Buku Dialog Papua Diluncurkan

Tabloid Reformata : 30 Mei 2012.

Membicarakan Papua selalu saja tidak pernah selesai. Selasa, (29/5/12) kemarin, diluncurkan buku berjudul “Angkat Pena Demi Dialog Papua” ditulis seorang Pastor, Neles Kebadabi Tebay. Buku ini sebebarnya kumpulan artikel, opini, tetang dialog Jakarta-Papua sejak tahun 2001-2011.

Bertempat Ballroom Hotel Akmani, Jalan Wahid Hasyim No. 91, Jakarta Pusat. Acara ini digelar oleh Interfidei. Hadir pembicara Dr. Thamrin Amal Tomagola sosiolog dari Universitas Indonesia, Tri Agung Kristanto wartawan Kompas, Ahmad Suaedy, Direktur Eksekutif The WAHID Institute.

Di dalam buku ini juga aa kutipan para tokoh agama. Dr A A Yewangoe mengatakan, “Sebagai gereja-gereja kita merasa terpanggil melibatkan diri dalam berbagai upaya guna tercapainya perdamaian abadi di tanah Papua, di mana keadilan dan kesejahteraan sebagai sungguh-sungguh diwujudkan dalam kehidupan nyata,” ujarKetua Umum Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia, ini.

Professor Franz Magnis Suseno dalam kutipan endorment dalam buku ini menyebutkan, buku Romo Neles Kebadabi Tebay ini “bagaikan embun” yang menyejukkan. Tahun 1992 ketika Romo Neles Kebadabi Tebay titahbiskan sebagai iman dalam Gereja Katolik, ia diberi nama adat “Kedababi”yang dalam bahasa Mee berarti “orang yang menemukan pintu atau jalan.”

Sementara itu, dari cendikiawan Islam, Professor Azyumardi Azra mengatakan saya sependapat dengan yang ditawarkan romo dalam buku ini, bahawa dialog dapat membuka jalan menuju perdamaian, kedamaian, dan kesejahteran rakyat di Papua.

Memang, buku ini bukan buku provokatif untuk menggugah orang simpati pada Papua, tetapi membawa perenungan bahwa jalan dialog adalah satu-satunya solusi terbaik bagi Papua. Dialog yang artinya duduk sama rendah, berdiri sama tinggi.

***Hotman J Lumban Gaol

Scroll to Top