Dialog Jakarta Papua: Penentu Penuntasan Konflik Papua

Oleh : Ernest Pugiye

Realitas konflik Papua tidak pernah dituntaskan oleh semua orang di dunia. Kita tak pernah dapat memungkiri bahwa, semua orang, baik orang Papua, pemerintah RI, maupun orang luar hanya selalu membisu, berkecingpung dan terpukau tanpa dengan panca indra dalam kompleksitas konflik Papua. Seolah-olah konflik menjadi subjek bagi manusia.

Atau manusia hanya diadakan sebagai objek yang biasa-biasa/plat adanya, sementara konflik Papua berada sebagai subjek yang paling luhur adanya. Adanya konflik Papua sebagai subjek yang tentunya meniadakan berada-berada yang hidup dan dinamis secara aktus. Dan peniadaan manusia Papua tentunya juga terjadi secara substansial. Itu artinya manusia asli Papua berada dalam ujung konflik di mana mereka mengalami kekosongan tanpa udara, bau manusia dan tanpa bau kemanusiaan. Misalnya, 14 kasus kekerasan dari pemerintah bersama TNI/Polri yang pernah terjadi atas rakyat asli Meeuwomo di Papua, sejak 1 Januari sampai April 2013 ini. Dalam 14 peristiwa kekerasan ini telah menewaskan 24 warga asli Papua. Ini tidak termasuk bagi mereka meninggal di rumah-rumah akibat kekerasan TNI/Polri, dan yang masih ditahan di berbagai pengadilan negeri Papua. Sekarang, kekerasannya masih  terus akan berpotensi atas rakyat asli Meeuwomo-Papua. Ini sudah adanya mereka yang konkret, bukan “ada” yang bayangan dan keragu-raguan. Tapi konflik dan kekerasannya tak pernah dituntaskan sampai sekarang ini.

Padahal konflik Papua itu hanya diciptakan oleh manusia itu sendiri. Sebagai manusia, ia juga tentunya memunyai potensi yang tak terbilang untuk menuntaskan konflik Papua, sekalipun konfliknya memang terasa semakin konpleks dari hari-kehari. Namun kita mesti mengakui juga bahwa manusia tidak pernah menempatkan dan ditempatkan dirinya sebagai subjek yang mengada, mencipta dan menguasai diri, dunia dan segala isinya. Sejauh ini, mereka memang tidak pernah datang dan pulang dari asalnya sebagai berada yang hidup secara sejati. Kekuatan akal, kehendak dan tubuh sudah dan sedang menjadi tempat di mana konflik Papua bersinar, merajai dan berada secara radikal. Bahkan konflik mendominasi manusia, alam dan segala isinya yang baik adanya secara radikalisme. Wah, ini kan sia-sia namanya.

Sisi lain saya memang patut mengakui bahwa pemerintah RI sudah banyak melakukan berbagai upaya untuk menyelesaikan konflik Papua secara serius. Upaya ini dinyatakan mereka tidak hanya dengan kata-kata kudus dan suci, rencana-rencana yang tersistematis, sikap hidup yang baik tetapi juga dengan perbutan konkret. Di sinilah kita juga mengenal dengan berbagai cara dan tindakan yang direalisasikan oleh pemerintah RI yakni kebijakan UU 21/2001 tentang Otonomi Khusus (OTSUS) bagi propinsi Papua, UP4B, program Respek, dan Operasi Militer serta program Qenosida dan konsep komonikasi kontruksif bagi orang Papua. Pemerintah RI mungkin juga akan mengupayakan beberapa program dan upaya lagi.

Dalam konteks di atas ini, Gereja, baik Gereja Papua, Gereja Roma, maupun Gereja-gereja sedunia juga tidak mau kalah. Mereka juga tentu mendukung kinerja kerja dari pemerintah RI dalam ruang dan waktu tertentu. Mereka sudah menerapkan banyak pola pastoral yang berorientasi untuk menuntaskan konflik Papua. Pola-pola pastoral itu lebih menekankan pada empat dimensi yakni pemberdayaan ekonomi rakyat dan peningkatan soal financial, peningkatan persatuan dan pengembangan iman Gereja serta karya pengudusan bagi manusia Papua. Semua upaya ini dihayati secara sedemikian rupa sehingga manusia tidak dapat dijadikan sebagai objek dari konflik Papua. Tujuannya hanya satu yakni martabat manusia diselamatkan dan Allah dimuliakan di sana sini. Tujuan luhur ini tentunya juga melahirkan nilai-nilai dan prinsip-prinsip universal dan fundamental yakni kebebasan, keadilan dan kebenaran serta kedamaian, solidaritas, kesatuan dan subsidiaritas bagi orang Papua, sesama dan dunianya. Tapi kenapa sampai kini, ada begitu banyak konflik dan kekerasan di Papua?

Cinta Akan Kekerasan

Realitas konflik Papua ini dapat bertumbuh subur dalam berbagai aspek kehidupan konkret karena pemerintah RI dan kaki tangannya mengadakan dirinya sebagai pencinta kekerasan. Kekerasan harus dicintai mereka sebagai realitas tertinggi bagi mereka dalam hidup praktis. Karena adanya mereka adalah pencinta kekerasan, maka segala bentuk kekerasaannya sudah tentu terpatri  dalam diri mereka. Adanya mereka ini selalu berpotensi untuk mengadakan diri, sesama dan dunianya sebagai hamba kekerasan sejati. Itu artinya mereka adalah awal, tengah dan akhir dari realitas kekerasan itu. Substansi dari segala bentuk kekerasan adalah mereka. Mereka adalah penyangka realitas kekerasan. Tanpa kekersan mereka tidak berada sebagai berada yang seharusnya sebagaimana dikehendakinya sendiri.

Mereka yang berkehendak tinggi dan bulat untuk mencintai pada kekerasan ini semakin hidup dalam kesadaran yang sistematis, radikal dan terkoheren. Hal ini hendak menandakan bahwa pengetahuan dan kesadaran mereka akan kekerasannya itu tentu tidak pernah diajarkan oleh orang lain atau ada-ada yang lain. Pengetahuan tentang kekerasan yang dianggap sebagai realitas tertinggi itu diketahui secara alamiah dari diri mereka sendiri. Kesadaran seperti ini sudah, sedang dan akan terus terpatri dalam dan dengan kekerasan yang dicintainya karena realitas kekerasan memang sudah terinspirasi, terurapi dan terilhami bagi mereka dan dunianya. Bahkan mereka adalah pra-substansi dari realitas kekerasan itu. Mereka lagi pula ada dari akhir ke akhir kekerasan itu.

Keberadaan mereka semacam ini amat jelas hanya jika kita mengukik kembali sejarah dan dunia rakyat Papua dalam bingkai NKRI selama lima decade itu. Ketika rakyat Papua dikuasai oleh pemerintah RI pada lima decade yang lalu sampai kini, maka mereka memperlihatkan diri sebagai pencinta kekersan. Jika pemerintah RI dan pemimpin Gereja adalah pencinta kekerasan, maka Allah mereka pun tentunya berada sebagai pembunuh, kekerasan, penolak dan sejenisnya. Allah yang adalah pembunuh, penindas, penjajah, pengeras, penolak dan pembantai inilah yang diawartakan dan diadakan oleh mereka bagi orang asli Papua dan alam Papua. Pewartaannya diperteguh dan dicernai secara timbal balik dengan membangun negara dan Gereja bagi eksistensi orang asli Papua di negeri ini. Seperti yang dialami oleh orang dan alam Papua di detik ini. Mereka masih melantungkan nyanyian derita tanpa henti. Semua orang menderita dan dideritakan juga tra tahu menerjemahkannya. Semuanya membuat dan dibuat dirinya menjadi kaum buta bagaikan ikan cakalan di Pasar. Apalagi hendak berusaha untuk menuntaskannya. Itu namanya hal baru bagi mereka-mereka yang dianggap pandai dan bijak oleh dunia ini.

Akibatnya Eksistensi rakyat Papua mulai terus-menerus mendaraskan lagu derita Papua, bukan lagu tanah Papua sebagai pulau yang indah/permai. Derita Papua selalu didaraskan secara beragam mulai dari suara batin, bisikan mulut sampai dengan berteriak di seantero Papua ini. Realitas teriakan derita dan tangisan orang asli Papua dan dunia sekitarnya masih semakin bersemarak dalam Bhineka Tunggal Ika, katolik dan apostolik Papua. Bahkan Keikaan, Katolik dan Apostolik pun semakin menjadi bingkai jitu yang meneguhkan derita Papua. Ini dong puu bingkai yang justru memperparah lagu derita Papua dalam segala aspek kehidupan konkret.

Agar lagu derita itu terus-menerus dilantungkan, maka pemerintah Indonesia lagi pula membungkus eksistensi orang Papua dan dunianya dengan dan dalam pola-pola yang bernuansa kekerasan. Menurutnya berbagai pendekatan ekonomi, politik dan pendekatan militerisme sebagai mantel kekerasan yang paling ampuh, ajaib dan jitu ini hanya dapat menuntaskan konflik Papua. Tapi semua pola kekersan sebagaimana yang dinyatakan selama ini tidak pernah menuntaskan konflik Papua. Dong mau bilang Otsuskah, UP4B, Respekkah atau KTP-E itu sama saja. Ini namanya inkarnasi Negara Kesatuan Repoblik Iblis bagi eksistensi orang asli Papua. Maka itu saya berani mengatakan bahwa mereka berada sebagai berada yang mencipta konflik Papua. Mereka hidup dari konflik Papua. “Kehidupan” dirasa, disadari dan diimani sebagai cetita mati bagi mereka. Mereka ada sebagai makhluk hidup hanya jika konflik Papua tidak lagi dituntaskan secara damai. Ituuuu lagi!

Keluar dari Kotak Kekerasan

Dengan menyadari situasi konkret yang tidak berbhineka tunggal ika ini, maka kedua bela pihak yang berkonflik dan bermasalah ini seharusnya keluar dari adanya masing-masing. Keduanya keluar bukan dari ada-ada yang sejati, melainkan dari ada yang tidak ada ini yakni konflik Papua dalam bingkai NKRI, NKRI dalam bingkai Papua ini. Konflik Papua dan segala ada-ada yang serba semu ini mesti dibuang di dunia bawah sana. Artinya kou dan saya tidak perlua bawa unsur material dan politik dalam proyek dialog damai nanti. Ini betul. Misi keluar dari anda berdua ini hanya untuk berdialog sebagai Bhineka Tunggal Ika. Sebagai pribadi yang berbhineka tunggal ika, maka tidak pernah ada istilah darah merah dan putih di antara dorang dalam proyek dialog damai ini. Sekarang, bukan saatnya untuk memutar lagu lama ituu. Dialog ini bukan lagi mau bicara soal hitam dan puti. Dialog damai justru selalu mempertemukan orang Papua dan pemerintah RI sebagai subjek dan bukan sebagai ojek atas konflik Papua. Kamorang itu hanya mau bica konflik-konflik Papua. Tong tetap satu moo!

Cepat atau lambat, dialog damai harus dilakukan orang Papua dan pemerintah Jakarta, karena yang berkonflik dan bermasalah selama ini adalah mereka berdua. Konflik Papua ini harus dibicarakan melalui dialog damai karena dialog adalah juga penentu konflik Papua. Jika dialog damai adalah penentu konflik Papua, maka dialog juga adalah realisasi konkret dari sebuah proyek Papua Baru. Dialog adalah pula pengantara antara pemerintah Jakarta-Papua, antara Allah dan manusia, pengantara antara surga dan bumi. Ini sudah bangsa Papua pu Allah. Kulit-Nya hitam, rambut kriting dan adanya nilai-nilai ke-Allahan hanya dapat ditemukan dalam dialog. Lagi-lagi, Dia bertindak langsung secara inspiratif-konkret dalam dan melalui Neles Tebay dan Konsepnya bagi kitong di Papua-Jakarta. Itu sudah lagi!

Allah Papua yang memperlihatkan diri-Nya dalam diri Pater Neles Tebay dengan konsep moralnya inilah yang harus diimani, disadari dan dicintai serta dimiliki oleh orang Papua-Jakarta. Alam Papua, Neles bersama rakyat Papua memang tidak pernah memiliki Allah yang diwartakan Gereja Roma dan pemerintah RI selama ini. Dong puu Allah itu pembunuh dan diam. Tapi Allah orang Papua Sang Pendamai. Ia traa mau bikin jagoo terhadap semua orang. Dan Dia tentunya akan membimbing kitorang semua sebagai anak-anak-Nya agar dapat terbangun dialog damai di antara kita yang berkonflik ini. Karena itu dalam proses dialog kita dimungkin-Nya untuk bekerja sama dengan siapa saja yang berkehendak baik demi kedamaian Papua.  Makna kebersamaan ini lagi pula akan dinyatakan dengan melibatkan pemerintah luar negeri sebagai pihak mediator. Ini tentunya akan menjadi suatu kewajiban bersama.  Karena berbagai masalah dan konflik Papua ini dapat dituntaskan hanya apabila terjadi dialog antara kedua bela pihak yang berkonflik dan dengan dimediasi oleh salah satu pihak dari luar negeri. Ini sudah jalan penentu bagi konflik Papua. Dialog tetap selalu “Waaah…aaah…waaah” buat kitong demi “Waaaahhhh”, kedamaian bersama di Papua.

Penulis adalah Mahasiswa STFT Fajar Timur Abepura-Papua

Scroll to Top