Mengenang Setahun Meninggalnya Pastor Neles Tebay

TIFFANEWS.COM,- Hari ini tanggal 14 April 2020  tepat satu tahun meninggalnya salah satu Tokoh Papua terkemuka Pastor Neles Tebay, Pr. Meski sudah setahun meninggal, pikiran dan semangat tentang penyelesaian konflik Papua masih terus relevan.

Almarhum Pastor Neles Tebay lahir di Moanemani, Wissel Paniai 13 Februari 1964. Alamrhum meninggal 14 April 2019 pukul 12.15 WIB di RS St Carolus Jakarta.

Semasa hidupnya almarhum dikenal sebagai sebagai rohaniwan katolik dan penulis untuk surat kabar Kompas, Suara Pembaruan, The Jakarta Post, dan Tifa, serta menulis banyak buku.

Sebelum meninggal, lulusan doktor dari Universitas Kepausan Urbaniana, Roma ini menjabat Ketua STFT Katolik Abepura Jayapura Papua dan Koordinator Jaringan Damai Papua.

Advokat dan Pembela Hak Asasi Manusia (HAM) Yan Christian Warinussy melalui pesan singkat kepada tiffanews.com, hari ini Selasa (14/4), mengenang pastor Neles Tebay sebagai penganggas penyelesaian damai atas konflik sosial politik di Tanah Papua.

“Sejak tahun 2015, Doktor Tebay sudah mendorong gagasan penyelesaian damai atas konflik sosial politik di Tanah Papua. Almarhum Pater Neles Tebay menuliskan gagasannya di dalam buku berjudul : Dialog Jakarta-Papua; Sebuah Perspektif Papua. Buku tersebut diterbitkan oleh Kantor Sekretariat Keadilan dan Perdamaian pada Keuskupan Jayapura,” kata Yan Warinussy peraih Penghargaan Internasional HAM “John Humphrey Freedom award tahun 2005 di Montreal-Canada ini.

Kata Warinussy, di akhir bukunya itu, almarhum Tebay menulis  : “,…. waktunya sudah tiba untuk melihat ke depan dan bergerak maju untuk menggapai cita-cita bersama yakni terciptanya Papua sebagai Tanah Damai. Diskusi-diskusi informal dan formal tentang dialog konflik Papua sudah bisa dimulai,…”

Pernyataan almarhum Pater Doktor Tebay, Yan Warinussy, sangat bersifat termasa untuk digumuli oleh Presiden Republik Indonesia Joko Widodo dan pemerintahannya dalam menyikapi tawaran jedah kemanusiaan (humanitarian pause) yang “ditawarkan” oleh Letnan Jenderal Tentara Pembebasan Nasional Organisasi Papua Merdeka (TPN OPM) Bomanak Jeffrey, 8/4 lalu.

Deputy Koordinator JDP di Provinsi Papua Barat ini melihat bahwa sudah waktunya pemerintah Indonesia dan TPN OPM sebagai pihak yang senantiasa mengedepankan jalan “angkat senjata” dalam penyelesaian konflik sosial politik di Tanah Papua secara bersama melihat ke depan dan bergerak maju untuk menyelesaikan perbedaan pemahaman diantara mereka melalui jalan damai.

“Saya yakin bahwa pilihan “perang” atau “konflik bersenjata” diantara Polri bersama TNI menghadapi TPN OPM di sekitar area operasi pertambangan PT.Freeport Indonesia Company di Tembagapura dan Nduga hingga seluruh Tanah Papua perlu segera diakhiri,” kata Yan Warinussy yang juga Direktur Eksekutif Lembaga Penelitian, Pengkajian dan Pengembangan Bantuan Hukum (LP3BH) Manokwari.

Menurut Yan Warinussy, bencana kemanusiaan akibat paparan Covid-19 dewasa ini di Indonesia hingga ke Tanah Papua seyogyanya dapat menjadi jalan bagi lahirnya kesadaran dan kemauan politik Presiden Jokowi dan pemerintah Indonesia untuk merubah pola pendekatan keamanan selama lebih dari 50 tahun di Tanah Papua dengan pendekatan damai untuk menyelesaikan konflik sosial politik akibat perbedaan pemahaman mengenai sejarah Integrasi Papua yang diakui jelas di dalam konsideran UU RI No.21 Tahun 2001 Tentang Otonomi Khusus Bagi Provinsi Papua tersebut.

“Diskusi-diskusi informal bahkan formal sebagaimana ditawarkan almarhum Pater Tebay dan JDP selama 10 tahun terakhir ini seyogyanya dapat dimulai oleh kedua belah pihak. Pada aras tersebut saya melihat bahwa status Indonesia dan rakyat Papua yang direpresentasikan dalam wadah United Liberation Movement for West Papua (ULMWP) di wadah Melanesian Spearhead Group (MSG) dewasa ini tepat untuk menjadi tempat dimulainya pertemuan awal membangun perdamaian dimaksud,” tutupnya. (Bn)

Sumber: https://tiffanews.com/index.php/2020/04/14/mengenang-setahun-meninggalnya-pastor-neles-tebay/

Scroll to Top