neles tebay pr

Dialog, Panah, dan Sepak Bola

Oleh: Pater Neles Tebay


neles tebay pr

Kemeja putih yang peter neles kenakan basah oeh keringat, terik matahari menyerang pria yang berbobot 95 kilogaram itu saat naik ojek menuju tempat pertemuan dengan kami di plaza Indonesia. Neles memang pengguna setia transportasi informal tersebut di Jakarta. Sore itu, ia baru saja menumpang ojek dari taman Suropati menteng- tempatnya menemui kolega dari union of catholic asia news (kantor berita katolik asia) ke plaza Indonesia, jalan Thamrin.

 

Sebelumnya itu, dengan ojek juga Neles mengurus visa dari kedutaan Korea Selatan. Pada tiga belas maret lalu, ia diundang ke Soul untuk menerima penghargaan perdamaian dari TheTji Haksoon Justice and peace Foundation ( Yayasan Keadilan dan Perdamaian the Tji hakson) Neles dinilai berdedikasi tinggi mendorong pembicaraan damai dan perlindungan hak asai manusia (HAM) di papua.

 

Koordinator Jaringan Damai Papua (JDP) ini mengatakan jangan banding harga ojek di Jakarta dan diPapua, jika ia membayar jasa ojek, rata-rata RP 15ribu, sedangkan di Oksibil Pegunungan Bintang Papua, kata dia harga seliter bensin saja Rp 150 ribu, harga ojek? Bisa mencapai 200 ribu!

 

Hidup di Papua memang mahal, ketika di tanya apa yang murah di Papua, Neles menjawab “nyawa manusia” Heru Triwiyono, maria Rita, dan fotografer Dwianto wibowo dari Tempo, selasa dua pekan lalu berbincang dengan nya, meski berada di café, dia memesan jus sirsak. Saya sudah bosan dengan kopi. Ha ha ha” kata anak petani kopi ini.

 

Apa yang anda lakukan setelah mendapat penghargaan ini?

Saya akan mensosialisasi dialog damai Jakarta-Papua ke masyarakat. Kami sudah melakukan 19 kali dialog publik tentang rencana ini, mulai februari 2010.dialog itu tidak hany di Papua, kami juga menggelar di Jakarta dan kota lain, seperti Yogyakarta.

 

Hasil sosialisasio itu bagaimana?

Dewan adat papua (DAP) pimpinan Gereja, pimpinan lima Agama di Papua, bahkan kami mendapat dukungan dari pendatang dan partai politik seperti Golkar, PDIP, PAN tapi seperti pejabat tidak mendukung. Mereka takut karena karier politik mereka bisa mati karena, Ide Dialog Papua, oleh pemerintah pusat di identikan dengan Papua Merdeka (OPM)

 

Apa kendala saat kampanye Dialog Jakarta-Papua?

Pertama pasti dihujat, waktu peluncuran buku saya, angkat penah demi dialog, pada 2009 saya dicaci maki oleh orang Papua yang hadir. Mereka bilang saya penghianat, tidak percaya Indonesia sampai kiamat. Macam-macamlah tapi saya diam saja. Saya bilang terima kasih. Mau terima dialog silahkan, mau tolak silahkan.

 

Selama ini siapa saja yang mengkampanyekan ide Dialog Jakarta-Papua?

Jaringan Damai Papua. Kami memiliki 45 anggota, semua orang muda,kecuali saya dan Muridan Satrio Widjoyo. Mereka sukarela bekerja demi perdamaian di Papua, tidak di gaji dan tidak mewakili kelompok.

 

Pernah mendapat ancaman?

Pernah saya dapat SMS, isinya begini, “awas nanti you habis”. Itu dari yang pro Papua merdeka.mereka secara terang-terangan bilang kalau saya bicara terus tentang Dialog peti mayat sudah disiapkan.

 

Memang gawat itu?

Selama 50 tahun, sejak bergabung dengan Indonesia pada 1 mei 1963, konflik di Papua terus ada, ingat tahun tahun emas 50 tahun. Bahaya Jakarta dan Papua hanya saling membicarakan satu sama lain, tapi tidak berbicara satu sama lain, tuntutan mereka, Referendum dan, dan penembakan tetap terus ada, kita mau mengorbankan terus menerus warga sipil, polisi, dan TNI? Ini harus Dialog!

 

“Saya ini Jembatan. Jadi jembatan itu resikonya memang siap di injak.”

Tapi anda di tuduh pro OPM dan disisi lain Pro Indonesia?

Saya ini jembatan. Karena hadir di tengah,setiap pihak mengharapkan pro ke mereka. Tapi itu resiko menajdi orang tengah, saya di tengah tapi tidak diam. Saya bekerja. Saya sudah siap menerima tuduhan. Jadi jembatan itu resikonya memang harus di injak.jembatan kalau berfungsi, akan di lalui. Kalau tidak berguna ya dimakan rayap.

 

***

Neles, yang di miliki darah suku Mee, lahir pada 13 februari 1964 di Godide, kabupaten Dogiyai lokasinya sebelah barat pegunungan tengahh Papua. Ia adalah anak pertama dari istri pertama ayahnya, Marius Tebay,jumlah saudaranya delapan, tapi yang hidup tinggal separuh. Separuh lainya meninggal karena sakit.

 

Hampir setiap hari , sejak kecil, Neles melihat ayahnya berdiskusi dengan warga kampung di halaman rumahnya. Sebagai kepala kampung, ayahnya bertugas sebagai mediator jika ada pertikaian menurut Neles, ayahnya itu bak hakim karena di percaya menentukan jumlah denda adat yang di dikenahkan kepada pihak yang di nilai bersalah. “ ujar penyuka warna biru ini. Pengalaman melihat Dialog itu menjadi inspirasinya kini.

 

Cara ayah mendidik anak-anak nya cukup unik, jika perkelahian antar anak-anak lelaki, kata Neles, sang ayah justru membiarkan. Siapa yang kalah akan sendirinya bagai perempuan. Kalau sudah tenang, sang ayah memberi tahu maksudnya. “ kalau orang lain pukul, jangan terima. Kalau kamu benar, hajar,” ujar Neles mengulang perkataan ayahnya.

 

Apakah anda punya pengalaman langsung dengan termasuk saat kecil?

Saya mengamalami perang antara anak sekampung. Saya hidup dalam budaya perang. Anak lelaki di Papua sejak kecil sudah diajari perang oleh orang tuanya. Kami juga diajari membuat busur dan anak panah. Bapak, yang jadi pelatih saya, biasanya jadi tembakan sasaran tembakan. Saya menembak ke arahnya agar bisa menembak dengan tepat, tapi tidak memakai anak panah yang tajam, kami memakai yang tumpul, tersebut dari bambu.

 

Apakah anda pernah terlukah?

Di perut saya pernah tercancap anak panah,luka itu mengeluarkan darah. Itu karena perang antara anak sepulang sekolah, tapi tidak semacam tawuran. Bukan di obati oleh bapak, saya malah di omeli, saya di salahkan karena tidak punya strategi perang yang baik. Tapi, setelah di omeli, saya di obati. Besoknya saya berangkat ke sekolah sama anak yang memanah saya.

 

Artinyah, kekerasan memang sudah sangat lekat dengan masyarakat papua?

Kami memang didik untuk menjadi petarung perang. Setekah perang biasanya kami merembuk, berdialog. Kami menggelar pesta perdamain dengan membakar babi. Karena itu Dialog bukan kami impor dari luar. Itu merupakan bagian dari budaya Papua untuk menyelesaikan masalah, memang ada perang, tapi itu cara paling akhir setelah bicara. Kekerasan tidak baik, itu betul. Menyelesaikan masalah secara damai,itu lebih betul. Itu yang kami ingin buat.

 

Kenapa anda memilih jadi pastor, tidak meneruskan profesi ayah sebagai petani kopi?

Saya sudah bosan sama kopi. Ha ha ha . awalnya karena saya belajar di Sekolah Tinggi Teologi di Dogiyai. Alasannya mutu pendidikannya bagus. Dari situ saya tahu masyarakat Papua membutuhkan seorang Pater (Pastor). Orang Papua itu relah mendayung atau pergi kemana pun hanya untuk merayakan Natal dan beribada bersama dengan Pater.

 

Bukankah anda mantan jurnalis?

Saya ini sudah menjadi wartawan sejak 1987, diantaranya media mingguan Tifa Irian, yang saya baca sejak kecil. Artikel pertama saya berjudul kitorang tahu tngkap ikan, tapi tak tahu tanam padi. Itu di muat di buletin kabar dari kampung,koran lokal Papua. Tulisan itu menceritahkan bagaimana pendatang dari jawa bisa menanam padi, sementara pribumi bisa mencari ikan.

 

“ Yang di harapkan orang Papua sebenarnya cuma telinga yang bisa mendengarkan mereka.”

******

Neles mengambil program Doktor bidang Misiologi di Universitas Kepausan Urbania. Meski Sekolah di Roma, ia bukan pecintah berat AS Roma. Neles justru kesengsem oleh klup kota mode, AC Milan, dan tentunya Persipura. Tapi ia jarang ke stadion karena lebih menikmati menyeksikan sepak bola di layar televisi. Alasannya sederhana: bisa melihat gol berulang kali. Selama di Roma setiap Rabu dan Ahad sore, Neles tidak pernah belajar dan keluar asrama. Ia selalu duduk di depan televisi menyaksikan diskusi sepak bola di televisi lokal Italia. “ saya suka melihat Dialog sepak bolah dan analisis pertandingan,” kata Neles yang menulis Makalah berjudul The Reconciling mission of the Church in west papua in the light of reconciliatio et paenitentia untuk di sertasinya.

 

Bagaimana anda melihat kasus penembakan di tingginambut, puncak jaya, dan sinak, Puncak yang menewaskan perajurit TNI dan Empat warga sipil?

Kasus itu menimbulkan banyak pertanyaan bagi warga Papua. Kalau berkaitan dengan pemilihan kepala daerah, harusnya di serang pendukung dan figur yang menang. Tapi kenapa tentara? Pertanyaannya lagi? Kalau pelaku berasal dari kampung lain. Bagaimana mereka tahu bahwa pada hari itu Tentara naik ke atas, menuju lapangan terbang dan tidak bersenjata? ini yang saya tidak mengerti. Semoga Infestigasi Polda Papua bisa mengungkapkan.

 

Lebih banyak mana, warga papua yang pro-OPM atau yang Pro – Indonesia?

Susah mengukur. Anda tanya kepada yang pro merdeka, anda akan mendapat jawaban:99 persen orang papua mau merdeka. Tapi, kalau anda tanya kepada pro Merah-Putih, jawabanya: 99 persen orang Papua itu pro NKRI.

 

Sebenarnya apa yang masyarakat papua inginkan?

Yang di harapkan orang Papua Cuma telinga yang bisa mendengarkan mereka. Ketika mereka merasa tidak di dengar itu artinya kita mau sampaikan   ke mereka bahwa mereka bukan Manusia. Tapi ketika anda duduk dan mendengarkan, mereka akan senang, merasa di terima, kerena mereka seperti memperoleh martabatnya sebagai Manusia.

 

Sumber: Dimuat pada koran Tempo Cetak, pada Minggu 17 maret 2013 halaman 10-11 di salin Oleh Kilion Wenda

 

Scroll to Top