muradi

Dialog Non-Formal Penting untuk Isu Papua

muradiMuradi (Dosen Universitas Padjajaran)JAKARTA – Pengamat Universitas Padjajaran Muradi menilai, dialog non-formal atau diplomasi publik cukup penting untuk menghadapi isu Papua. Dialog non-formal itu juga bisa mendukung kemulusan dari proses dialog formal mengenai penyelesaian masalah Papua.

 

“Ketika ada kongres dukungan Papua (Kongres Rakyat Papua), harusnya Indonesia memainkan dialog non-formal. Tetapi itu tidak terjadi,” ujar Muradi, ketika dihubungi Okezone, Selasa (7/5/2013).

 

Muradi menjelaskan, dialog non-formal terhadap isu-isu sensitif tersebut bersifat antisipatif. Muradi pun mengatakan, selama ini upaya Indonesia melakukan dialog non-formal itu masih belum kelihatan. Dengan dialog itu bisa diamati apa yang menjadi akar permasalahan dari peristiwa itu.

 

Setelah dialog non-formal berhasil dilaksanakan, Indonesia bisa menggelar dialog formal untuk membahas masalah tersebut. Dan mekanisme itu bisa terselesaikan dengan baik.

 

Ketiadaan dialog non-formal itu juga bisa mempersulit masalah yang muncul. Bisa dikatakan pula, dengan tidak adanya pendekatan, simpatisan Organisasi Papua Merdeka (OPM) berani membuka kantor perwakilan di negara manapun.

 

Terkait masalah pembukaan kantor OPM di Inggris, Muradi berpendapat bahwa isu ini tentunya sangat dipahami oleh Kementerian Luar Negeri RI. Kemlu RI harus mengawal Indonesia dalam mengatasi isu separatis tersebut.

 

Sebelumnya, Muradi juga menjelaskan berbagai langkah diplomasi yang bisa dilakukan Indonesia terhadap Inggris mengenai pembukaan kantor OPM itu. Namun pada intinya, Indonesia memang dituntut untuk tegas karena masalah ini menyangkut nama baik Indonesia sebagai negara. (AUL)

Sumber:http://international.okezone.com/read/2013/05/07/411/803358/dialog-non-formal-penting-untuk-isu-papua

Scroll to Top