Dialog, Kebenaran Bersama: Refleksi Teologi Hitam

Oleh: Ernest Pugiye*)

 

Di akhir-akhir ini, semua orang sedang mencari kebenaran demi kedamaian di Papua. Dari kaum kecil (subaltern, The social class root) sampai besar (super power), dari kaum buta huruf sampai kaum cendikiawan masih terus mencari kebenaran bersama.

 

Segala cara seperti pendekatan keamanan, kesejahteraan, kebudayaan-sosial-masyarakat dan pendekatan agama, serta dengan berbagai disiplin ilmu pengetahuan digunakan mereka untuk memperoleh realitas kebenaran. Segala kemampuan, ruang dan waktu pun dapat diatur oleh setiap kita secara sedemikian rupa sehingga kita tidak pernah merasa puas untuk mencarinya.

 

Namun esensi kebenarannya itu masih belum juga diperoleh. Kita ini masih semakin jauh dari dari apa yang dicari bersama. Realitas kebenaran hilang dalam berbagai upaya tersebut.

 

Jangankan memperoleh kebenaran, untuk membayangkan bekasnya saja amat sulit bagi kita. Lagi pula kita hilang serentak dalam realitas tersebut. Padahal jalan kebenaran berada di antara kita. Jalan Kebenaran masih bersinar dan terbentang dalam mulut kita. Jalan itulah yang biasa disebut sebagai jalan dialog.

 

Dialog itu jalan kebenaran, tetapi esensinya masih jauh dari realitas konkret ketika orang salah menggunakan proyek dialog, atau ketika pemerintah RI – Rakyat Asli Papua belum memberikan ruang dialog secara bermartab, demokratis dan damai dalam realitas masalah Papua. Yang berada hanya, objektivitas manusia hitam-puti dan duka bumi Papua-Jakarta.

 

Kenapa realitas ini dapat terjadi demikian dan bagaimana kita akan dapat menemukan suatu kebenaran bersama demi kedamaian bersama di Papua?

 

Kontraversial

Dalam realitas KEHIDUPAN Papua, pemerintah RI semakin berupaya giat untuk mempersiapkan jalan kebenaran bersama guna terwujudnya Tanah Damai di Papua.  Demi terwujudnya kedamaian di Papua, pemerintah RI dan kawan-kawan koloninya sudah dan sedang mempersiapkan jalan kebenaran. Baginya ada banyak jalan kebenaran demi menuju pada Papua Tanah damai.

 

Secara gamblang, sejumlah jalan kebenaran yang dimaksud itu yakni UU 21/2001 tentang Otonomi Khusus bagi Provinsi Papua, Otsus Plus yang hendak direalisasikan pada Agustus, 2013, pendekatan militerismen dalam menuntaskan konflik Papua, perluasan kaum Investor yang mengeksploitasi alam dan manusia Papua dan tertutupnya ruang demokrasi di Papua dan membludaknya para pekerja dari luar di Papua.

 

Semua konsep dan program ini digunakan mereka sebagai jalan kebenaran dan kebaikan bersama demi mewujudkan Papua sebagai Tanah damai.

 

Namun, kebenaran bersama menjadi hilang dan tidak pernah ter-realisasi ketika sejumlah pendekatan, konsep dan Undang-Undang itu digunakan dan direalisasikan mereka secara sepihak. Kebenaran tidak lagi menjiwai diri mereka dalam realisasi kerja dan tugas pokoknya.

 

Bayangan dari realitas kebenarannya saja tidak ditemukan mereka dalam membangun manusia asli dan alam Papua. Kondisi ini masih semakin dapat menjadi iklim harian bersama hanya karena tindak kontraversial dari pemerintah RI dalam membangun rakyat asli dan alam Papua.

 

Tindakan kontraversial sudah semakin akan ter-radikalisme dalam segala dimensi kehidupan mereka yang berkuasa ini. Dalam arti konkret itu bergini: latihan lain, mainnya lain; kerja lain, makan lain, makan di sini, buang air di tempat lain,  mimpi lain, berpikir lain; berpikir lain, berbicara lain; biacara lain, buat lain; dan buat lain dalam segala aspek, maka hasilnya pemerintah RI demi keutuhan NKRI dan eksistensi rakyat asli Papua dan alamnya demi realitas kematian.

 

Rakyat asli Papua dan kekayaan alamnya mati lemas demi meneguhkan kedaulatan NKRI. Atau realitas ‘mati’-nya bagi Papua dan realitas ‘hidup’-nya bagi pemerintah RI ini.

 

Realitas buruk itu merupakan gambaran/hasil konkret dari esensi kontraversial, yang dikonstruksikan secara sistematis dan radikal oleh pemerintah RI dan teman-teman koloninya.

 

Jika realitasnya dibikin begitu, anda tentunya tidak menginginkan dan mencintai kebenaran. Dan jika anda memang tidak mencintai kebenaran dari kedalaman diri, maka kedamaian juga tetunya tidak akan pernah tercipta secara otomotis di Papua. Bagaimana anda bisa memperoleh kebenaran dan kedamaian sementara pada saat yang sama, anda bereksistensi sebagai penganut kontraversialisme secara radikal.

 

Eksistensi pemerintah RI (Jakarta-Papua) yang sedemikian merupakan pemahaman bersama di Republik ini. Bagi kebanyakan pejabat sudah mulai kebosan-bosanan untuk tinggal, bekerja dan hidup besama dengan anda. Ketika mereka mulai melirik wajah RI ini, tindakan kebosanan dan apatismenya menjadi suatu pilihan bagi mereka. Demikian juga dengan seluruh warga sipil dan alam Papua bahwa pemerintah RI adalah Negara kontradiksialisme.

 

Anda berada sebagai kaum kontradiksial adanya. Kontradiksialismenya semakinmenjadi seluruh realitas anda sebagai NKRI. NKRI lahir dari mama dan ibu kontraversial. Anda dibentuk dan kian terus menjadi aktus dalam realitas mama kontradiksial.

 

Ini realitas konkret dan seligus realitas absolut bagi belahan dunia lain. Karena itu, kita tidak heran hanya jika pemerintah RI membangun Papua dengan berbagai program, konsep dan Undang-Undang serta berbagai kebijakan tanpa sepengetahuan rakyat asli Papua, atau tidak pernah diketahui rakyat asli Papua ketika anda merancang sejumlah karya pembangunan tersebut.

 

Semuanya itu justu melahirkan ingat penderitaan baru yang satu ke ingatan penderitaan baru yang lain secara radikalisme bagi rakyat dan bumi Papua.

 

Cinta Akan Darurat Kekerasan

Realitas kontraversial ini melahirkan cinta darurat kekerasan bagi perintah RI. Kekerasan dicintai oleh mereka karena krotraversialnya sudah menjadi denyutan kasih dalam diri pemerintah RI. Realitas denyutannya menyadarkan anda untuk memilih tindakan perlawanan terhadap seluruh eksistensi rakyat asli Papua dan bumi Papua.

 

Papua sudah akan menjadi tempat kekerasan bagi mereka, karena eksistensinya juga masih terus dipacu dan didorong oleh realitas denyutan kontraversial itu. Realitas buruk ini kemudian akan dijustifikasi oleh mereka untuk memanipulasi konflik dan kekerasan di Papua.

 

Di sinilah kita mendengarkan slogan-slogan kebenaran di seantero Papua. Slogan-slogan itu antara lain: Membangun kesejahteraan rakyat asli Papua, Damai dan kasih itu indah, menggunakan pendekatan keamanan, sosial-masyarakat dan pendekatan budaya, membangun Papua dengan hati dan kasih, orang Papua adalah mas dan emas Papua dan sejenisnya.

 

Bahkan mereka juga menggunakan stigma-stigma bermakna kontraversial yakni rakyat asli Papua adalah separatis, makar, GPK dan OTK dan tidak ber-Tuhan serta Kanibal.

 

Secara kasat mata, semua promosi dan kalimat pendek itu terlihat indah dan menggiurkan para pemirsa dan khalayak umum. Padahal hal ini sesungguhnya merupakan peralihan isu dan manipulasi data yang objektif.

 

Akhirnya setiap kita masih belum pernah menyadari siapa lawan dan siapa kawan kita. Kita juga masih belum pernah mengetahui apa sebab-musabab utama dari berbagai konflik Papua secara menyeluruh dan komprehensif. Semua kenyataan konflik dan kekerasan ini dicerna pula melalui media massa secara sedemikian rupa sehingga setiap orang mengalami kesadaran palsu dan manipulatif.

 

Realitas kontraversial yang bernuasan kekerasan itu masih semakin dilegitimati pemerintah RI dalam eksistensinya di Papua. Membangun sebuah kebenaran melalui jalan kekerasan dan konflik karena anda itu mencintai akan kekerasan dan kontradiksi. Jika anda mencintai kekerasan, maka rakyat asli Papua yang tidak bersalah menjadi korban kekerasan, seperti nyanyian derita Papua yang masih semakin tenar di Papua sekarang.

 

Martabat mereka semakin terkubur dalam mayat kekerasan anda. Tentunya, Papua duka-duka, duka-duka dan duka-duka itu akan berpotensial di Papua.

 

Hal yang paling menarik secara realistis bagi saya adalah rakyat asli  sudah lama berkorban, sedang dan akan berkorban secara sistematis, terstruktural dan radikalis itu masih terus berjuang dengan cara damai dan benar. Karena adanya rakyat asli Papua adalah makhluk berdamai dan kebenaran, maka mereka juga memperjuangkan Papua Tanah damai dengan penuh kegigihan.  

 

Mereka sungguh rela korban harta, pikiran, tubunya sendiri dan korban alam Papua walaupun dihadapkan dengan realitas kontradiksi yang bernuansa kekerasan bedil senjata, makar dan separatis serta penjara yang berujung pada realitas kematian. Bahkan korban nyawa dan Allah Papua menjadi taruhan biasa, biasa dan biasa saja bagi mereka di atas ‘Ada’-nya sendiri.

 

Mereka, lagi pula memang menjadi tidak berada dalam realitas bayangan ‘berada’ dari ‘tempo doeloe’. Dari titik inilah, kita dapat menyadari bahwa ternyata seluruh eksistensi orang dan alam Papua adalah realitas penolakan yang pernah dibikin oleh pemerintah RI. Kondisi ini pernah membekas dalam sejarah Papua.

 

Peristiwa penolakkannya atas eksistensi Papua ini juga terus-menerus diaktualisasikan secara sistematis dan tersruktur pada setiap 17 Agustus 1945-2013 di RI. Seperti halnya, Papua yang sedang hangat diwarnai dengan pesta HUT RI ke 68 pada, Sabtu 17/8/2013.

 

Peristiwa pesta HUT itu tentunya memperlihatkan penolakan yang mengakibatkan kematian kemerdekaan diri dan sekaligus kematian bagi eksistensi Papua.

 

Akhirnya realitas Papua-Jakarta mulai semakin terdampar jauh dari realitas kebenaran. Sebenarnya  realitas ini juga mau memperlihatkan ketidakberdayaan Negara RI untuk mencintai akan kebenaran bersama demi kedamaian bersama di Papua. Di sinilah Allah Pupua pun dibuat ikut mati oleh anda bersama realitas kematian itu.

 

Saya pikir, realitas penolakkan dan kontradiksi secara radikalisme dan tersistematis itu hanya dapat dijawab oleh DIALOG PAPUA-JAKARTA YANG DIMEDIASI OLEH SALAH SATU PIHAK KETIGA YANG NETRAL, DI TEMPAT YANG NETRAL PULA.

 

Kerena di dalam DIALOG, tentunya ada ‘KEHIDUPAN’ demi kedamain bersama di Papua. Jika tidak demikian, kita siap-siap saja untuk akan menerima realitas kematian di Papua.

 

*) Penulis adalah Mahasiswa STFT Fajar Timur Abepura-Papua

 

Sumber:http://majalahselangkah.com/content/dialog-kebenaran-bersama-refleksi-teologi-hitam

Scroll to Top