Dialog Solusi Jawab Masalah Papua

MANOKWARI – Setelah mempelajari dengan seksama segenap aspek teori dan studi kasus tentang bagaimana dialog menjadi media urgent (penting) dalam penyelesaian berbagai konflik di sejumlah belahan dunia, maka LP3BH Manokwari, menyampaikan saran konkret kepada Presiden Republik Indonesia Susilo Bambang Yudhoyono, bahwa penyelesaian konflik di Tanah  Papua harus lewat jalan Dialog. Demikian ditegaskan direktur eksekutif LP3BH Yan Christian Warinussy melalui siaran pers yang diterima koran ini, Senin (23/9). 


“Selama 4 hari (3-6 September) di Geneve-Switzerland, Jenewa-Swiss saya melihat sejumlah upaya penyelesaian masalah Papua, seperti di sejumlah wilayah dunia, yakni di Filipina Selatan dan Myanmar maupun Mali. Nyata sekali dialog menjadi media penting. Dan Indonesia juga terlibat memberikan kontribusi positif disana. Sehingga saya kira dalam kaitan dengan menjelang akhir masa jabatannya tahun 2014 mendatang, adalah penting bagi Presiden SBY untuk memikirkan pentingnya penyelesaian masalah Papua dengan melibatkan seluruh komponen dan elemen rakyat Papua,” kata Warinussy.


Menurut Warinussy yang juga sebagai aktivis HAM di Tanah Papua, bahwa konsekuensi logis yang dapat diperoleh Presiden SBY (Susilo Bambang Yudhoyono) menyangkut persoalan Papua akan memberikan respon positif dunia internasional terhadap Presiden dan  jajarannya kini. Dan ini akan menempatkan posisi SBY sebagai salah satu Tokoh Dunia yang pantas dihargai, dihormati dan dikenang, termasuk pemerintahannya saat ini maupun Partai Politik pendukungnya juga.“Citra politik yang selama ini cenderung miring dan menyudutkan pasti dapat berbalik, dan ikut mendongkrak sentimen ekonomi dan keuangan dunia terhadap Indonesia. Ini jika presiden SBY mampu tegas dan dengan wibawanya membuka pintu Dialog Papua-Indonesia dalam waktu jelang akhir tahun 2013 ini,” ujarnya.


“Bahkan pandangan politik berbagai negara besar di dunia akan makin naik dan menempatkan posisi Indonesia menjadi sebuah negara demokrasi yang kuat dan dihormati oleh semua negara sekutunya selama ini,” katanya.


Dijelaskan Warinussy, empat  hari  mengikuti pertemuan curah pandangan (brainstorming) di Jenewa, Swiss tentang bagaimana media dialog dapat digunakan dalam menyelesaikan sejumlah permasalahan dan konflik yang telah terjadi dan berlangsung lama di beberapa wilayah dunia. Oleh karena itu, dialog merupakan pilihan yang sangat tepat sekarang ini untuk mengatasi persoalan konflik sosial-politik dan ekonomi serta budaya yang terus berlangsung di Tanah Papua.


Pertemuan yang difasilitasi oleh beberapa trainer (pelatih) berpengalaman dalam bidang resolusi konflik, mediasi dan negosiasi antar bangsa tersebut, para peserta diberikan sejumlah pengetahuan penting tentang bagaimana merumuskan frame work (kerangka kerja) dari penyelenggaraan dialog itu sendiri. Serta bagaimana memastikan bahwa proses dialog itu akan berlangsung dengan senantiasa memberi perhatian pada para aktor yang terlibat dan dilibatkan dan isi atau materi yang hendak didialogkan.


“Beberapa contoh kasus mengenai bagaimana penyelesaian konflik di beberapa belahan dunia seperti Mali, Sudan Selatan, Filipina Selatan dan Yaman ikut membantu kami untuk memahami bahwa sesungguhnya setiap kasus dan konflik memiliki latar belakang dan isunya sendiri. Dan keterlibatan para aktor di dalam upaya penyelesaian konflik tersebut melalui jalan dialog adalah atas dasar kepentingan mereka pula sehingga sejak awal bagian ini, mesti dibicarakan dan dipertemukan diantara para pihak yang berkepentingan dan atau terlibat dalam konflik tersebut,” tuturnya.


DikatakanSebagai salah seorang aktivis pembela hak asasi manusia di Tanah Papua, saya berpandangan bahwa dalam upaya untuk mendorong terjadinya dialog Papua-Indonesia, keterlibatan pihak-pihak yang berkepentingan sejak sekarang ini sangatlah perlu dan menjadi penting untuk senantiasa dibicarakan. Saya dan LP3BH Manokwari akan memainkan peranan sejak sekarang sebagai salah satu lembaga advokasi hak asasi manusia untuk mendorong proses pemberdayaan dan pendidikan bersama masyarakat di Tanah Papua tentang cara-cara membangun perdamaian melalui dialog dan perundingan. 


Warinussy menambahkan, langkah itu penting dan segara untuk dilakukan. Karena dengan adanya pemahaman yang baik pada masyarakat Papua tentang dialog dan perundingan, maka kelak segala upaya mereka dalam mempersoalkan dan memperjuangkan hak-hak sosial-politiknya dapat dilalui dengan jalan damai. Dan bukan dengan jalan membangun dan memelihara konflik yang lebih banyak merugikan banyak pihak di Tanah Papua dan di Indonesia serta di Dunia.


“Bagaimanapun harus disadari oleh semua pihak di Papua dan Indonesia, bahwa dialog adalah cara penyelesaian masalah yang sangat demokratis, karena telah dianut dan dipraktikkan dalam berbagai kasus dan konflik di berbagai belahan dunia serta secara universal dapat diterima dan diakui, dihormati untuk digunakan, termasuk dalam kasus konflik berkepanjangan yang terjadi saat ini di tanah Papua antara rakyat Papua dan Pemerintah (Indonesia),” pungkasnya.(Sera/Jir/l03)

 

Sumber:http://bintangpapua.com/index.php/lain-lain/papua/papua-barat/item/8814-dialog-solusi-jawab-masalah-papua

Scroll to Top