berjuang tampak ketika Pater Neles harus menjalani operasi tulang sekitar tiga tahun lalu, proses penyembuhan melalui terapi setiap hari selama lebih kurang enam bulan tanpa henti dilakukannya dengan tekun. Ketika bisa menggerakkan jari kaki setelah terapi awal, Pater merasa sangat bersyukur, bahkan setelah dapat berjalan tanpa bantuan tongkat lagi, Pater mengungkapkan rasa syukurnya yang tak terhingga dan kesembuhannya ketika itu dimaknai sebagai kesempatan hidup yang kedua. Pater kelihatan lebih bersemangat dari sebelumnya. Meskipun Pater sempat merasa sangat kecewa karena operasi tulang ketika itu menyebabkan Pater tidak sempat menghadiri pertemuan eksploratif ke-delapan di Hotel Intercontinental Jakarta.

Keyakinan akan terwujudnya dialog bagi Papua semakin terang benderang manakala Pater Neles ditelpon oleh Menteri Sekretaris Negara, Bapak Pratikno untuk memenhui undangan Presiden Joko Widodo di Istana Negara Jakarta. Pertemuannya dengan Presiden Jokowi bersama dengan para tokoh agama, tokoh adat dan aktifis HAM yang lain, baik dari Papua dan Papua Barat, pada 15 Agustus 2017, menghasilkan harapan terwujudnya dialog. Beberapa hari setelah itu, Pater mengajak saya bertemu untuk menyampaikan hasil pertemuan di Istana. Ketika kami bertemu, raut terkejut sekaligus bahagia tidak dapat disembunyikan oleh Pater Neles. Saya memberi selamat dan meneguhkan kembali amanat Presiden itu bahwa Pater harus segera bekerja menyiapkan dialog bersama dengan Menko Polhukam, Jenderal Wiranto dan Kepala KSP, Bapak Teten Masduki sebagai penanggungjawab (person in charge/PiC) untuk merealisasikan dialog sektoral.

Saya ingat jauh sebelum bertemu Presiden, Pater pernah bilang bahwa dia lebih suka kalau yang menjadi PiC bukan dirinya, tetapi orang non-Papua saja supaya prosesnya lebih objektif. Namun bagaimana mungkin menolak perintah Presiden? Oleh karena itulah saya mendukung Pater Neles untuk tidak menunda lagi. Beberapa pertemuan persiapan dialog dilakukan di Waena (Papua), Lombok dan Makassar, namun sayangnya, sejak sekitar satu setengah tahun terakhir, persiapan dialog sektoral belum mengalami kemajuan secara signifikan.

Beberapa bulan sebelum kepergian Pater untuk selamanya, kami bertemu di Bali. Saya kembali coba meyakinkan dan mendorong Pater bertemu Presiden untuk menyampaikan progres persiapan dialog sektoral, meskipun kami sama-sama menyadari jelang tahun politik, konsentrasi pemerintah banyak tertuju pada persiapan pemilu ketimbang dialog. Saya tidak tahu apakah Pater kemudian setuju dengan masukan saya, namun saya sempat mendengar Pater berharap dapat bertemu Kepala KSP, Jenderal Moeldoko. Ternyata keinginan Pater tidak pernah terwujud sampai kepergiannya pada 14 April 2019 jam 12.15 WIB.

Kalau benar sejak kematian Muridan, seolah-olah Pater merasa ditinggalkan, bisa jadi sampai akhir hayatnya Pater memilih untuk menyimpan kegelisahannya mengenai masa depan dialog untuk dirinya sendiri. Meskipun Pater tidak pernah menyampaikan secara terbuka, di hari-hari terakhirnya di Rumah Sakit Carolus, saya menangkap sinyal kekecewaan dan kegelisahan itu. Sementara pada saat yang sama Pater sedang menahan sakit yang luar biasa, meskipun Pater selalu berusaha menyemangati para pengunjung dengan mengangkat jempol tangannya, yang mugkin bermakna bahwa kami semua tidak perlu khawatir dengan kondisi kesehatannya.

Bagaimana dengan pertanyaan para sobat mengenai masa depan dialog? Beberapa orang juga bertanya langsung pada saya. Saya sendiri juga bertanya-tanya, apakah Pemerintah Indonesia masih konsisten dengan keputusannya untuk mewujudkan dialog sektoral? Sayangnya kita harus menunggu jawabannya, bisa Ya, bisa juga Tidak. Meskipun proses dialog Papua terus mengalami pasang surut, saya tetap mau berharap agar Pemerintah Indonesia tidak mundur dari kesepakatan untuk melakukan dialog sektoral. Meskipun Pater Neles tidak ada lagi, JDP memiliki banyak anggota yang berkomitmen untuk secara konsisten mendorong dialog, karena dialog merupakan pendekatan partisipatif dalam proses pembangunan (politik, ekonomi dan sosial budaya) Papua.

Sekedar saran, para anggota JDP sebaiknya segera menindaklanjuti agenda kegiatan dialog yang tertunda, seperti kampanye media. Namun yang paling penting adalah menyusun strategi melanjutkan komunikasi politik dengan Pemerintah di Jakarta dan di Tanah Papua karena dialog sektoral sungguh harus dapat diwujudkan berlandaskan kesepakatan bersama dengan masyarakat sipil untuk mengatasi akar persoalan di Tanah Papua.

Selamat jalan “Doktor Rekonsiliasi”, semoga apa yang sudah Pater rintis dapat diwujudkan oleh para pemangku kepentingan yang telah terlibat dalam persiapan dialog damai bagi Papua. Pater Neles Kebadabi Tebay, Pr. may you rest in peace.

Ditulis oleh: Dr. Adriana Elisabeth, M.Soc.Sc (Koordinator Jaringan Damai Papua – Jakarta)

Scroll to Top