Mantan Tapol-Napol Papua Desak Jokowi Berunding dengan TPN-OPMAbepura,

Jubi – Para mantan narapidana politik dan tahanan politik (Napol-Tapol) Papua Merdeka mendesak Presiden Indonesia Joko Widodo (Jokowi) dan Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK) harus duduk dalam satu meja perundingan dengan Tentara Pembebasan Nasional-Organisasi Papua Merdeka (TPN-OPM), menyelesaikan masalah konflik antara TPN-OPM dengan pemerintah Indonesia di Papua.

 

“Kalau perundingan Aceh-Jakarta bisa, mengapa Papua tidak?” ungkap Saul Yikwa Bomay, salah satu mantan Tapol/Napol era 1980-an dalam jumpa persnya di Kafe Prima Garden, Abepura, Kota Jayapura, Papua, Senin (27/10).

 

Menurut Bomay, TPN-OPM yang dimaksud bukan faksi politik yang bergerak di dalam kota. Apa pun namanya yang bergerak di kota tidak dimaksudkan Bomay, selain OPM yang berjuang melalui perang gerilya di hutan belantara Papua.

 

“Kalau bicara dengan mereka yang di kota, ini sama saja bicara dengan Indonesia. Ada penyusup yang masuk,” katanya.Menurut Bomay, pertemuan apa pun dengan yang ada di kota tanpa melibatkan orang Papua  yang di hutan tidak akan menyelesaikan masalah Papua.“Konflik yang telah terjadi dan sedang terjadi, akan terjadi di masa depan. Kalau buat ini dan itu, tetapi ada korban terus berjatuhan ini sama saja (tak bermanfaat),” katanya.

 

Menurut Bomay, selain solusi yang akan disepakati, melalui perundingan itu bisa disepakati pembebasan Tapol-Napol Papua yang tersebar di seluruh Papua.“Pembebasan tanpa syarat demi nama baik pemerintah Indonesia di mata publik nasional dan internasional. Jokowi harus membebaskan para Tapol-Napol tanpa tuduhan kriminal, separatis, dan apapun labelnya,” ungkap Bomay.

 

Dalam menyelesaikan masalah Papua, menurut Bomay, Jokowi tak boleh gagal lagi. Kegagalan sebagaimana masa pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) gagal membangun dialog dengan orang Papua, walaupun sudah pernah menyatakan akan dialog dengan orang Papua.

 

Bomay menilai, mantan Presiden SBY gagal membangun komunikasi dengan aktivis Papua merdeka. Malah pemerintahan SBY main tembak aktivis Papua di sela-sela pernyataan mau dialog dengan orang Papua. Misalnya penembakan Kelly Kwalik di Timika, penembakan Mako Tabuni, Hubertus Mabel dan Martinus Yohame, serta sejumlah aktivis lainnya.Jika pemerintah Jokowi gagal, menurut Bomay, hanya ada dua pilihan bagi pemerintah. Pemerintah menyelengarakan refrendum untuk Papua atau pengakuan pemerintah atas kemerdekaan Papua.“Kalau solusi gagal, dua pilihan yakni peralihan atau referendum,” tandasnya.

 

Yusak Pakage, yang juga salah satu mantan Tapol-Napol Papua mengatakan, pemerintahan Jokowi adalah pemerintahan bersih dan cerdas. “Pemerintah yang presidennya sangat merakyat. Ada masalah rakyat langsung turun ke lapangan. Rakyat Papua punya harapan kepada Jokowi dengan memilihnya sebagai presiden,” katanya.

 

Sehingga, Pakage menyampaikan harapan yang sama dengan Bomay. “Pemerintah Jokowi harus membuka diri membangun komunikasi dengan orang Papua yang ingin memisahkan diri. Orang Papua yang memang beda dengan pulau lain di Indonesia dari segi geografis maupun ras. OPM yang mempersoalkan masalah Papua. Jadi Jokowi harus bicara dengan kami,” ungkapnya. (Benny Mawel)

 

Sumber:http://tabloidjubi.com/2014/10/27/mantan-tapol-napol-papua-desak-jokowi-berunding-dengan-tpn-opm/

Scroll to Top