Dialog Papua Tak Sama dengan Papua Merdeka tetapi jalan untuk mendapatkan solusi

Menggali pikiran-pikiran Pater Neles Tebay,10 Tahun konsiiten mendorong penyelesaian masalah Papua melaui Dialog Jakarta-Papua (II)


Neles Tebay terus menyuarakan pentingnya dialog sebagai jalan untuk menyelesaikan masalah Papua tidak terbatas waktu dan tempat. Melakukan konsultasi publik di berbagai tempat di seluruh Papua, dan ia tetap terus menulis sebagai kekuatan lain yang dimilikinya.bagaimana konsep dialog yang di gagas.

 

Bersama jaringan damai papua (JDP), Pater Neles Tebay mulai ‘action’ untuk mewujudkan dialog Jakarta-Papua lebih kongkrit. Bersama JDP, malakukan konsultasi publik.

 

Dalam konsultasi publik itu, masyarakat ditanya apa pendapat mereka tentang dialog. Dengan berbagai tantangan dan hambatan, sejak 2010, JDP sudah melakukna 19 kali konsultasi publik di Papua, dan sekali di luar Negeri, yakni Port Moresby,PNG yang hadir sebanyak 45 orang perwakilan orang Papua dari seluruh PNG di undang, juga dari Australia, Vanuatu,termasauk dari Belanda juga di undang.Konsultasi publik diadakan di salah satu kampus di sana; “ tanggapannya baik, mereka setuju kita berdialog” katanya.

 

Pater Neles mengakui mengurus dan memperjuangkan dialog, ia mengalami banyak tantangan dan resiko, karena sudah pasti ada saja pihak yang tidak suka dengan ide ini, memperjuangkan ide  dialog ini kita sudah harus siap menerima segala resiko” tegasnya.

 

Bentuk resiko yang pernah hadapi, seperti ada kecurigaan,fitnaan, dan ancaman yang nyata seperti teleponnya di sadap “ saya juga tahu kemana-mana pasti ada yang ikuti dan awasi. Tetapi saya jalani saja, karena saya tidak bunuh orang, atau mencuri barang orang, sehingga apa alasannya saya harus takut?” kata Pater yakin;

 

Bagaimana Pater Neles bertahan dengan perjuangannya ini di tengahnya banyak ancaman dan hambatan? Pater mengaku memiliki keyakinan, jika sesuatu di perjuangkan dengn konsisten maka perjuangan itu akan berdampak luas. Minimal orang akan melihat dan penasaran dengan ide yang secara konsistensi di kerjakan, dan akhirnya akan ada pengakuan terhadap perjuangan itu “ dan inilah yang sedang kita panen saat ini, bahwa dukungan  terus mengalir, baik di Papua maupun dari Pemerintah Pusat di Jakarta” terangnya.

 

Dirinya menegaskan bahwa,dialog itu bukan solusi bagi penyelesaian masalah Papua, diloag juga bukan tujuan “dialog itu sarana atau jalan” orang dengan menggunakan akal, kehendak, kebijaksanaan dan suara hati, duduk bersama berdialog mengidentifikasi masalah yang sebenarnya secara tenang dan merumuskan solusi yang tepat bagi penyelesaian masalah Papua” jelasnya.

 

Prinsip lainnya, jika ada masalah  masyarakat sudah harus di bantu bertindak dari level emosi; ke akal sehat; jangan selesaikan masalah itu secara emosional,  tetapi mari kita lihat masalah secara rasional. Emosional yang ada  itu hanya indikasi bahwa ada masalah yang belum dibereskan” terang Pater Neles.

 

Dalam pandangan umum sebagai orang yang berpendapat bahwa dialog itu bermuaranya ke arah Referendum atau Papua Merdeka. Bagaimana Pater Neles demikian? Pater Neles tidak memungkiri hal itu. “ memang ada pandangan di masyarakat, maupun dari Pemerintah Pusat  sendiri, bahwa dialog itu identik dengan Papua Merdeka . jadi siapa yang mendukung Dialog papua, dia di pandang mendukung papua merdeka dan karena selama ini tidak ada orang yang berani bicara tentang dialog Papua,” ungkapnya.

 

Dirinya pahami dan maklumi karena pandangan itu, DPRD Provinsi, Kabupaten,Gubernur dan Bupati-Bupati tidak mau berbicara dan memperjuangkan dialog Papua,” tetapi saya dan kita di JDP bisa jelaskan, bahwa dialog Papua tidak sama dengan Papua merdeka. Dan itu selalu di jelaskan. Sebaliknya, jika berdiam diri, menghindar atau takut bicara soal dialog, itu sama artinya kita tidak memberikan pencerahan yang baik kepada masyarakat,” terang Neles Tebay serius.

Apa target dari perjuangannya? Target waktu tidak bisa di pastikan, tetapi usaha dan upaya terus dilakukan.

 

Bagaimana jika ada pertanyaan Dialog nanti hasilny apa? Pater Neles menyadari, pertanyaan itu sudah dan pasti akan terus muncul, baik oleh Pemerintah Pusat maupun masyarakat di daerah” jawabnya, hasil dialog adalah kesepakatan yang diambil kedua belah pihak. Pertanyaan berikut, kesepakatan seperti apa? Jawabnya nanti mereka yang memutuskan apa kesepakatan itu, isinya apa bentuknya bagaimana, tindak lanjut seperti apa,itu tergantung kesepakatan kedua belah pihak yang berdiaog itu, beber pria berkaca-mata ini.

 

Jika ada protes, kritik, dan tidak mengerti bahkan aksi-aksi yang menentang ide dialog, Neles Tebay juga mengaku, pasti ada sikap seperti itu namun bagi baginya sikap itu harus di mengerti  dan dipahami sebagai suatu proses yang sedang berjalan,;.  Ada perlawanan itu biasa,kita mengerti secara positif saja. Kalau ada yang mengeti seprti itu tandanya orang belum tahu dan ingin tahu tentang apa yang sedang kita kerjakan,” kata master bidang pastoral studies dari Universitas Ateneo de Manila, ini.

 

 Di katakan sebenarnya dialog itu penting, bukan hanya untuk menyelesaikan masalah Papua dan Jakarta saja, tetapi dialog penting untuk menyelesaikan semua masalah, “masalah dalam keluarga,dalam lembaga agama,masalah dalam suku atau antar suku, atau dalam dalam kehidupan bermasyarakat. Sebab jika tidak ada dialog, berarti yang terjadi kekerasan,” terangnya.

 

Jika demikian,bagaimana konsep dialog yang di gagas Pater Neles dan JDP? Alumni STFT Fajar Timur Abepura, Tahun 1990 ini memaparkan, yang didorong adalah dialog yang bertingkat dan meluas.

 

Dialog bertingkat itu ada tahapannya, dari bawah, kemudian naik secara bertahap hingga ke tingkat teratas.pada tahap diatas,tidak semua orang berbicara, tetapi perwakilan-perwakilan yang benar-benar mempunyai masalah baik dari Papua, maupun dari Pemerintah Pusat untuk perlu duduk bersama dan berbicara.

 

Sedangkan dialog yang meluas itu bukan orang asli Papua tetapi juga di libatkan pihak-pihak lain. Dalam konsep dialog yang digagas JDP,ada 9 (sembilan )elemen yang akan terlibat dalam dialog. Pertama; Pendapat Orang Asli Papua, kedua; Penduduk Papua yakni, mereka yang bukan Asli Papua seperti dari paguyuban-paguyuban,dan lainnya, Ketiga; Pihak Pemerintah Daerah, baik dari Provinsi dan Kabupaten, Keempat; kelonpok Aparat dari pihak Kepolisian (Polri) Kelima; dari pihak TNI, Keenam kelompok Pemerintah Pusat, Ketujuh; Perusahaan-Perusahaan Asing dan Domestik yang berinvestasi dan mengekspoloitasi sumber daya alam (SDA) di Papua, Kedelapan; Kelompok Tentara Pembebasan Nasional/Organisasi Papua Merdeka (TPN/OPM), dan Kesembilan; Orang-Orang Papua di luar negeri.

 

Pendapat dari sembilan elemen ini harus dan perlu diakomodir semuanya, sembilan kelompok ini berpotensi untuk memicu konflik atau menciptakan perdamaian di Papua. Setiap kelompok ini juga perlu di pandang sebagai aktor perdamaian.mereka dapat memberikan kontribusi yang khas demi perdamaian” paparnya.

 

 Tahap dialog meluas  dalam konsep ini, dengan melibatkan sembilan elemen itu mempunyai meksud bahwa, jika kesepakatan itu di ambil dan di putuskan dengan mengakomodir pendapat mereka, maka mereka semua masing-masing bertanggung jawab, menghormati dan mengamankan kesepakatan yang sudah di buat tersebut.

 

Ditanya, apa kemajuan yang di capai, selama 10 (sepuluh) tahun mendorong proses dialog? Pater menjelaskan bahwa setidaknya, kata dialog yang dulunya tabu. Jika bicara tentang dialog selalu di cap sebagai separatis, di identikan dengan papua merdeka dan lainnya, namun kini kata dialog papua sudah menjadi hal yang biasa terdengar dimana saja di negeri ini di Jakarta maupun di Papua sekarang kalau ada konflik, semua orang merujuk bentuk penyelesaian secara dialog.. mari berdialog.. dialog sudah menjadi kata kunci dan tidak ada yang takut lagi bicara soal dialog itu hasil yang sementara kira bisa rasakan” terangnya.

 

Hasil lainya, kedua pihak baik di Jakarta dan di Papua  sudah sama-sama punya niat untuk berdialog, hanya perlu menyamakan presepsi saja” perlu common ground, atau perlu punya pemahaman yang sama tentang tujuan, format, apa yang mau dicapai dalam dialog, bahkan pemahaman yang sama tentang, tempat dialog, tinggal itu saja yang sedang berproses, ungkap Pater Neles.

 

Neles Tebay di lahirkan di Godide, Kabupaten Dogiyai Papua, pada 13 Februari 1964 setelah menyelesaikan pendidikan S1, dalam bidang Theologi pada STFT Fajar Timur tahun 1990 di Abepura dan dia di tabiskan menjadi imam Projo pada Keuskupan Jayapura tahun 1992 di Waghete Kabupaten Deiyai. Dalam pentabisan imamatnya, ia di beri nama adat yakni Kebadabi yang dalam bahasa Mee berarti orang yang membuka pintu atau jalan”

 

Neles Tebay menyelesaikan program master dalam bidang Pastoral Studies pada Universitas Ateneo de Manila tahun 1997, setelah mengjar Theologia pada STFT Fajar Timur selama dua setengah Tahun (januari 1998-2000) dia dikirim ke Roma. Ia merai gelar Doktor pada maret 2006 dengan disertasinya.The Reconcilling Mission of the Church in west papua in the light of reconciliatio et paenitentia. Dan sejak januari 2007, mengajar misiologi pada STFT Fajar Timur Abepura.

 

Pater Neles pernah bekerja sebagai Jurnalis pada surat kabar harian The Jakarta Post, Tahun 1998 sampai 2000. Mengikuti pelatihan tentang,Peace and Reconciliation selama 10 minggu pada tahun 2005 di conventry University,United kingdom dan pelatihan Strategic Nonviolence and peace building selama dua bulan tahun2006, di eastern Mononnite University,Virginia,USA.juga mengikuti peace mediation Course selama 10 hari pada maret 2010 yang di selenggarakan oleh Swiss Peace di beri Swtzerland.

 

Karya-karya ilmiahnya dalam bahasa inggris dapat di temukan dalam jurnal-jurnal ilmiah berbahasa inggris, baik di belanda,Manila,Roma dan Inggris.Tulisan Opini-Opininya di muat di harian kompas,The Jakarta Post, Suara pembaharuan, dan beberapa harian lokal di papua.

 

Ia juga menulis beberapa buku, seperti: West Papua: The Strunglefor peace with justice ( diterbitkan CIIR London 2005), Interfaith Endeavour for peace in west papua,Missio Aachen,2006;  dan Dialog Jakarta-Papua sebuah Prespektif Papua.(SKP Keuskupan Jayapura,2006)

 

Lucky Ireuw (Cepos Rabu 03 Oktober 2012. Hal 1.)

Scroll to Top