Dialog Jakarta Papua Butuh Pemahaman Bersama

Jayapura – Johanes Wob, ketua Dewan Adat Daerah Merauke mengatakan, dialog Jakarta Papua dapat terlaksana apabila dua pihak yang bertikai paham mengenai kondisi Papua. “Kita tidak bicara hasil dari dialog itu hanya untuk orang asli saja, tapi untuk semua yang hidup di Papua. Memang benar bahwa orang asli yang menginginkan itu, tapi apakah kemudian para pendatang harus dikesampingkan?” kata Wob di Jayapura, Jumat. Ia mengatakan, dalam perjalanannya, rencana menuju dialog Jakarta Papua telah mengalami kemajuan besar. Presiden SBY yang dulunya tabu mengucap kata dialog, kini sudah lebih akrab. “Sebelumnya kan orang Jakarta maunya komunikasi konstruktif, tapi kemudian mereka mau ada dialog, ini langkah maju, sekarang bagaimana kita orang Papua mempersiapkan ini dengan baik,” ujarnya.

 

 

Menurut dia, dialog bukan ajang memicu konflik. Jangan melihat juga pertemuan skala kecil antara pemerintah dengan masyarakat sebagai dialog sebenarnya. “Dialog itu seperti yang Aceh lakukan, ada pihak ketiga, dilakukan ditempat netral, ada dua pihak yang bertikai, yaitu OPM dan pemerintah Indonesia. Kalau dialog dan melibatkan pemerintah Papua, itu namanya duduk-duduk, karena ujung-ujung sudah jelas,” paparnya.

 

Koordinator Jaringan Damai Papua, Pastor Neles Tebay mengatakan, Papua damai tidak akan tercapai lewat kekerasan. “Kami menolak kekerasan dan lebih mengedepankan dialog,” ucapnya. “Kalau ada masalah Merah Putih dan Bintang Kejora, kenapa ini tidak dibicarakan?, itulah sebabnya perlu ada dialog,” katanya lagi.

 

Tebay menegaskan, dialog menjadi alternatif terbaik menyelesaikan persoalan Papua. Dialog adalah jembatan bagi penuntasan dua pihak bermasalah. “Yang bermasalah yaitu Merah Putih dan Bintang Kejora. Jadi bukan untuk semua orang, kalau yang merasa merah putih, silahkan ambil pilihan itu, misalnya MRP, mereka dilantik dibawah Merah Putih, jadi tidak bisa berpindah ke Bintang Kejora,” katanya.

 

Begitu pula sebaliknya, jika ada pihak yang merasa sebagai bagian dari ‘Bintang Kejora’, mereka yang berhak ikut dalam dialog. “Saya orang NKRI, JDP hanya jembatan, bukan kami yang nantinya akan ikut dalam dialog, kami hanya fasilitator,” pungkasnya.

 

(JO/Jayapura)

 

Source:http://www.aldp-papua.com/?p=8053

 

Scroll to Top