Grj

Konsep Dialog digali dari pengalaman dalam keluarga dan tradisi budaya di papua

GrjDr. Neles TebayMenggalai pikiran-pikiran Pater Neles tebay, 10 Tahun Konsisten Mendorong penyelesaian masalah papua melaalui dialog jakarta-Papua (I)

Ide Dialog jakarta-papua beberapa Tahun terakhir ini menjadi isu yang di biacara baik oleh pemerintah pusat maupun oleh masyarakat di Papua. Dialog disebut sebagai jalam damai untuk mencari solusi penyelesaian berbagai masalah di papua. Bicara soal isu dialog ini,tidak terlepas dari sosok papuan yang cukup di kenal, Pater Neles Tebay. Sudah 10 tahun belakangan ini, ia konsisten mendorong dialog jakarta-Papua. Berikut bincang-bincang dengan cenderawasih pos  dengan pria asal Dogiai tersebut.

GrjGaya sederhana mudah senyum dan hangat terhadap siapa saja. Di temui di kampusnya., Pater Neles sapaannya akrapnya-bercerita panjang lebar tentang uapaya yang di lakukan selama 10 tahun belakangan untuk mendorong proses dialog dalam penyelesaian masalah papua.

 

Di sela-sela obrolan, sekali pater melepaskan goyonan cerdas, yang bikin suasan menjadi renyah dan santai.

“Saya tidak pernah pecaya bahwa untuk menyelesaiakn suatu masalah di Papua di lakukan denga cara kekerasan” tegasnya. Baginya kekerasan hanya mendatangkan masalah bukan menyelesaikan masalah.

 

Dalam urusan dan kepentingan apapun,di level manapun, melaui dari dalam keluarga, suku, gereja (Agama,red) di masyarakat maupun dalam kehidupan bernegara, yang namanya kekerasan itu tidak akan menyelesaiakan masalah kata Pater yakin.

 

Bertolak dari prinsip itu mantan wartawan The Jakarta post ini mendodorng adanya dialog sebagai cara terbaik untuk mencari solusi penyelesaian masalah papua “ dari awal saya selalu mendukung adanya dialog” tegasnya

Mengapa dialog? Menurut Neles karena dialog merupakan cara yang paling beradab untuk menyelesaikan masalah papua, artinya menghentikan kekerasan dan membangun peradaban manusiawi.

 

Ada yang unik. Konsep dialog yang di usung tidak berdasarkan teori yang muluk-muluk tetapi berangkat dari pengalaman  hidup yang sederhana. Pertama,ia justru menggali konsep dari tatanan adat di Papua sendiri dimana juga ada masalah selalu yang kedepankan cara duduk bersama dan berbicara untuk menyelesaikan masalah tersebut . menurutnya dialog itu bagian dari penyelesain yang dianut dalam sistem penyelesaian  masalah dalam tatanan adat suku-suku di papua.

 

Kalau ada masalah di kalangan orang Papua jika ada yang sudah emosi, dan angkat tombak, panah,atau parang untuk berkelahi, biasanya orang tua bilang sini Kitorang duduk bicara dulu, disitulah dialog itu dibangun untuk menyelesaikan masalah ujarnya mencontohkan.

 

Bagi Pater Neles, masing-masing suku di Papua punya  cara dan istilah yang menunjuk pada penyelesaian masalah melalui dialog “Didaerah asal saya dalam bahasa Mee ada dua kata “mana tiga” jelas dimaksud adalah dialog” ungkapnya. Tentunya di suku lain di komunitas budaya lain ada istilah yang demikian. Ada praktek-praktek yang merujuk pada mencari solusi secara damai melalui duduk bersama, bicara bersama.’

 

Kata Pater Neles karena begitu pentingnya “bicara” dalam penyelasaian masalah sehingga masalah itu  dilakukan berulang-berulang, bahkan berminggu-minggu untuk bicara guna mencari solusi tanpa harus terjadi pertumpahan darah (pertiakain fisik atau perang)

 

Jadi dialog ini bukan hal baru, namun sudah ada dalam tradisi kita. Kita mengengkat sesuatu yang bukan hasil daris  sesuatu dari luar, tetapi sesuai denga budaya kita di Papua; katanya.

 

Alasan kedua. Sebagai orang beriman, Tuhan menciptakan manusia  dengan kemampuan yang lengkap, ada akal sehat, mempunyai kehendak,suara hati kebijaksanaan,kebebasan dan sebagainya.” Jadi yang di beriakan Tuhan itu sebagai modal untuk kita pakai, berbicara menyelesaikan masalah di Papua ini secara damai dan bermartabat jelas Pater.

 

Dengan dua alasa itu ia sejak awal terus mendorong dialog. Pater mengakui cara yang di pakai untuk mendorong  proses dialog ini adalah melalui menulis. Alasanya jika dia menulis ide dialog, dan di terbitkan pasti banyak orang akan baca saya tidak tau akan  berapa orang yang akan baca. “ saya tidak tau akan berapa banyak yang memebaca tulisan kita,atau efeknya seperti apa  itu minimal baca satu orang yakni redaktur  yang menerima tulisan saya. Tetapi apalagi kita konsisten menulis, dan akhirnya di terbitkan, orang pasti akan ikuti ide yang kita sampaikan itu ; katanya, dengan menulis ide yang dirinya miliki dapat di bagikan dengan siapa saja.

 

Bukti konsistensi Pater Neles Tebay dalam mendorong  damai dialog Jakarta-Papua dia menerbitkan buku yang berisisi artikel opini tulisannya sendiri tetang dialog Jakarta-Papua tahun 2001-2011.buku itu di beri judul “Angkat Pena Demi Dialog Papua”.

 

Buku yang di launcing di Papua pada pertengahan september lalu itu berisi 54 artikel. Sebanyak 31 artikel di tulis dalam bahasa Inggris  dan 24 artikel di tulis dalam bahasa Indonesia. Dalam artikel-artikel yang di kumpulkan di dalam buku ini Pater Neles menuangkan seluruh ide gagasan, pandangan,kritik dan pikiran-pikiran kritisnya dalam rangka upaya mendorong perlunya dialog sebagai jalan untuk menyelesaikan masalah di Papua yang berkepanjangan  dan seolah tak berkesudahan.

 

Romo Frans Magnis Suseno SJ memberikan kata pengantar dalam buku setebal 273 halaman itu. Menurutnya buku Neles Tebay betul-betul penting untuk mencarai pemecahan positif damai masalah papua judul-judul artikel seperti “Whi autonomy is not wellreceived by Papuans”, “Papuans need more than food and fund”, “menyelesaikan konflik Papua”, “mengubah Tanah Papua menjadi tanah Damai”, “ atau mempersiapkan dialog” memperlihatkan betapa aktual apa yang ditulis dalan buku itu. “Neles Tebay adalah suara perdamaian yang menunjukan bahwa masih ada masa depan yang positif bagi Papua dalam persatuan dengan Indonesia” kata Romo.

 

Sejak tahun 2001 Neles Tebay mulai menulis  tentang pentingnya dialog ini.yang jadi pertanyaan apakah ada peristiwa atau faktor-faktor yang mendorong sehingga dirinya memilih dialog sebagai suatu yang penting bagi Papua dan Indonesia?

 

“ Sebenarnya peristiwa yang memicu saya mulai menulis dan mendorong dialog ini jakni Konggres Nasional Papua II. Disitu orang Papua secara sadar dan mau mengambil keputusan bahwa masalah Papua ini mau di selesaikan lewat dialog,” Tegas Neles konggres itu, lalu melahirkan  Persedium Dewan Papua (PDP) sebagai badan yang salah satu tugasnya menyelesaikan masalah Papua, bukan dengan kekerasan, tetapi dialog yang damai dan bermartabat.

 

Di kutip dalam kata pengantar di bukunya, tertulis bahwa selama kurang lebih 9 tahun pemerintah Pusat dan Aparat, maupun pihak-pihak tertentu mencurigai kata “Dialog” hanya kata itu menjadi kata kunci dalam konggres Papua II di tahun 2000 tersebut. Baru pada masa Presiden Susilo Bambang Yudoyono (SBY) ia memberikan komitmen Jakarta terhadap dialog dengan Papua

 

Neles Tebay dalam refleksi tentang dialog, dirinya kembali bertanya mengapa dialog itu penting? Dan itu di temukan di dalam budaya dikampungnya dan dalam kehidupan keluarganya sendiri. “di rumah Bapak saya itu hakim dan pengadilan setiap kali saya ikuti bagaimana Bapak saya menyelesaikan masalah-masalah. Jika ada dua kelompok yang berkelahi Bapak saya memanggil kedua belah pihak mempertemukan dan duduk bicara. Masing-masing menyampaiakn menurut versinya tetang mengapa mereka bertengkar. Setelah itu Bapak saya memberikan pertanyaan untuk klarifkasi, dan kemudian masalah dapat di selesaikan” kenangnya.

 

Dengan model dan cara dari pengalaman masa lalunya  di kampung, suku dan keluarga Pater Neles mengambil pengalaman itu sebagai pillihan yang ia yakini dapat di terapkan untuk menyelesaikan masalah yang lebih besar dia Papua dan Indonesia.

 

Semua pengalaman di kampung dan dalam keluarganya itu sangat mempengaruhi semua ide saya  tentang dialog,” singkatnya.

 

Dan dari pengalaman itu pula bagi Neles, mesti ada pihak ketiga untuk menyelesaikan masalah antara dua pihak yang berkelahi”.

 

Seperti Bapak saya menyelesaikan masalah dalam suku kami, beliau berperan sebagai pihak ketiga. Untuk dialog nanti mesti ada pihak ketiga juga, yag duduk di tengah,minimal berperan sebagai moderator untuk menyelasikan masalah antara dua pihak yang bertikai, terang Neles.

 

Pihak ketiga ini mesti di percaya oleh kedua bela pihak yang mengetur pembicaraan, membantu, memfasilitasi sampai kedua belah pihak itu mengambil keputusan dan sepakat dari hasil pembicaraan mereka sendiri.

 

Diirnya kemudian menyadari jika hanya menulis berdasarkan pengalaman,ide di kepalanya saja, tentu itu tidak cukup untuk mendorong adanya dialog yang sebenarnya “ juga tulis-tulis saja namun tidak ada yang kerja, nanti dialog tidak akan terwujud,” pikirnya saat itu. Akhirnya Neles Tebay mendirikan lembaga yang di namakan Jaringan Damai Papua (JDP) di bulan Januari 2010. melalui JDP ada yang bekerja untuk proses dialog ini lebih di dorong. Peran JDP hanya sebagai fasilitator.

 

Siapa sebenarnya Neles Tebay? Bagaimana sepak terjangnya bersama lembaga JDP,apa konsep-konsepnya untuk membawa perdamaian bagi Papua dan Indonesia dengan cara-cara yang damai, tanpa kekkerasan beradab, berkeadilan da  dengan prinsip kehormatan atas martabat kemanusiaan?

 

Lucky Ireuw (Cepos selasa 02 oktober 2012 hal depan)

Scroll to Top