Ada Harapan Damai

Dalam gegap gempita Natal, tidak semua orang dapat merayakannya dengan gembira karena bencana buatan manusia atau bencana alam. Banyak orang bahkan merasa putus asa karena konflik dan penderitaan yang berkepanjangan. Harapan akan perdamaian telah sirna.

Kita menyaksikan atau mengalami sendiri keutuhan keluarga yang hancur dan tercerai-berai. Masyarakat sipil terpecah, konflik komunal berulang terjadi. Sebagian bahkan memilih berpisah daripada berdamai dan bersatu kembali.

Negara tidak luput dari ancaman perpecahan, contohnya Suriah. Demikian pula di Indonesia. Konflik antara pemerintah pusat dan Organisasi Papua Merdeka (OPM) telah berlangsung selama lebih dari empat dekade, dan hingga kini belum dicarikan solusinya.

Ketika dialog Jakarta-Papua dikampanyekan, aksi kekerasan seperti penembakan meningkat jumlahnya sepanjang tahun 2012. Akibatnya, banyak orang kehilangan harapan akan adanya dialog Jakarta-Papua. Di semua level, dialog dan negosiasi belum dilihat sebagai jalan menuju perdamaian.

Para pihak yang bertikai seakan kehilangan akal sehat. Mereka belum bersungguh-sungguh memperlihatkan niat untuk bertemu, berdialog, dan bernegosiasi untuk mencari solusi damai. Akibatnya, kerugian materi, fisik, dan mental terus dialami.

Dalam situasi seperti itu, peristiwa kelahiran Yesus, Sang Raja Damai, membawa harapan perdamaian. Harapan ini terbuka karena Sang Raja Damai datang ke dunia, menjadi manusia, dan tinggal di antara manusia. Peristiwa kelahirannya adalah keteladanan tentang kerendahan hati dan sikap terbuka.

Dia sudi tinggal bersama setiap orang tanpa diskriminasi. Dia bertakhta dalam hati setiap manusia. Maka, dari hati yang penuh damai itu akan lahir kemungkinan-kemungkinan baru bagi perdamaian.

Kekerasan tidak lagi menjadi kata akhir karena Natal membuka pintu harapan akan perdamaian. Natal mewartakan damai dapat diciptakan.

Natal memberi keyakinan bahwa dari tengah konflik muncul pribadi-pribadi yang bersahaja dan rendah hati untuk perdamaian. Kehadiran mereka memancarkan secercah harapan perdamaian di tengah keluarga, agama, masyarakat, dan negara yang tengah mengalami konflik. Pekerjaan mereka tidak selalu mendapatkan dukungan dari banyak pihak, tetapi mereka mengabdikan diri secara sukarela demi perdamaian dan persekutuan. Para perajut perdamaian ini menyebar di semua ras, negara, agama, dan suku.

Mereka boleh jadi siapa saja, entah dari rakyat kebanyakan, tokoh, ataupun pemimpin pemerintahan. Oleh sebab itu, keluarga, masyarakat, dan negara yang hidup dalam konflik, perpecahan, dan perseteruan boleh mempunyai harapan akan perdamaian. Sekalipun kekerasan seakan semakin kuat, jalan dialog demi perdamaian selalu masih terbuka.

Keluarga, masyarakat, dan negara yang hidup dalam konflik, perpecahan, dan perseteruan boleh mempunyai harapan akan perdamaian. Sekalipun kekerasan seakan semakin kuat, jalan dialog demi perdamaian selalu masih terbuka.

Tidak ada kata ”tidak bisa” atau ”tidak mungkin” bagi perdamaian. Natal membuka harapan akan perdamaian melalui dialog. Untuk itu, perlu kerendahan hati, sikap terbuka, dan tidak sombong.

Neles Tebay Dosen STFT Fajar Timur, Abepura

Sumber :http://internasional.kompas.com/read/2012/12/24/0223098/Ada.Harapan.Damai#komentar

Scroll to Top