Konsultasi Publik, Jaringan Damai Papua di Merauke

 

Tidak Ada Pesan Sponsor, Bebas Biaya LSM Asing

Dalam rangka mencari, menjaring pikiran, saran dan usul dari masyarakat Papua dalam rangka dialog antara Jakarta-Papua, maka Jaringan Damai Papua (JDP) menggelar konsultasi publik Dialog Jakarta- Papua di Merauke kemarin. Dialog yang berlangsung selama 1 hari penuh ini diikuti sekitar 50-an peserta yang dikoordinir oleh Pater DR Neles Tebay, Pr, dan DR. Muridan S. Widjojo.

Laporan Yulius Sulo, Merauke

 

“Kami memberikan apresiasi karena konsultasi publik ini berlangsung aman dan lancar,” kata Pater Neles Tebay, mengawali konfrensi pers, usai konsultasi publik tersebut.

Dalam konsultasi publik ini, dirinya juga menyampaikan apresiasi karena menurutnya masyarakat menyampaikan pendapatnya secara terbuka, jujur dan keluar dari hati mereka serta menghargai saran, pendapat dan keberatan yang disampaikan masyarakat.

 

Konsultasi publik yang dilaksanakan tersebut, jelas dia, tak lain untuk mendengar, menampung setiap aspirasi, usul dan saran dari masyarakat Papua di wilayah Merauke tentang dialog antara Jakarta dan Papua.

 

“Ada dua hal pokok utama yang kami jelaskan. Pertama, tentang konsep dialog itu sendiri. Apa itu dialog. Lalu menjelaskan konsep dialog antara Jakarta-Papua. Dari penjelasan itu, kami harapkan masyarakat memperoleh suatu pemahaman yang benar tentang dialog. Kalau mereka sudah punya pemahaman tentang itu, maka mereka juga bisa menyampaikan tentang pikiran. Kami tidak janjikan bahwa semua aspirasi yang disampaikan akan dipenuhi. Tapi tujuan dari dialog ini hanya untuk mendengarkan aspirasi, usul dan saran dari masyarakat kemudian ditampung. Setelah itu, kami akan menganalisa semua pernyataan yang disampaikan masyarakat untuk mendapatkan satu rumusan,” jelasnya panjang lebar.

 

“Dari konsultasi pulblik itu, terang dia, masyarakat memberikan dukungan untuk digelarnya dialog Jakarta-Papua. Sementara itu, DR Muridan Widjojo, pihaknya hanya sebagai fasilitator untuk menjembatani digelarnya dialog Jakarta-Papua dengan mempersiapkan kedua belah pihak untuk saling percaya dan tidak saling mencurigai dan kedua belah pihak dapat sepakat untuk duduk berbicara atas berbagai persoalan yang selama ini dinilai masih buntu. “Dalam posisi ini, kami bersifat netral,” tandas Muridan.

 

Menurutnya, segala pertanyaan, aspirasi, saran usul dan buah-buah pikiran yang disampaikan masyarakat, pihaknya tidak punya kemampuan untuk menjawab, hanya menampung dan menganalisa kemudian menyampaikan kepada kedua belah pihak. “Soal hasilnya kami tidak punya kemampuan untuk menjawabnya, tapi nanti pemerintah dengan pihak-pihak untuk menyepakati,” terangnya.

Ditanya kemungkinan adanya LSM asing yang ikut membiayai kegiatan tersebut, Muridan Widjojo membantah dengan keras. Karena menurutnya kegiatan ini selain pembiayaannya diperoleh dari LSM dalam negeri, juga diperoleh dari APBN. “Tapi sebelumnya ada penelitian panjang. Dan itu ada biaya dari negara dan hasilnya dilaporkan kepada Presiden dan semua instansi. Jadi tidak ada dana asing,” tandasnya.

 

Bantahan sama disampaikan Pater Neles Tebay terkait kemungkinan adanya pesan sponsor. “Tidak ada pesan sponsor,” tandas Pater Neles Tebay. Sebab, lanjutnya, Jaringan Damai Papua yang dibentuk tersebut terdiri dari sejumlah orang yang punya keprihatinan atas situasi yang terjadi di Papua, dengan satu tujuan agar konflik yang terjadi di Papua dapat diselesaikan, sehingga siapapun yang hidup di negeri ini boleh menikmati hidup dan bahagia.” Kami hanya menjembatani adanya dialog antara Jakarta-Papua dengan mencari akar permasalahannya baik Jakarta maupun di Papua lewat konsultasi publik,” ujarnya.*

 

Sumber: http://www.facebook.com/note.php?note_id=112706088750082

Scroll to Top