neles tebay

Langkah Damai Si Pembuka Jalan

Neles Tebay tak mau merawat konflik, berulangnya kasus penembakan yang berenggut ratusan nyawa belum membaiknya kualitas pelayaan publik di papua, terutama di wilayah pedalaman, konflik Tambang hingga konflik Politik yang seolah tak berujung, membuatnya gelisah.

 

Oleh B Josie Julie Handarto.

 

Neles TebayPater DR.Neles Kebadabi Tebay,Pr

Lahir: Godide, Dogiyai 13 Februari 1964

Pendidikan:

S-1 teologi pada sekolah Tingg Filsafat

Teologi (STFT) Fajar Timur, Abepura, Papua 1990

Program Magister bidang pelayanan pastoral pada universitas Ateneo de Manila, Filipina,1997

Program Doktor bidang misiologi pada universitas Kepausan Urbaniana, Roma,2006

Pekerjaan:

 Wartawan “The Jakarta Post”’ 1998-2000

 Dosen Teologi (STFT) Fajar Timur,Abepura

Kegiatan:

 Anggota Forum konsultasi Para Pimpinan Agama (FKPPA) Tanah Papua

 Anggota Forum kerukunan Umat Beragama (FKUB) Provinsi Papua

 Persekutuan Gereja-Gereja Papua PGGP), 2010-kini

 Anggota Komisi Teologi pada Konferensi Wali Gereja Indonesia (KWI)

 Anggota komisi karya misioner, KWI 2013-2016

 Koordinator Jaringan Damai papua (JDP), sejak januari 2010

Pencapaian:

 Menulis tentang keadilan dan perdamaian di papua untuk bergai media Masa

 Sejumlah artikelnya diterbitkan menjadi Buku “ papua: its problems and posibilites for a peaceful solution”

 Menulis artikel ilmiah dalam sejumlah jurnal, seperti “ The Exchange”. “ journal Misiological and ecumenical Research”, “East Asian Pastoral Reviuew”, “The Commonwealth Journal of International Affairs”

Menulis buku antara lain:

 “ west Papua: The strungle for peace with justice” (2005), “ intervaith Endeavour for Peace in west Papua” (2006), “ dialog Jakarta-Papua: sebuah Prespektif Papua( 2009), “ Angkat Penah Demih Dialog Papua” (2012), “ reconciliation and Peace in West Papua” (2012)Mengapa selama hampir 50 tahun, sejak proses penyatuan dengan Republik Indonesia, semua Persoalan itu masih terus terjadi di Papua? Hal yang lebih menyesatkan, berbagai kebijakan pemerintah Pusat untuk Papua Justru “melanggengkan” konflik itu.

 

Inkonsistensi pelaksanaan Undang-

Undang nomor 21 tentang Otonomi Khusus bagi Provinsi

Papua membuat ketidak percayaan masyarakat Papua

kepada pemerintah pusat kian

mengerucut. Salah satu indikasinya saat sejumlah elemen masyarakat Papua menyeruhkan pengembalian UU itu melalui Majelis Rakyat Papua.

 

Berlahan-lahan belenggu ketidak percayaan antara pemerintah dan rakyat papua kian kuat mengikat. Menurut Neles, sikap itu lahir karena tiga para meter otonomi khusus, yaitu Perlindungan, Pemberdayaan dan Keberpihakan kepada orang asli Papua, belum di rasahkan rakyat Papua.

 

Tak ingin terpasung pada persoalan itu, Neles, dosen di Sekolah Tinggi Filsafat dan Teologi Fajar Timur Abepura, kota Jayapura, mewacanakan langkah damai untuk memutus rantai kekerasan itu.

 

Dinamika Dialog jakarta- Papua.

 

Neles Lahir di Godide, kampung kecil di wilayah Mapia yang kini termasuk kabupaten Dogiyai. Di dataran tinggi inilah

tinggal masyarakat Mee. Daerah itu bergunug- gunung denga lembah yang subur.

 

Memanfaatkan kesuburan

itu, warga Mapia umumnya

hidup sebagai petani

dan peternak. Dalam tradisi

itulah ia tumbuh.

Ia di tempa menjadi pekerja

keras sekaligus memiliki

rasa kebersamaan yang kuat.

 

Salah satu tradisinya,

memberikan nama

tengahnya kepada

anak-anak remaja saat

akil baik. Tua- tua adat

mengamati sikap dan tingkah

laku spontan mereka saat

remaja itu di lepas di hutan

pada masa inisiasi.

Saat Neles remaja,“ hutan”

itu berganti menjadi

sekolah. Ketika di tabiskan

menjadi imam keuskupan

Jayapura pada 28 juli 1992 di Waghete, Kabupaten Deiyai, ia mendapat nama adat Kebadabi. “ dalam bahasa Mee berarti orang yang membuka pintu atau jalan,” katanya.

Ketika di namika relasi Jakarta-Papua tak kunjung serasi dan terus di warnai perseteruan, nama itu seakan menuntun Neles menapaki jalannya, sejak 10 tahun terakhir lewat tulisan diskusi, seminar, hingga keaktifan di berbagai kegiatan, ia menyeruhkan perlunya langka damai bagi Papua.

 

Keterlibatan dalam Jaringan Damai Papua (JDP) sejak januari 2010 mewacanakan dialog Jakarta-Papua jaringan itu terdiri dari Individu, kelompok sipil di Papua. Bersama Muridan S. Widjojo, Peneliti Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Neles di daulat menjadi Koordinator jaringan itu.

 

Mereka merancang kegiatan dan aktif menyosialisasikan gagasan damai ke beberapa pihak di Papua dan Jakarta. Lobi itu tak hanya menembus tembok di sejumlah Kementrian dan Departemen, tapi juga menembus Gunung dan lebatnya belantara Papua. Tak hanya kalangan birokrat dan tokoh masyarakat di Papua, tokoh-tokoh utama Organisasi Papua Merdeka (OPM) pun di temui. JDP dalam sosialisasi itu menginisiasi gagasan yang secara rinci di tulis Neles.

 

Itu bukan Perkara Mudah. Di Jakarta sempat muncul kecurigaan bahwa dialog akan membuka ruang separatisme, sementara di Papua beberapa kalangan menilai dialog adalah sikap kompromis dengan Jakarta. Sebagaian kalangan tetap manilai referendum dan tuntutan merdeka adalah langkah mutlak.

 

“ namun, justru itu sikap pihak harus duduk bersama untuk berbicara agar kekerasan tidak berulang” katanya.

 

Cara yang bermartabat

Neles Yakin, dialog adalah cara yang bermartabat, mengargai humanisme, demokratis, dan mencirikan kesetaraan sebagai warga negara. Untuk itu JDP membuat buku saku tentang dialog yang berisi latar belakang, mengapa itu perlu di lakukan, hingga teknis pelaksanaannya “ kedua Pihak dapat membicarakan apa saja yang perlu, apa agendanya hingga bagaimana di lakukannya”

 

Sejak Konferensi Perdamaian Papua (KPP) di gelar 5-7 Juli 2011, JDP terus melakukan konsolidasi dan konsultasi publik dengan sejumlah kalangan di Papua dan luar Papua. Hal utama yang di bahas adalah Indikator Papua Tanah damai yang di hasilkan konferensi itu. Dialog mulai menjadi kesadaran bersama di Papua dan tembok-tembok di Jakarta pun mulai meluruh.

 

Ketika Panitia Tji Hakson dari Korea Selatan memilihnya menjadi penerimah penghargaan itu Neles melihat sebagai dukungan pada langkah bersama tersebut. Penghargaan yang mengambil nama seorang Uskup di Seoul itu di berikan kepada pejuang perdamaian dan keadilan.

 

Ia mengaku tak pantas, apalagi kekerasan masih berulang di Papua. “ masa saya di pilih sebagai penerimah penghargaan keadilan dan perdamaian, sementara pembicaan damai antara Indonesia dan kelompok separatis Papua, sebagaimana yang di perjuangkan JDP dan pendukung dari sejumlah pihak belum terlaksana”

 

Kami juga belum mampu mengakhiri kekerasan,penembakan masih terjadi di tanah Papua, sejak tahun 1963 hingga kini. Ini mengakibatkan banyak korban” lanjut sulung dari delapan bersaudara anak Pasangan Marius Tebay dan Rosa Goo itu.

 

Di sisi lain, ada harapan yang begitu kuat lahir dari pemberian penghargaan itu. Dalam sambutan saat malam penganugeraan penghargaan 13 maret lalu di Seoul,Neles mengatakan, kita berbagi dalam aspirasi yang sama, Perdamaian.

 

Saya juga memahami pemberian penghargaan ini menunjukan, orang Papua dan pemerintah Indonesia, sudah berada pada jalan yang benar. Kedua pihak mempunyai kehendak yang sama yakni mengakhiri secepatnya konflik Papua secara damai Lewat Dialog. Dunia Internasional memberikan dukungan untuk itu” kata peraih Gelar Doktor pada Universitas Kepausan Urbbaniana di Roma ini.

 

Sumber: Kompas Cetak Edisi Kamis 4 April 2013 Halaman 16 ( Ditulis oleh Kilion Wenda)

Scroll to Top