Masih Ada Pro Kontra Soal Dialog Jakarta – Papua

 

Neles Tebay: NKRI dan Pro Merdeka Sama-sama Pertahankan Diri


JAYAPURA – Pastor Neles  Tebay, Pr dari Jaringan Damai Papua (JDP) menyatakan, “Kerja kerja dari  JDP, tak perlu diekspos ke media, karena akan menimbulkan wacana  dan multi tafsir  pada publik. Namun demikian ia  mempersilahkan kepada semua pihak berkomentar tentang Dialog Jakarta- Papua,  sesuai apa pendapat mereka. Itu  merupakan hal yang baik, bahwa semua orang memeng mau berdialog

Namun kesan kental dari ungkapan Dialog, masih begitu ditakuti, masih ada  pro kontra  penggunaan istilah Dialog dan komunikasi konstruktif yang dipakai Pemerintah.  Dalam seluruh tahapan  Dialog Jakarta  Papua, ada dua kelompok kepentingan yang sama sama mempertahankan diri, NKRI dan kelompok Papua Merdeka, mau  diakui atau tidak dalam seluruh proses proses membangun komunikasi dengan Pemerintah, khusus Presiden SBY.

Neles melihat, belum adanya titik temu antara NKRI- Papua mengakibatkan Pemerintah  menempatkan dirinya dengan Merah putih, NKRI  Harga Mati dan kelompok Papua Merdeka tetap dengan Papua Merdeka Harga Mati dengan Bintang Kejoranya. Keduanya,  baik NKRI dan Papua Merdeka punya harapan yang sama untuk bertemu, namun masing masing dengan harapan besarnya. Karena yang berkonflik adalah Pemerintah Indonesia dengan rakyat Papua, terutama Kelompok Pro Merdeka. Neles mengatakan, antara Pemerintah RI dengan Papua, diperlukan titik temu dan titik temu itu belum ada, karena Presiden SBY hanya menginginkan sebuah komunikasi konstruktif, meski belakangan ada kemauan baik Presiden  SBY untuk melakukan Dialog dengan  Rakyat Papua. Pemerintah dalam hal ini Presiden SBY sangat  mengharapkan kejelasan tentang tempat dialog, Format Dialog, Agenda Dialog serta Mekanisme Dialog yang menurut Neles, Presiden sangat menekankan  keempat hal ini.

Bila  Dialog dilakukan di Jakarta, ada ketakutan sendiri, bahwa Orang Papua nanti banyak mati disana, lantas ada ketakutan juga dari Pihak pemeirntah, bila Dialog  dilakukan di Papua berati ancaman bagi Pemerintah. Neles tak memungkiri, bahwa   kesan  Dialog, masih dirasakan berbau Politik di telingah Pemerintah. Namun yang perlu diperhatikan adalah Dialog yang tengah digagas adalah berupaya mencari jalan keluar antara Pemerintah Indonesia dengan rakyat Papua yang mau merdeka, sebab persoalan dan konflik yang terjadi merupakan konflik antara Pemerintah dengan Rakyat Papua yang harus diselesaikan dalam Dialog.

Ia menyatakan, tahap demi tahap menuju Dialog telah digagas, untuk mencapai titik temu   dan mempertemukan kedua pihak Pemerintah dengan Rakyat Papua, maka masukan dari kelompok kelompok perempuan Papua sangat diperlukan untuk mencapai titik temu tersebut. Hal ini diungkapkan Neles  Tebay dalam kesempatan diskusi  tentang Dialog Perspektif Perempuan yang diselenggarakan Komnas Perempuan, Kamis( 12/7/2012) di GSG P3W Padang Bulan Abepura.

Dialog Perspektif Perempuan yang diselenggarakan ini, untuk mencari masukan dari para Perempuan Papua yang ada di semua Kabupaten dan Kota di Papua.  Neles menegaskan, peran perempuan tak bisa diabaikan, justru perempuan harus dilibatkan dan mengambil peran dalam seluruh proses Dialog  Jakarta- Papua. Dengan  lima agenda utama materi Dialog yaitu, masalah Politik, Sosial ekonomi, Hukum dan HAM, Keamanan  dan Sosial Buadaya. Perempuan  akan mengambil peran diantara kelima agenda Dialog ini, dan diharapkan apa yang diputuskan para Perempuan akan menjadi  bahan rekomendasi  sekaligus titik temu untuk mencapai suatu kesepakatan, ungkap Neles.(Ven/don/l03)

 

Sumber: http://bintangpapua.com/headline/24805-masih-ada-pro-kontra-soal-dialog-jakarta-papua

Scroll to Top