JERAT Jaring Indikator Papua Tanah Damai

Masalah Pendidikan Paling Banyak Dikritisi

MERAUKE – Direktur Jaringan Kerja Rakyat (JERAT) Papua, Yulianus Septer Manufandu, mengungkapkan masalah pendidikan menjadi salah satu indikator utama belum terciptanya perdamaian di Tanah Papua.
Dikatakannya kepada media ini, Rabu (14/10), bahwa hal itu setelah pihaknya menyerap pendapat dari berbagai komponen masyarakat di Merauke, masalah pendidikan paling banyak dikritisi masyarakat.
“Secara garis besar di setiap kelompok, mereka menemukan masalah-masalah yang berkaitan dengan aspek-aspek kehidupan yang sangat konkrit pada konteksnya. Karena mereka yang langsung mengalami. Itu masalah pendidikan, kesehatan, dan sebagainya,” terang Septer.
Pada bidang pendidikan, ungkap Septer, masyarakat menginformasikan umumnya di beberapa tempat belum semua masyarakat yang bisa baca dan menulis. Baik itu masyarakat Papua maupun non Papua.

“Ini mereka menyebutkan bagian dari indikator Papua tanah damai yang mengkonstruksi Papua tanah damai. Ketika kita bicara tentang damai, tentang Papua, maka masalah pendidikan berkaitan dengan baca tulis sudah selesai,” tegasnya.
Masih soal pendidikan, demikian Septer, masyarakat menyampaikan belum adanya gerakan membaca dan menulis di sekolah-sekolah terbuka. Untuk itu, masyarakat sangat berharap, pemerintah menggalakkan kegiatan yang dimaksud.
“Saya pikir ini penting sekali untuk menbangun gerakan belajar bersama atau sekolah terbuka,” ujarnya.
Masalah konkrit lainnya, ungkap Septer, adalah soal kesehatan. Beberapa hal yang dikritisi soal Jamkesmas. Ada Jamkesmas, tetapi masyarakat masih harus membayar resep. Selain itu, penyakit-penyakit menular masih terdapat di kalangan masyarakat.
“Ada program Jamkesmas, tapi pengobatan selalu mendapat resep, terutama penyakit-penyakit yang berat. Resep itu tentu membutuhkan biaya yang cukup mahal. Lalu mereka bilang penyakit kulit, ispa, tibi, dan penyakit menular lainnya, ini masih merajalela di masyarakat,” bebernya.
Persoalan konkrit di masyarakat akan menjadi bahan rekomendasi bagi JERAT untuk disampaikan dalam Konfrensi Papua Tanah Damai yang akan digelar di Jayapura pada 2016. “Saya pikir apa yang mereka sampaikan ini merupakan hal-hal yang sangat substansi ketika kita mau berbicara tentang papua itu menjadi tanah yang damai. Apa yang mereka sampaikan itu adalah indikator Papua tanah damai,” tandasnya.
“Hasil dari diskusi ini akan dibawa ke sebuah konfrensi perdamaian Papua, kita rencanakan di tahun depan,” ujarnya.
Jaringan Kerja Rakyat (Jerat) Papua yang mengorganisir Jaringan Damai Papua (JDP) di Provinsi Papua menjaring indikator-indikator Papua Tanah Damai (PTD) dari 12 komponen/kelompok masyarakat di Merauke, Selasa (13/10) kemarin.
Tim JDP Merauke, Jago Bukit, mengatakan Jaringan Damai Papua dibentuk secara terorganisir dari tingkat nasional hingga ke kabupaten-kabupaten di Papua. JDP membahas konsep-konsep menciptakan Papua tanah damai.
“Konsep dari semua segi kehidupan, ada kesehatan, pendidikan, budaya, sosial politik, SARA dan semua segi kehidupan kita bahas. Ini saatnya kita menjaring aspirasi dari masyarakat Papua, Non Papua yang hidup dan tinggal di tanah Papua,” kata Jago.
Dikatakan, perspektif komponen masyarakat tentang kedamaian sangat dibutuhkan. Untuk kemudian diolah dan disatukan dalam sebuah visi perdamaian di Papua.
“Ini akan dibawa dalam konfrensi yang lebih besar di Papua. Perdamaian itu hanya bisa tercipta dari diri kita, lalu dalam keluarga, sesama dan kemudian berkembang,” tandasnya.
Komponen-komponen yang diundang antara lain, kelompok agama, perempuan, adat, profesi, ormas, media, buruh, Parpol, NGO, peguyuban, mahasiswa, pemuda dan akademisi.

 

Sumber:http://bintangpapua.com/index.php/lain-lain/papua/papua-selatan/item/20543-jerat-jaring-indikator-ptd

Scroll to Top