gede

Diduga OPM, Tembak Mati 3 Anggota Polisi

Socratez: Perjuangan OPM itu Bukan Bunuh-Bunuh Orang

 

gedeJAYAPURA—Nahas menimpa Kapolsek  Pirime, Kabupaten Lanny  Jaya, Ipda Rolfi  Takubesi  bersama  dua  anggotanya, Brigpol Jefri Rumkorem dan Briptu Daniel Makuker.  Ketiganya  tewas  ditembak dan dibakar   sekitar  50  orang  dari  kelompok  yang diduga OPM pimpinan  Yani Tabuni    menggunakan  senjata api dan panah  ketika  menyerang  Kantor  Polsek  Pirime, Selasa (27/11) sekitar pukul 06.00  WIT. Kabid  Humas  Polda Papua  AKBP I Gede Sumerta Jaya, SIK ketika dikonfirmasi  pasca  kejadian  mengutarakan, saat kejadian tersebut Polsek Pirime sedang dihuni  4  anggotanya termasuk Kapolsek Pirime.  Saat ini satu anggota polisi dikabarkan selamat dalam  kejadian tersebut.

“Jadi di dalam Pos itu saat kejadian berapa orang  ada 4 orang dari 8 orang anggota.  Informasinya yang satu itu meninggal di tiang bendera mungkin lagi naikkan bendera. Kapolseknya tangannya  terpotong  dan dibakar,” kata dia.Ditambahkan,  saat ini satu pleton anggota Brimob dan tim khusus dari Polda Papua sudah mengejar  pelaku penyerangan. Sementara  itu,  kata  Kabid  Humas,  para  pelaku  juga  membawa kabur   3  senjata organik  jenis revolver, AR1 dan F5 Sabhara.  Ditanya  ada indikasi  para  pelaku  lari

kemana,  dia  mengatakan,  pihaknya  belum bisa memastikan. Menurutnya,  Polisi masih  mengejar pelaku penyerangan dengan

mengerahkan 1 pleton anggota Brimob  dan Tim Khusus Polda Papua.

Socratez : Pelaku Bukan OPM Terkait peristiwa penyerangan yang menewaskan Kapolsek Pirime Ipda Rofli Takabesi dan dua

anggotanya yang bertugas di Pirime, Kabupaten Lani Jaya, Selasa (27/11) sekitar pukul 06.30 WIT, ditegaskan Socratez S Yoman,

bawa pelakukan bukan kelompok OPM. “Itu bukan OPM. Perjuangan OPM itu bukan bunuh-bunuh orang atau ancaman teror atau

intimidasi orang,” tegasnya saat menghubungi Bintang Papua, Selasa. Dikatakan bahwa tindakan tersebut adalah kriminal murni.

“Saya pikir, saya sebagai pimpinan umat gereja yang punya umat di sana, saya pikir itu pelaku kriminal, penjahat yang tidak bisa

ditoleransi. Itu bukan OPM,” lanjutnya.Siapapun, ditekankan untuk tidak mengkambinghitamkan OPM. “Perjuangan OPM itu

perjuangan yang terhormat. Tidak boleh bunuh-bunuh orang seperti itu. Bagaimana mengganggu aparat yang menjalankan

tugas. Perjuangan OPM itu perjuangan yang mulia. Dan aparat itu menjalankan tugas negara yang juga merupakan tugas mulia,”

ujarnya.Sehingga, ia sangat berharap kepada aparat kemanan untuk menyikapi peristiwa tersebut dengan arif dan sesuai

prosedur dan bersama-sama masyarakat setempat untuk mencari pelaku dan menggiringnya ke pengadilan untuk proses hukum. 

“Rakyat yang juga umat saya di sana, untuk mencari pelaku pembunuh itu, pelaku kriminal itu kita cari sama-sama dan diproses

secara hukum,” harapnya. 

Selain itu, itu juga berharap kepada aparat keamanan tidak membakar rumah rakyat, tidak melakukan penyisiran-penyisiran. 

“Aparat kemanan tidak brutal ya. Tidak melakukan penyisiran yang membabi buta, tidak melakukakn pembakaran rumah-rumah,

sekolah-sekolah. Kami tahu kami pimpinan umat tahu, siapa-siapa itu. Yang saya secara pribadi sebagai pimpinan umat tidak

toleransi itu kejahatan itu. Saya sangat menyesal itu. Tidak bermartabat,” ungkapnya.Dikatakan, bahwa wilayah Pirime adalah

wilayah yang banyak penduduknya adalah umat Babtis yang terbuka. “Tidak sulit di situ, karena tidak sama dengan wilayah lain.

Kalau di situ kita bisa tahu. Masyarakat bisa tahu dan bisa tangkap pelaku,” ungkapnya lagi. Tentang situasi terakhir, dikatakan

bahwa ia belum mengetahui secara pasti. “Saya belum tahu, saya baru komunikasi dengan Pak Wakapolda, agar bagaimana bisa

terkendali situasi di wilayah itu. Komunikasi tetap jalan,” ujarnya.

Imparsial Kutuk Penyerangan Polsek Pirime Papua


LSM Pemerhati HAM Imparsial mengutuk keras aksi penyerangan Polsek Pirime Kabupaten Lany Jaya, Selasa 27 November sekitar pukul 06.00 WIT. Penyerangan disertai penembakan dan pembakaran 3 personil Polsek sangat bertentangan dengan semangat bersama, untuk menciptakan Papua sebagai zona damai. 
“Imparsial mengutuk terjadinya kekerasan dengan cara pembunuhan dan pembakaran terhadap kapolsek Pirime Lany Jaya Ipda Rolfi Takubesi serta 2 anggotanya Brigadir Jefri Rumkorem dan Brigadir Daniel Makuker.Kekerasan yang dilakukan pelaku sangat bertentangan dengan semangat bersama untuk menjadikan Papua sebagai Tanah Damai,” ujar Poengki Indarti Direktur Eksekutif Imparsial melalui pesan elektroniknya. 
Imparsial berharap, aparat Kepolisian secepatnya menangkap para pelaku. “Kami berharap aparat kepolisian bisa segera menangkap pelaku dan membawanya ke proses hukum,”tegasnya.Peristiwa penyerangan ini juga sebagai peringatan kepada

presiden SBY untuk segera membuka dialog Papua-Jakarta. “

Dengan adanya peristiwa ini, menjadi sangat krusial bagi Presiden SBY untuk segera mempersiapkan dialog damai dengan pihak-

pihak yang berseberangan, agar kekerasan di Papua dapat segera diakhiri,”terangnya.

Imparsial juga meminta Polisi agar tidak melakukan aksi balasan yang hanya akan memperkeruh situasi. “Kami berharap aparat

kepolisian tidak melakukan tindakan balasan dengan menggunakan kekerasan dalam mengusut kasus ini, karena hanya akan

menimbulkan trauma bagi masyarakat,”imbuhnya.

Imparsial juga menekankan Kapolda Papua untuk lebih gencar melaksanakan operasi terhadap penyeludupan senjata ke Papua.“Imparsial  kembali mendesak Kapolda Papua untuk mengintensifkan operasi penyelundupan senjata. Seret dan tampilkan pelaku penyelundupan senjata. Jika penyelundupan tersebut melibatkan aparat militer atau aparat pemerintah yang lain, maka harus ditindak tegas,”tandasnya. Kasus kekerasan terhadap aparat kepolisian yang terjadi pada bulan November ini di Papua

menimbulkan ketakutan pada masyarakat yang memang sudah lelah dan trauma dengan kekerasan di Papua.(mdc/aj/jir/don/l03)

 

Sumber:http://bintangpapua.com/headline/29106-diduga-opm-tembak-mati-3-anggota-polisi

Scroll to Top