Dominggas Nari

Dominggas Nari : Dialog dan Perdamaian Itu Proses

Dominggas NariDominggas Nari, Aktivis Perempuan Papua. Foto:doc JDPJayapura, Jubi – Dominggas Nari, aktivis perempuan Papua mengatakan Dialog Jakarta Papua dan perdamaian adalah proses yang harus dilalui dengan sabar.

“Konsultasi publik adalah hal menarik karena belum pernah ada konsultasi publik yang dibuat khusus bagaimana perempuan bicara tentang perdamaian,” kata Dominggas kepada Jubi seusai Konsultasi Publik Indikator Papua Tanah Damai Dalam Perspektif Perempuan yang Dilakukan di Gedung P3W Padangbulan, Jayapura, Senin (13/10).

Menurut Dona, panggilan akrabnya, pada konferensi perdamaian beberapa waktu lalu, ada juga perempuan yang ikut dan bicara dalam konferensi tersebut. Ini adalah proses dimana rakyat juga harus berusaha belajar proses yang ada.

“Jangan selalu datang dengan pikiran baru, siapa yang mau nikmati perdamaian? Atau apapun pikirannya karena di sini kita semua memberikan masukan tentang perdamaian dari berbagai bidang yang masing-masing kita geluti,” kata dosen di Universitas Ottow dan Geissler Jayapura ini.

Lanjut Dona, ketika berbicara perempuan dan perdamaian, ada hal yang tidak boleh dicampurbaurkan di situ seperti merdeka. Merdeka itu sendiri sebenarnya sudah ada dalam dialog karena  mengutip kata Pater Neles, dialog akan terjadi bila kedua belah pihak sepakat hal-hal apa saja yang akan dibicarakan.

“Bila satu pihak tidak menghendaki maka harus disepakati lagi. Kita perempuan diminta apa yang kita pikirkan tentang Papua yang damai ke depan berdasarkan pengalaman-pengalaman yang kita punya,” ujar Dona lagi.

Di bidang ekonomi misalnya, lanjut Dona, akses perempuan untuk mendapat modal usaha. Tidak banyak perempuan Papua yang punya akses itu mungkin karena pendidikan tetapi yang lain juga karena tidak punya jaminan.

“Kadang-kadang juga karena ketidaktahuan tentang kewirausahaan yang baik. Belum ada kebiasaan menyimpan,” kata Dona.

Di tempat yang sama, Latifah Anum Siregar, Direktris Aliansi Demokrasi Untuk Papua (ALDP) mengatakan pentingnya pikiran perempuan dalam proses dialog Jakarta Papua adalah upaya memasukan pemikiran perempuan agar perdamaian dapat segera terwujud.

“Belajar dari MoU Aceh, kami ingin dialog Jakarta Papua mampu mengakomodir pikiran-pikiran perempuan,” kata Anum. (Aprila Wayar)

Sumber:http://tabloidjubi.com/2014/10/14/dominggas-nari-dialog-dan-perdamaian-itu-proses/

Scroll to Top