Jakarta dan Papua Harus Dialog

JAKARTA–MICOM: Pergolakan akibat aksi separatisme akan terus terjadi sebelum diwujudkannya dialog antara Pemerintah Pusat dan Masyarakat Papua. Dari forum tersebut, juga perlu dirancang langkah lanjutan seperti penanganan Aceh.

 

Demikian pendapat pengamat militer dan intelejen dari Universitas Indonesia Mardigu Wowiek Prasantyo. Ia mengatakan, meskipun pemerintah telah mengucurkan dana besar untuk Papua dan Papua Barat, namun ternyata hal itu tidak berdampak pada masyarakat papua secara keseluruhan.

 

Dari hasil pantauannya, ada tiga pengelompokan masyarakat Papua. Pertama, masyarakat adat, masyarakat agama dan penduduk. “Dalam artian, masyarakat punya adat, agama punya umat, pemerintah punya penduduk. Adat ini seakan-akan oleh pemerintah dianggap bukan penduduk, pemerintah seakan tidak mengurusi adat. Kesejahteraan hanya mengurusi penduduk, tidak mengurusi adat, agama,” kata Mardigu.

 

Sehingga, lanjut Mardigu, ketidakpedulian pemerintah itulah yang dimanfaatkan oleh Organisasi Papua Merdeka untuk mengambil hati masyarakat adat, dan OPM tetap eksis. “Masyarakat adat lah yang berafiliasi OPM. Mereka (OPM) yang mengopeni masyarakat adat,” tuturnya.

 

Ia menegaskan, triliunan dana otsus Papua dan Papua barat dari pengamatannya, tidak berdampak kepada masyarakat adat tersebut. “Pemerintah hanya mengucurkan dana besar. Kepada siapa saja dana itu mengalir, seakan tidak peduli. Kalau dilihat, pejabat pemerintah daerah yang kekayaannya ditimbun. Tidak mengalir k masyarakat adat,” ujarnya.

 

Untuk itulah, dialog yang mengakomodasi semua pihak dan elemen masyarakat Papua harus digelar. “Dari forum tersebut, juga perlu dirancang langkah lanjutan seperti penanganan Aceh. Tiru kala waktu menyelesaikan aceh, seperti Malino. Dialog harus dilakukan, jangan hanya retorika dari Jakarta,” ujarnya.

 

Mardigu mengatakan, tanpa penyelesaian dan duduk bersama OPM, eskalasi gangguan keamanan akan berlanjut. Ia mengatakan, pemerintah juga tidak bisa menjaga perbatasan yang dijadikan pintu masuk suplai senjata. “Sulit sekali dijaga, senjata itu tidak pernah selesai,” ujarnya.

 

Mardigu pun mengatakan, diduga kuat ada tangan-tangan asing yang bermain di Papua. Beberapa indikasinya tampak dari jenis senjata yang digunakan adalah senjata-senjata baru dan bukan senjata standar Indonesia. Selain itu, taktik dan strategi yang para perusuh waktu menyerang, jelas metoda baru yang terlatih.(Mad/X-13)


 

Scroll to Top