NAPAS : Percepat Dialog Jakarta – Papua

Jakarta, berita9.com – Di awal tahun 2013, organisasi aktifis Papua meminta aparat keamanan khususnya TNI dan Polri menghentikan kekerasan di tanah Papua. Organisasi yang dimaksud itu adalah Dewan Adat Papua (DAP), Nasional Papua Solidaritas (NAPAS) dan Bersatu untuk kebenaran (BUK).

 

“Awal tahun saja sudah ada 13 rakyat sipil tak berdosa menjadi korban penembakan, tabrakan, penangkapan, serta penyisiran yang dilakukan oleh aparat,” demikian kata koordinator National Papua Solidarity (NAPAS) Marteen Goo saat jumpa pers di kantor Kontras, Selasa (8/1/13).

 

Marteen memaparkan berbagai peristiwa yang terjadi yaitu :
Pertama, kasus pada tanggal 1 Januari 2013 terjadi penembakan terhadap ibu Malega Tabuni (43) di Porasko, yang terletak diantara kantor Polda Papua dan Angkatan Laut. Dan matinya Yakob Mote pada tanggal 1 Januari 2013 setelah ditabrak lari oleh mobil patroli Polres Paniai pada tanggal 31 Desember 2012 pkl 17.00 wib

 

Kedua, lanjut Marteen, kasus pada tanggal 4 Januari 2013 terjadi penabrakan lari terhadap 3 warga Papua di Pertigaan Wonorejo Nabire, dengan korban tewas Feri Wakei (siswa kelas 5 SD), dan 2 korban kritis Alfons Tekege (12) dan Anton Wakei (32) yang juga sebagai Kepala Distrik. Ketika keluarga korban hendak mencari tahu pelaku penabrakan, Polisi justru menghadang mereka dan memaksa bubar bahkan menembak 2 orang warga, yakni Apedius Wakei (31) dibagian bokong dan Yohanes Tekege (26) di bagian paha.

Aparat juga menangkap 7 orang warga lainnya namun kemudian membebaskannya pada tanggal 5 Januari 2013, setelah diinterogasi.

 

Ketiga, Kasus pada tanggal 7 Januari 2013 terjadi penyisiran di Pugo kab. Paniai oleh Densus 88, yang diikuti oleh pembakaran 13 rumah warga yang diduga menjadi Pos Tentara Pembebasan Nasional (TPN), dan 6 rumah milik rakyat. Akibat penyisiran itu masyarakat dari Kampung Pugo sebagian besar mengungsi kehutan.

 

Oleh karenanya, pihaknya mendesak kepada pemerintah yaitu : pertama, TNI dan Polri segera menghentikan kekerasan di Papua dan hentikan penyisiran-penyisiran dan pembakaran rumah warga. Kedua, Kapolda dan Negara segera mengungkap dan mengadili semua kejahatan dan pelaku kejahatan kemanusiaan di papua.

 

“Ketiga, membuka ruang bagi media nasional dan internasional serta pekerja kemanusiaan internasional untuk melakukan investigasi,” paparnya.

 

Terakhir, masih kata Marteen, agar segera menggelar dialog Jakarta – Papua sebagai sebuah sarana penyelesaian masalah secara martabat, sebagai upaya penyelamatan rakyat papua yang tinggal sisa atas kejahatan kemanusiaan yang dilakukan oleh negara dalam kurun waktu 50 tahun terakhir.(Bs/Yd)

 

source: http://berita9.com/2013/01/08/napas-percepat-dialog-jakarta-papua/

Scroll to Top