filep karma

Filep Karma Cs Ingin Dialog Bermartabat

Sebelum Usulan Grasi Bagi Tapol/Napol  Papua Merdeka Terwujud

 

filep karmaFilep Karma (dok.http://inside.org.au)JAYAPURA—Sebelum  usulan  grasi atau pengampunan  bagi sekitar  40-50 Tapol/Napol  Papua  Merdeka  terwujud, Filep Karma, Cs   yang kini menghuni Lembaga Pemasyarakatan Abepura ingin membuka dialog  yang  bermartabat tanpa  kekerasan dengan Pemerintah Indonesia, Pemerintah Daerah Papua  dan Tapol/Napol Papua merdeka, sekaligus  ingin bertemu Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY),  sebelum dilakukan usulan grasi atau pengampunan kepada Tapol/Napol Papua Merdeka.   

Demikian pernyataan politik  Tapol/Napol Papua  Merdeka Filep  Karma Cs   sebagaimana disampaikan Semuel Yeru kepada  Bintang Papua di Jayapura, Sabtu (1/6).  Dikatakan Filep  Karma, Gubernur Papua Lukas Enembe, Wakil Ketua  DPRP  Yunus  Wonda dan Ketua  MRP Thimotius  Murib   beberapa waktu lalu bertemu  Presiden SBY di  Istana  Cikeas, Jawa Barat,mengusulkan kepada  pemerintah pusat untuk  memberikan  grasi  kepada  40-50  Tapol/Napol  Papua  merdeka  yang  masih  menjalani hukuman di  sejumlah Lembaga Pemasyarakatan di seluruh  Indonesia,  karena kasus  pidana makar  atau keinginan memisahkan diri NKRI sekaligus membentuk negara  merdeka  dan berdaulat di Papua Barat. Tapi  pihak Tapol/Napol Papua merdeka minta   bertemu Presiden SBY, sebelum  usulan  pengampunan diberikan pemerintah Indonesia.

Filep Karma mengatakan, Tapol/Napol  Papua Merdeka  selama  ini  telah beberapa  kali memohon  bertemu  Presiden SBY, tapi tak pernah ditanggapi pemerintah Jakarta. Tapi, apabila  ada  kesempatan Presiden SBY datang ke Papua untuk  memberikan grasi kepada Tapol/Napol  Papua  merdeka, pihaknya minta  bertemu Presiden SBY  sebelum  usulan  pengampunan diberikan pemerintah Indonesia.   

Ditanya  agenda  apa  yang  hendak disampaikan kepada  Presiden SBY, katanya, Tapol/Napol  Papua merdeka  bersama  Presiden SBY guna menyampaikan agenda  politik antara lain, rakyat Papua Barat   mempunyai  keinginan  kuat  untuk merdeka dan memisahkan diri  dari  NKRI.

“Tapol/Napol ingin menyampaikan kepada pemerintah Jakarta  solusi yang selama ini menjadi masalah di  Papua, sehingga ada kepastian  hukum  dan sebagainya,”  Filep Karma.   

Apakah  Tapol/Napol juga menuntut pemerintah memulihkan nama baik sekaligus ganti  rugi material selama berada  di dalam  penjara, kata Filep Karma,  hal  itu ada   dalam UU rehabilitasi. “Kalau memang itu bisa dilaksanakan. Kami  tak  pernah melakukan makar,”  ujar Filep Karma.

Sekedar diketahui, Filep Karma putra  dari  Andreas  Karma, mantan Bupati Wamena  dan  Serui lahir  di Biak  51  tahun silam.  Pada 1979, Filep Karma studi ilmu politik di Universitas Sebelas Maret, Solo. Dia lulus 1987 dan mulai bekerja sebagai PNS  di Port Numbay.  Dia ditahan di Lapas  Abepura  sejak Desember 2004. 

Karma adalah anggota keluarga elite di Papua. Ayahnya, Andreas Karma, termasuk bupati paling populer di Papua. Dia menjabat bupati Wamena pada 1970-an serta Serui pada 1980-an. 

Filep  Karma mulai mendukung secara terbuka kemerdekaan Papua Barat  pada 2 Juli 1998, dia ikut mengatur aksi pro-kemerdekaan dan mengibarkan bendera Bintang Kejora di kota Biak.  Pada 6 Juli 1998, militer Indonesia mengambil-alih Pulau Biak, mendatangkan bantuan dari Batalyon 733 Ambon dan menembaki para pengunjuk rasa. Filep  Karma ditahan dari 6 Juli sampai 3 Oktober 1998. Pada 25 Januari 1999, Pengadilan Negeri Biak menyatakan dia bersalah dengan tuduhan makar karena memimpin aksi dan pidato. Ia dijatuhi hukuman penjara 6,5 tahun. Filep  Karma ajukan banding. Dia bebas demi hukum pada 20 November 1999.

Pada 1 Desember 2004, sesudah yakin program Otonomi Papua disabot oleh pemerintah Indonesia, antara lain lewat pemecahan Papua dalam banyak kabupaten, Filep  Karma mengorganisir sebuah upacara peringatan 1 Desember 2004 —untuk menandakan Ulang Tahun kedaulatan Papua pada 1 Desember 1961. Peristiwa ini dihadiri ratusan pelajar dan mahasiswa Papua, yang berteriak Merdeka serta memasang bendera Bintang Kejora. Mereka juga menyerukan penolakan terhadap otonomi yang dinilai gagal. Filep Karma segera ditahan dan dituduh makar. Pada 27 Oktober 2005, Pengadilan Negeri Jayapura  menghukum 15 tahun penjara. Kini  Filep Karma  masih menjalani  hukuman  di Lapas  Abepura. (mdc/don/l03)

 

Sumber:http://bintangpapua.com/index.php/lain-lain/k2-information/halaman-utama/item/5230-filep-karma-cs-ingin-dialog-bermartabat

Scroll to Top